RADAR JOGJA - Sering bepergian naik moda transportasi kereta api ke Jogja pastinya kalian tidak asing dengan nama lagu ini.
Yups lagu ini biasanya diputar saat kedatangan kereta di semua stasiun di Yogyakarta, baik di Stasiun Tugu atau Lempuyangan,
Nah selain dijadikan lagu kedatangan kereta, ternyata lagu ini memiliki makna perjuangan yang tinggi lho.
Penasaran?, makna apa yang terkandung dalam lagu tersebut, yuk simak pembahasan berikut ini ya:
Lirik lagu Sepasang Mata Bola diciptakan oleh seorang komponis musisi asli Indonesia yakni Ismail Marzuki.
Sepasang Mata Bola diciptakan oleh Ismail Marzuki pada tahun 1946 kemudian populer dan dinyanyikan oleh artis keroncong wanita Indonesia yakni Sundari Soekotjo.
Saat itu Bangsa Indonesia melawan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang masih ingin menguasai Indonesia kembali pasca proklamasi kemerdekaan.
Karena situasi di Jakarta sangat tidak aman digunakan sebagai ibu kota Republik Indonesia, karena pertempuran pihak Indonesia dengan NICA.
Alasan tersebut menjadi dasar pemikiran untuk memindahkan basis Ibukota RI yang awalnya berada di Jakarta berpindah ke kota Yogyakarta untuk beberapa waktu.
Oleh karena itu, berpindahlah ibu kota RI ke Yogyakarta pada tanggal malam 3 Januari 1946 dan rombongan sampai pada 4 januari 1946 dini hari yang (dikenal sebagai peristiwa “Kereta Api Luar Biasa (KLB) Presiden).
Berikut lirik lagu Sepasang Mata Bola;
Baca Juga: Resep Capcay Chinese Food: Menu Praktis dan Sehat untuk Santapan Keluarga
Hampir malam di Jogja
Ketika keretaku tiba
Remang-remang cuaca
Terkejut aku tiba-tiba
Dua mata memandang
Seakan-akan dia berkata
Lindungi aku pahlawan
Daripada si angkara murka
Sepasang mata bola
Dari balik jendela
Datang dari Jakarta
Menuju medan perwira
Kagum ‘ku melihatnya
Sinar sang perwira rela
Hati telah terpikat
Semoga kelak kita
Berjumpa pula
Dalam lagu ini, sebenarnya dibuat bukan untuk memperingati peristiwa KLB tersebut.
Ismail Marzuki menciptakan lagu ini pada tahun 1946, saat ia menghadiri peringatan Hari Radio.
Ia mengilustrasikan suasana senja hari menjelang malam saat tiba di Stasiun Yogyakarta.
Dalam lagu ini juga seperti hendak memberikan semangat pada para pejuang yang rela menempuh jarak jauh demi mempertahankan Republik Indonesia.
Lirik lagu ini mengandung pesan yang sangat dalam bagi generasi bangsa yang tidak hidup dimasa perjuangan melawan penjajah, bahwa para pahlawan pembela kemerdekaan kita dulu telah hidup dan mati dengan menyisakan kebanggaan yang besar dihati kita semua.
Penulis: M Fikri Afifuddin