RADAR JOGJA - Bagi yang menonton film Madagascar, baik film maupun serial, tentu familiar dengan sosok Julian yang mengakui raja dan senang menari.
Rambutnya berwarna abu-abu serta ekor mengembang dengan motif hitam-putih.
Karakter Raja Julian dalam dunia nyata adalah seekor primata endemik di pulau Madagaskar dan sekitarnya.
Primata ini disebut Lemur Ekor Cincin.
Sesuai bukan dengan panggilan dari salah satu karakter penguin mata-mata, Skipper kepada Raja Julian?
Lemur ekor cincin memiliki nama latin, yaitu lemur catta.
Hewan ini adalah salah satu species lemur atau Lemuroidea.
Ciri khas lemur ini tentu saja ekor panjang berambut tebal dengan belang garis hitam-putih.
Ekor ini panjangnya dapat mencapai kurang lebih 56 sampai 63 sentimeter.
Garis hitam-putih pada ekornya terlihat seperti susunan cincin yang rapi sesuai dengan namanya.
Ekor unik ini bukan hanya sekadar ciri khas fisik semata, tetapi juga memiliki banyak kegunaan.
Ketika hendak melompat untuk berpindah ke cabang pohon lain, ekor lemur spesies ini membantu menjaga keseimbangan.
Ekor lemur ini dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi bagi mereka.
Berhubungan dengan coraknya yang unik, ekor ini dapat menjadi semacam sinyal visual kelompok dari jarak jauh sehingga memudahkan mereka di kepadatan habitat sehingga hubungan antar kelompok terjaga dan terhindar dari predator yang mengancam.
Ekor lemur ini juga menunjukkan dominasi atau status sosial di antara kelompok dengan cara mengangkat ekor tingi-tinggi pertanda peringatan.
Meskipun lemur ekor cincin menggunakan ekor dalam berkomunikasi, ternyata lemur ekor cincin memiliki kemampuan komunikasi yang komplek.
Menurut Smithsonian National Zoo, Lemur ekor cincin pun menggunakan gestur tubuh, mimik wajah, suara, maupun kelenjar tubuh yang meninggal bau khusus dengan fungsi masing-masing.
Contohnya, ketika ada predator yang datang, lemur menggunakan suara sebagai pengingat agar segera pergi berlindung.
Selain ekor, ciri khas yang dimiliki lemur ekor cincin adalah rambut yang tebal berwarna abu-abu.
Wajah mereka ditutupi rambut putih dengan beberapa titik hitam di dekat daerah mata maupun hidung.
Lemur ekor cincin memiliki tubuh yang berukuran sekitar 36 sampai 42 sentimeter.
Sama hal dengan jenis lemur lainnya, Lemur ekor cincin juga memiliki dua lidah.
Lidah utama yang terlihat jelas yang memiliki fungsi selayaknya indra mengecap atau perasa.
Lidah sekunder atau sublingua yang berwarna putih dengan bentuk runcing layaknya sikat jika dilihat dari dekat.
Lidah sekunder ini awalnya dianggap oleh ilmuwan pada awal abad ke-20 tidak berfungsi apapun dan merupakan sturuktur sisa dari evolusi semata.
Akan tetapi, penelitian baru menunjukkan bahwa lidah sekunder lemur yang berbentuk sikat berguna untuk membersihkan gigi lemur dari sisa makanan dan serpuhan kotoran dari bulu.
Selayaknya jenis primata, lemur ekor cincin memang memiliki kemampuan yang baik dalam memanjat pohon.
Uniknya, meskipun dapat memanjat pohon, kelompok ekor cincin sering ditemukan berjalan di tanah baik mencari makanan atau menandakan daerah kekuasaan mereka.
Dikutip dari laman National Geographic, kebiasaan lemur ekor cincin ini dirasa aneh bila dibandingkan dengan keluarga lemur lainnya.
Namun, kebiasaan mereka berjalan di tanah membuat lemur ekor cincin menjadi salah satu species hewan dengann kemampuan adaptasi yang fleksibel.
Lemur ekor cincin dapat tinggal dengan habitat dengan jenis yang berbeda-beda seperti hutan galeri hingga semak belukar dan memungkinkan lebih bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang tidak menentu.
Kemampuan adaptasi inilah membuat kelompok lemur ekor cincin termasuk pemakan segalanya atau omnivora, mereka dapat memakan buah-buahan, bunga, getah pohon, daun, dan serangga.
Sehubungan dengan fleksibelitasnya, lemur ekor cincin dapat tidur dengan berbagai posisi dan kondisi tempat dari atas pohon hingga celah-celah batu.
Mereka dapat tidur secara berkelompok sehingga dapat menjaga kehangatan serta perlindungan sebagai cerminan adaptasi sosial bagi kelangsungan hidup mereka.
Kelenjar yang disebutkan sebelumnya sebagai alat komunikasi terletak di pergelangan tangan dan dada.
Kelenjar tersebut menghasilkan bau yang menyengat.
Mengutip dari laman National Geographic, kelenjar yang dihasilkan tubuh lemur ekor cincin digunakan sebagai penanda territorial kelompok untuk membedakan dengan kelompok yang lain.
Tidak hanya itu, kelenjar ini juga dimanfaat oleh lemur jantan ketika musim kawin untuk menarik perhatian pasangannya sekaligus menunjukkan dominasi dengan menngoleskan kelenjar pada ekor dan dikibaskan ke udara.
Meskipun, lemur ekor cincin jantan menunjukkan dominasi kelompoknya, nyatanya secara hirarki kelompok, betinalah yang menduduki puncak tertinggi.
Bahkan meskipun lemur betina dengan posisi terendah sekalipun tetap lebih tinggi daripada jantan.
Betina akan menetap pada wilayah dengan kelompoknya sejak dilahirkan sedangkan jantan akan nomaden atau berpindah-pindah antar kelompok dengan jangka waktu dua sampai lima tahun.
Hal unik lainnya, lemur ekor cincin memiliki otak yang relatif lebih kecil dengan primatif lain, namun kemampuan kognitifnya tidak kalah dengan hewan primata lainnya.
Lemur ekor cincin memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang dibuktikan dengan kemampuan dalam mengorganisir urutan dan pemahaman operasi aritmatika dasar.
Lemur ekor cincin juga memiliki kemampuan dalam menentukan suatu alat beserta fungsinya berdasarkan pengalaman maupun pengamatan, contohnya ketika sedang mencari makan, mereka akan menggunakan alat yang efektif agar mendapatkan makanan banyak atau baik untuk dikonsumsi.
Itulah informasi unik seputar fisik maupun kemampuan yang dimiliki lemur ekor cincin.
Ternyata di balik fisiknya yang menggemaskan, tersimpan kemampuan serta kecerdasan yang tidak boleh diremehkan.
Hal ini yang membuat mereka mampu beradaptasi dengan mudah.
(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum)
sumber: berbagai sumber
Editor : Iwa Ikhwanudin