RADAR JOGJA - Mihailo Tolotos adalah seorang biarawan Ortodoks Yunani yang dikenal karena menjalani seluruh hidupnya tanpa pernah melihat seorang perempuan pun.
Kisah hidupnya yang unik terjadi di Gunung Athos, Yunani, sebuah wilayah monastik yang telah melarang kehadiran perempuan selama lebih dari seribu tahun.
Awal Kehidupan dan Pengasuhan di Biara
Tolotos lahir sekitar tahun 1856.
Tragisnya, ibunya meninggal hanya empat jam setelah melahirkannya, dan tidak ada anggota keluarga yang mengklaimnya.
Akhirnya, ia ditinggalkan di depan sebuah biara di Gunung Athos dan dibesarkan oleh para biarawan di sana.
Sejak kecil, Tolotos hidup dalam lingkungan monastik yang ketat, mengikuti kehidupan asketik yang menekankan doa, puasa, dan kerja keras.
Larangan Perempuan di Gunung Athos
Gunung Athos adalah pusat monastik Ortodoks yang telah ada sejak abad ke-9 dan terkenal karena aturan ketatnya yang melarang masuknya perempuan.
Larangan ini, yang dikenal sebagai "Avaton," telah diberlakukan sejak tahun 1060 dan masih berlaku hingga saat ini.
Tujuannya adalah untuk menjaga kesucian dan kehidupan selibat para biarawan.
Bahkan hewan betina, kecuali kucing, dilarang masuk ke wilayah ini.
Baca Juga: Menkes Jelaskan Mengapa Vaksin TBC Penting, Ungkap Sampai Dipanggil Wapres Gibran Rakabuming Raka
Kehidupan Terisolasi dan Kematian
Tolotos menghabiskan seluruh hidupnya di dalam komunitas monastik Gunung Athos tanpa pernah meninggalkan wilayah tersebut.
Ia tidak pernah melihat mobil, pesawat, atau bahkan film.
Ketika meninggal pada tahun 1938 pada usia 82 tahun, para biarawan memberinya pemakaman khusus, meyakini bahwa ia adalah satu-satunya pria yang meninggal tanpa pernah melihat seorang perempuan.
Kontroversi dan Legenda
Meskipun kisah Tolotos menarik, beberapa sejarawan meragukan kebenarannya.
Tidak ada catatan sejarah yang pasti tentang keberadaannya, dan beberapa aspek ceritanya mungkin telah dibesar-besarkan atau menjadi legenda dari waktu ke waktu.
Warisan dan Refleksi
Kisah Mihailo Tolotos mencerminkan kehidupan yang didedikasikan sepenuhnya untuk spiritualitas dan pengasingan dari dunia luar.
Terlepas dari kebenaran historisnya, cerita ini menyoroti komitmen luar biasa terhadap kehidupan monastik dan prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi di Gunung Athos. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva