RADAR JOGJA - Desa Lamalera berada di pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Desa ini terkenal karena cara tradisional nelayan dalam menangkap ikan paus.
Aktivitas berburu ini telah berlangsung selama 500 tahun dan masih berlangsung hingga kini.
Dalam aktivitas ini, mereka hanya menggunakan Kaobo, yaitu perahu layar tradisional, dan lebu, yaitu tombak yang ujungnya terbuat dari baja.
Perburuan ini dilakukan hanya antara bulan Mei sampai September.
Desa Lamalera menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan bahari yang menarik di Pulau Lembata, bahkan di seluruh Indonesia.
Budaya penangkapan ikan paus oleh nelayan tradisional menjadi daya tarik utama.
Desa Lamalera terbagi menjadi A dan B, yang juga dikenal sebagai Tetilefo dan Lalifata.
Lamalera A berada di sebuah bukit di arah Barat, terdapat gereja Katolik yang besar dan kuburan penduduk Lamalera A dan B.
Sementara itu, Lamalera B terletak di tepi pantai di teluk Lamalera yang cukup kecil, di mana terdapat rumah-rumah untuk menyimpan peledang sebelum dan sesudah digunakan oleh para nelayan.
Sebelum melakukan berburu, warga Desa Lamalera melaksanakan serangkaian upacara adat dan ritual.
Ini termasuk doa dan tarian khas sebagai penghormatan kepada leluhur dan laut.
Upacara ini adalah bagian integral dari kehidupan mereka yang mencerminkan kearifan lokal yang sangat kaya.
Dengan adanya pariwisata, Desa Lamalera telah menjadi tempat wisata yang unik dan menarik.
Banyak pengunjung yang berminat dan datang ke Lamalera untuk melihat aktivitas nelayan tradisional di sana.
Namun, berburu paus di Desa Lamalera juga menjadi isu kontroversi.
Masalah keberlanjutan dan keprihatinan mengenai keseimbangan ekosistem laut memberikan tantangan baru bagi desa ini.
Meski begitu, masyarakat Lamalera mulai menyadari pentingnya pelestarian dan menjaga keseimbangan alam.
Dengan meningkatnya minat terhadap warisan budaya lokal dan kehidupan pedesaan, Desa Lamalera merasakan arus kedatangan turis.
Desain rumah tradisional di Desa Lamalera menciptakan suasana yang khas.
Bangunan yang memiliki atap jerami dan dinding kayu menyatu dengan alam sekitarnya.
Desa ini dikelilingi oleh keindahan laut dan pegunungan, menawarkan pemandangan yang menakjubkan.
Dengan sikap yang terbuka terhadap pariwisata yang bertanggung jawab, Desa Lamalera memiliki peluang untuk memperbaiki ekonomi lokalnya.
Para pengrajin dan pemandu wisata dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ini. (Oktavian Marionoven L)
Editor : Meitika Candra Lantiva