RADAR JOGJA - Jamu umumnya disajikan dalam bentuk minuman dengan rasa yang biasanya pahit.
Di Jogja, obat tradisional tersebut kini dapat diolah menjadi selai dengan cita rasa gurih dan manis.
Inovasi ini adalah hasil karya dari praktisi jamu bernama Sutrisno, yang dikenal sebagai pencetus Kampung Jamu Gendong di Desa Kiringan, Jetis, Kabupaten Bantul.
Sutrisno menjelaskan, inovasi yang dilakukan ini bertujuan agar produk jamu yang dibuatnya dapat bertahan lebih lama.
Sebab, jamu gendong konvensional hanya bertahan sekitar 12-24 jam, maka mereka mengembangkan produk-produk lain seperti sirup jamu, permen jamu, jamu instan, es krim jamu, dan yang terbaru ini adalah selai jamu.
Selain itu, selai jamu ini dibuat untuk mengubah stigma tentang jamu yang dikenal pahit dan tidak enak.
Dengan mengolahnya menjadi selai, Sutrisno berharap jamu bisa dikonsumsi oleh semua kalangan, termasuk pemuda dan anak-anak.
Pembuatan selai jamu ini, telah dilakukan sejak sebelum pandemi Covid-19. Berbagai uji coba dilakukannya untuk mendapatkan resep yang tepat.
Dalam proses pembuatan, ia mencampurkan berbagai bahan rempah dan tumbuhan yang biasa digunakan dalam pembuatan jamu, seperti kunir, kunyit, dan beras kencur.
Produk selai jamu hasil kreasinya, akhirnya mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
Bersamaan dengan itu, kemasan selai juga dipercantik menggunakan wadah kaca seperti produk selai pada umumnya.
Dia menyebut, pemasaran selai jamu sudah menjangkau beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan.
Bahkan, telah merambah ke pasar ekspor seperti Belanda dan Malaysia.
Harga selai jamu ini dibanderol dengan harga Rp 20.000 per botol, dengan varian rasa seperti kunir asem, beras kencur, jahe merah, dan wedang uwuh.
Editor : Winda Atika Ira Puspita