GUNUNGKIDUL - Sebelum korek gas membanjiri pasar, ada satu korek api yang tak tergantikan, yakni korek sumbu.
Produk sederhana ini dulu begitu akrab di kehidupan masyarakat.
Warga Bobung, Putat, Patuk, Wasimo, 72, masih ingat betul masa-masa dia menjual korek sumbu yang dibeli dari Pasar Piyungan, Kabupaten Bantul pada era 1980-an.
“Berangkat jam tiga pagi, naik mobil rame-rame bersama pedagang lain. Sampai pasar jam enam, pulang baru jam sembilan,” kata Wasimo pada Minggu (11/1/225).
Saat itu, ongkos perjalanan ke pasar hanya Rp 5.000 pulang-pergi.
Berikut membeli barang dagangan lainnya, ayah satu anak itu bersama istri kulakan korek sumbu dari bahan blek (lembaran logam tipis).
"Dipakai perokok iya, buat menyalakan kayu bakar tungku dapur juga iya," kenangnya sambil tertawa kecil.
Menurutnya, korek sumbu punya cara kerja simpel. Korek tersebut terbukti mampu menghasilkan api stabil dan awet.
"Kuncinya ada di sumbu dari bahan kapas ditetesi minyak tanah pada bagian ujung," ucapnya.
Ujung sumbu yang basah oleh bahan bakar kemudian disulut menggunakan percikan api dari batu api yang digesekkan ke roda logam.
Jika ingin memadamkan, cukup tiup api.
Baca Juga: Fitur Canggih Sesuai Nama, New PCX 160 Roadsync Siap Jadi Primadona
Namun, semua berubah ketika korek gas masuk ke pasaran.
Perlahan tapi pasti, korek sumbu mulai tersingkir.
“Rek blek mulai hilang, digantikan korek sekali pakai,” ungkapnya.
Meski begitu, korek sumbu masih punya tempat di hati mereka yang merindukan masa lalu.
Kini, korek sumbu tinggal cerita.
Tapi bagi generasi yang pernah merasakannya, benda kecil itu bukan sekadar alat, melainkan saksi bisu kehidupan penuh perjuangan dan kesederhanaan. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin