GUNUNGKIDUL - Di usia 10 tahun, Gretta Olla Desfella Rama sudah tahu pasti apa yang ia sukai yaitu menggambar di atas keramik. B
ukan kertas atau kanvas seperti anak-anak seusianya, bocah asal Tambakromo, Ponjong itu justru menemukan kebebasan berimajinasi lewat pecahan keramik yang ia lukis sendiri.
Hobi unik itulah yang mengantarkannya menjadi salah satu seniman cilik undangan dalam pameran seni rupa “Kabar Dari Laut” di Sanggar Lumbung Kaweruh, Kalurahan Petir, Rongkop.
“Saya tertarik dengan keramik,” ujar Gretta kepada Radar Jogja, Kamis (29/5).
Perempuan cilik kelas empat sekolah dasar itu beralasan bahwa melukis di media keramik karena memudahkan dirinya dalam menggradasi warna dibandingkan pada media konvensional lainnya.
Proses pencarian bakat ini, dilakukan Gretta seorang diri. Meski, sebelumnya bakat menggambar diawali dari media di atas kertas.
“Lebih enak (menggradasi warna di media keramik) daripada di kertas atau kanvas,” ungkapnya.
Sebagai anak-anak, Gretta tentu tak melupakan dunianya yang penuh permainan. Ia tetap senang bermain bersama teman-teman seusianya.
Namun, di tengah kesibukannya berkarya, Gretta sudah belajar membagi waktu antara bermain dan melukis.
Sepulang sekolah, ia lebih dulu menghabiskan waktu dengan keramik dan cat akrilik kesayangannya.
Setelah puas menuangkan imajinasi, barulah ia bermain bersama teman-temannya di sekitar rumah.
Menjelang malam, ketika suasana mulai tenang, Gretta kembali duduk di depan potongan keramik melanjutkan lukisan yang belum selesai atau memulai karya baru.
“Cara bagi waktu ya sekolah dulu, baru menggambar,” kata Gretta sambil tersenyum.
Dari ketekunannya itu, kini Gretta dipercara sebagai seniman cilik undangan dalam pameran seni rupa “Kabar Dari Laut” di Sanggar Lumbung Kaweruh, Kalurahan Petir, Rongkop, Gunungkidul.
Dia membawa dua karya untuk dipamerkan. Pun dari puluhan karya anak-anak, hanya dirinya yang menggunakan keramik sebagai media lukis.
Saat ditemui di ruang pameran, Gretta menunjukkan dua karyanya yang berjudul Perempuan dan Memandang Prahu Pulang.
Dua karya ini merupakan letupan imajinasi Gretta saat diajak turut serta dalam pameran “Kabar Dari Laut”.
Ia mengaku, awalnya mencari sendiri referensi lukisan di internet. Setelah melihat-lihat berbagai gambar, akhirnya Gretta menggambar seorang perempuan yang memandangi lautan.
Pun sesuai pengalamannya sebagai seorang bocah, Gretta seringkali memandangi lautan ketika berkunjung ke pantai. Karya inilah yang diberi judul Perempuan oleh Gretta.
“Saya mencari lukisan yang cocok buat di lukis di keramik yang saya bisa,” jelasnya.
Gretta juga menceritakan bagaimana prosesnya menggambar Memandang Perahu Pulang.
Menurutnya, karya ini tercipta secara alami berdasarkan imajinasinya. Gretta kembali mengingat, waktu itu dirinya mencoba berimajinasi tentang lautan.
Akhirnya Gretta kepikiran hendak menggambar langit berwarna merah. Lebih lanjut, Gretta menambahi goresan yang membentuk gelombang laut, kapal, dan seorang bocah perempuan yang duduk di atas karang melihat kapal di atas laut. “
Proses ini menggambarkan imajinasi saya,” tutur Gretta.
Ibunda Gretta Wiji Astuti mengaku sudah mengenali bakat anaknya sejak usia Gretta baru dua tahun.
Kala itu, ia sering melihat putrinya asyik menggambar lebah di atas kertas. Seiring waktu, kegemaran itu berkembang.
Saat Gretta mendapat tugas menggambar di sekolah PAUD, ia justru memilih media yang tak biasa yaitu keramik.
Bahkan, suatu hari sepulang sekolah, Wiji sempat bertanya apa yang dibawa Gretta. Tanpa ragu, bocah kecil itu menjawab bahwa ia baru saja mencari potongan keramik untuk dilukis.
Baca Juga: Polisi Benarkan Penganiayaan Santri di Ponpes Ora Aji, Sudah Ada 13 Tersangka tapi Belum Ditahan
“Waktu itu saya tanya, terus Gretta bilang, ‘Saya mau menggambar di keramik’,” kenang Wiji.
Awalnya, Wiji belum memberikan fasilitas apa pun. Gretta berproses sendiri mengumpulkan pecahan keramik, membersihkannya, lalu mulai melukis dengan alat seadanya.
Lama-kelamaan, Wiji melihat anaknya begitu menikmati proses tersebut. Ia pun mulai mendukung sepenuhnya hobi putrinya itu.
“Sejak saat itu saya mulai fasilitasi. Saya belikan cat akrilik, jadi bisa langsung melukis di keramik,” ujar Wiji. (cr1/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita