Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Gastrodia Bambu, Anggrek Hantu yang Tumbuh di Kegelapan dan Menyebar Aroma Unik

Tastabila Maika Warditya • Sabtu, 7 September 2024 | 18:55 WIB

 

Anggrek langka, Gastrodia Bambu.
Anggrek langka, Gastrodia Bambu.

RADAR JOGJA - Di dunia botani, selalu ada kejutan baru yang membuat kita terpesona akan keragaman flora di alam ini.

Salah satunya adalah penemuan spesies anggrek hantu yang diberi nama ilmiah Gastrodia bambu.

Spesies ini cukup unik dan berbeda dari anggrek yang biasa kita kenal.

Dinamai Anggrek Hantu karena penampilannya yang misterius dan tumbuh di lingkungan yang tidak lazim, bunga ini menyimpan banyak keunikan yang menarik untuk dibahas.

Nama Gastrodia bambu berasal dari habitat di mana anggrek ini pertama kali ditemukan, yakni di daerah yang banyak ditumbuhi bambu.

Anggrek ini bukan hanya sekadar tanaman langka, tapi juga memiliki sifat yang cukup berbeda dari anggrek pada umumnya.

Salah satu ciri khasnya adalah kecenderungannya untuk tumbuh di lingkungan gelap dan lembap, menjauh dari cahaya terang.

Bukan hanya itu, Gastrodia bambu juga menyebarkan aroma unik seperti bau ikan busuk yang justru menarik perhatian serangga polinator.

Anggrek hantu ini tidak memiliki daun seperti kebanyakan tumbuhan lain, sehingga tidak mampu melakukan proses fotosintesis.

Ketiadaan klorofil memaksa anggrek ini untuk menggantungkan seluruh suplai nutrisi melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.

Jamur tersebut membantu menyediakan nutrisi organik yang dibutuhkan oleh anggrek ini untuk bertahan hidup di lingkungan yang gelap dan lembap.

Kehidupan anggrek hantu sangat bergantung pada kondisi habitat yang spesifik.

Mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti kekeringan, intensitas cahaya yang terlalu tinggi, dan perubahan pada media tempat mereka tumbuh.

Ini menjadikan mereka sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan dan membuat spesies ini semakin langka untuk ditemukan.

Salah satu hal yang membuat Gastrodia bambu semakin misterius adalah kemunculannya yang hanya terjadi dalam periode singkat setiap tahun, umumnya antara 2 hingga 4 minggu.

Setelah muncul dari dalam tanah, bunga-bunganya hanya bertahan selama 1 hingga 2 minggu sebelum akhirnya layu, membusuk, dan lenyap kembali ke dalam tanah, seolah-olah menghilang seperti hantu.

Bentuk bunganya juga cukup unik, menyerupai lonceng dengan ukuran sekitar 1,7-2 cm panjangnya dan lebar sekitar 1,4-1,6 cm.

Dalam satu tangkai perbungaan, anggrek ini mampu menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian.

Warna bunga anggrek hantu ini juga tidak terlalu mencolok, didominasi oleh warna putih, kekuningan, hingga kecoklatan dengan bibir bunga yang panjang menyerupai mata tombak dan dihiasi corak jingga.

Kombinasi warna yang sederhana ini justru menambah kesan misterius dan angker yang melekat pada spesies ini.

Spesies Gastrodia bambu pertama kali ditemukan pada akhir tahun 2016 di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut.

Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam penelitian flora langka di Indonesia.

Tidak hanya berhenti di situ, spesies ini kembali ditemukan pada 28 Januari 2017 di kawasan Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat, juga pada ketinggian yang sama, yakni 800 mdpl.

Kedua lokasi ini menjadi habitat ideal bagi Gastrodia bambu untuk berkembang, menjadikannya salah satu spesies anggrek paling menarik yang ada di Indonesia.

Dengan semua keunikannya, Gastrodia bambu atau anggrek hantu ini menunjukkan betapa menakjubkannya keragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

Flora seperti ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ekosistem dan lingkungan alam agar spesies langka seperti anggrek hantu bisa tetap lestari dan tidak punah.

Sebagai bagian dari kekayaan alam yang tak ternilai, penemuan ini seharusnya menjadi dorongan bagi kita untuk terus melestarikan keindahan dan keunikan flora Indonesia.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Kegelapan #anggrek hantu #bunga #Aroma unik #flora