RADAR JOGJA - Serangga cochineal memiliki banyak persamaan dengan belalang, salah satunya memiliki darah yang tidak mengalir.
Cochineal dikenal sebagai dactylopius coccus yang berasal dari keluarga kutu daun.
Menurut ahli entomologi, binatang ini merupakan spesies serangga yang termasuk dalam ordo “serangga sejati”.
Jenis serangga ini banyak ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan.
Mulanya, orang-orang Eropa datang ke Amerika Serikat pada tahun 1500-an dan menemukan bahwa suku Aztec memproduksi kain berwarna cerah yang dibuat dengan serangga cochineal, dikenal juga sebagai kutu karmin.
Hebatnya, warna kain tersebut bertahan hingga bertahun-tahun. Tak lama setelahnya, kutu karmin kering menjadi barang dagangan utama.
Peru, salah satu negara di Amerika Selatan, bisa menghasilkan 70 ton karmin setiap tahunnya dan menjadi penghasil karmin terbesar di dunia.
Kaktus dijadikan sumber makanan cochineal pada kelembaban dan nutrisi tanaman.
Industri makanan dan minuman mengenal pewarna alami yang disebut dengan carmyne (karmin).
Karmin sering digunakan sebagai pewarna makanan untuk membuat makanan kemasan dan olahan tampak lebih menarik.
Karmin juga digunakan untuk mewarnai produk perawatan tubuh, seperti shampo dan lotion, serta make up seperti eyeshadow.
Banyak jenis makanan yang diwarnai dengan pewarna karmin, seperti susu, es krim, yoghurt, makanan ringan.
Proses produksi cochineal kering dijelaskan sebagai berikut.
Pasangan cochineal diinduksikan pada kaktus.
Cochineal betina berkembang biak.
Setelah menjadi dewasa yang ditandai dengan tubuh yang membesar dan berisi, cochineal dipanen dengan cara disikat.
Hasil panen dikeringkan di bawah sinar matahari dan ditampi untuk menghilangkan bulu.
Cochineal dijemur hingga kering sebelum dihancurkan dengan mesin untuk diolah menjadi pewarna.
Setelah dihancurkan, jadilah serbuk merah tua cerah.
Untuk memunculkan warna semakin cerah, tidak mudah pudar dan stabil, ekstrak cochineal biasanya dicampur dengan bahan pelarut, bahan pelapis, hingga bahan pengemulsi.
Bahan pelarut bisa menggunakan etanol, triacetin, atau gliserin.
Gliserin bisa dihasilkan dari proses hidrolisis lemak hewani.
Gelatin yang biasanya berasal dari lemak hewani bisa digunakan sebagai bahan pelapis.
Sedangkan, bahan pengemulsinya bisa menggunakan turunan asam lemak dari asam lemak hewani.
Mengingat pewarna alami yang menggunakan bahan alami dari hewan, harus dipastikan bahwa bahan tersebut berasal dari hewan halal yang diproses secara halal.
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Makanan (LPPOM) MUI telah melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan cochine sebagai pewarna alami telah dibuat dengan bahan halal sesuai kriteria Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).
Melalui Fatwa Nomor 33 Tahun 2011 tentang Hukum Pewarna Makanan dan Minuman dari Serangga Cochineal, MUI memutuskan bahwa cochineal halal digunakan sebagai pewarna alami. Dengan catatan, hal tersebut bisa bermanfaat dan tidak membahayakan. (Ruhana Maysarotul Muwafaqoh)
Editor : Meitika Candra Lantiva