RADAR JOGJA - Ikan dewa yang populer dengan nama kancra bodas (Labeobarbus doumensis) di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Keberadaan ikan yang jarang ditemukan di tempat lain erat kaitannya dengan mitos dan misteri.
Inilah yang menjadi daya tarik dan keunikan objek wisata Kolam Ikan Cigugur.
Ikan yang dianggap sebagai ikan keramat ini tak pernah diganggu oleh masyarakat setempat. Apalagi dipancing atau bahkan sampai dimakan.
Konon, yang memakan ikan dewa ini akan mendapatkan malapetaka.
Meski daging ikan dewa tak kalah enaknya dengan ikan salmon, tetapi masyarakat setempat tetap mematuhi keyakinan yang mereka pegang hingga kini.
Sama halnya dengan masyarakat Cibulan yang menganggap ikan kancra bodas sebagai ikan keramat.
Masyarakat setempat meyakini bahwa ikan tersebut merupakan prajurit Prabu Siliwangi yang membangkang dan tidak setia.
Kemudian, dikutuklah menjadi ikan yang kalau mati bangkainya tenggelam di dasar kolam.
Tidak seperti kebanyakan ikan yang bangkainya akan mengambang di permukaan air.
Setiap minggunya memang ada ikan yang mati. Namun, hingga sekarang jumlahnya tetap sama.
Sedangkan jika ada ikan dewa yang mati, tidak akan ada yang memakan bangkainya. Layaknya seorang muslim yang meninggal, bangkai ikan dewa akan dikafani sebelum dikuburkan.
Ikan dewa juga tidak diperbolehkan dibawa pulang atau dimakan karena diyakini dapat mendatangkan kemalangan.
Seperti yang dialami oleh sebuah keluarga yang menentang tetap membawa pulang ikan ke rumah dan seluruh anggota keluarga berujung mendadak gila.
Terlepas dari kebenaran mitos mengganggu (memancing/membawa pulang/memakan) ikan dewa, hal ini merupakan cerminan dari budaya toleransi masyarakat setempat yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat Pikukuh Pitu.
Sebuah pedoman hidup manusia yang penuh harmoni dan keselarasan.
Masyarakat setempat diajarkan untuk berlaku baik, baik dengan sesama manusia, dengan Tuhan, maupun dengan alam.
Ajaran tersebut memandang realitas melalui hakikat.
Sebagai bagian dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, manusia dan alam harus hidup harmoni satu sama lain.
Hubungan antar manusia juga dimaknai melalui hakikat manusia secara utuh yakni sifat kemanusiaan sebagai wujud kesejatian manusia. (Ruhana Maysarotul Muwafaqoh)
Editor : Meitika Candra Lantiva