RADAR JOGJA - Selain terkenal dengan keraton dan Pantai Parangtritis, Kota Yogyakarta memiliki tempat ikonik lain yaitu Selokan Mataram.
Saluran irigasi buatan ini telah ada sejak zaman penjajahan dan sangat mudah ditemukan, karena membentang di tengah-tengah Kota Jogja.
Saat ini, saluran air tersebut dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Ada beberapa fakta menarik mengenai Selokan Mataram. Salah satunya adalah alasan pembangunannya, yang merupakan strategi Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk melindungi rakyat dari kekejaman Romusha (kerja paksa) yang diberlakukan oleh Jepang saat mereka menguasai Yogyakarta.
Berikut adalah beberapa fakta menarik mengenai Selokan Mataram:
1. Membelah Wilayah Yogyakarta
Selokan Mataram mudah dikenali karena membelah Kota Jogja sepanjang 30,8 kilometer.
Hulu saluran ini terletak di Sungai Progo, Bendungan Karang Talun, Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sementara hilirnya berada di Tempuran, Sungai Opak, Randugunting, Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Area bendungan dirancang menyerupai tangga berundak, yang berfungsi sebagai jalur inspeksi bagi petugas pemantau.
Bendungan ini dibangun pada tahun 1909 dan menjadi titik pertemuan dua saluran irigasi.
Selain itu, Selokan Mataram II, yang dulunya dikenal sebagai Van Der Wijck, juga mengalir dari Sungai Progo dan membentang sejauh 17 kilometer.
2. Awalnya Bernama Kanal Yoshihiro
Strategi Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk membangun saluran irigasi diterima oleh pihak Jepang.
Saluran irigasi yang dibangun antara 1942-1944 ini awalnya diberi nama Gunsei Hasuiro, Gunsei Yosuiro, atau Kanal Yoshihiro.
Nama Kanal Yoshihiro diambil dari jenderal perang Jepang, Shimazu Yoshihiro, yang dikenal karena keberhasilannya memimpin 300 pasukan mengalahkan 3.000 pasukan musuh dalam Perang Kizakihira di Kyushu pada tahun 1572.
3. Pernah Disebut Kali Malang
Sebelum dikenal dengan nama Selokan Mataram, kanal irigasi ini pernah disebut Kali Malang.
Nama Kali Malang diberikan karena letaknya yang membentang atau "malang" di Wilayah Yogyakarta.
Akhirnya, kanal ini diberi nama Selokan Mataram, merujuk pada keberadaannya di wilayah Mataram.
4. Ramalan Raja Kediri
Penyatuan dua sungai di tanah Mataram ini konon terinspirasi oleh Sunan Kalijaga, yang pernah menyebut bahwa masyarakat Mataram akan makmur jika Sungai Progo dan Opak disatukan melalui sambungan aliran.
Bahkan, jauh sebelum adanya Selokan Mataram pada tahun 1588, Raja Joyoboyo dari Kerajaan Kediri telah meramalkan bahwa penyatuan kedua sungai di tanah Mataram akan membawa kemakmuran bagi rakyatnya.
Setelah pembangunan saluran, tanah di Mataram menjadi subur, mengubah kehidupan masyarakat yang sebelumnya hanya bisa mengkonsumsi gaplek dan bertani singkong.
Awalnya, pembangunan Selokan Mataram direncanakan sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian Jepang agar tidak memperlakukan rakyatnya dengan sembarangan.
5. Siasat Sultan untuk Menyelamatkan Warga dari Romusha
Selokan Mataram, yang berstatus sebagai cagar budaya, menyimpan kisah penting dari masa penjajahan Jepang di Yogyakarta pada tahun 1942.
Sejarah pembangunan Selokan Mataram tidak terlepas dari strategi Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk melindungi rakyatnya dari kerja paksa atau romusha.
Meskipun rakyat tetap harus bekerja secara sukarela, setidaknya mereka tidak harus menghadapi kelaparan dan kekejaman sistem romusha.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengusulkan pembangunan saluran irigasi ini dengan alasan agar dapat menyetor lebih banyak hasil bumi kepada pasukan Jepang.
Hasil bumi tersebut digunakan sebagai logistik untuk persiapan perang kolonial Jepang, serta untuk mencegah kelaparan di kalangan rakyat.
Selokan Mataram bukan hanya sebuah saluran irigasi, tetapi juga simbol kecerdikan dan ketahanan masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi masa penjajahan.
Keberadaannya yang membelah kota ini, tidak hanya menjadi bagian penting dari sistem irigasi, tetapi juga menyimpan cerita bersejarah yang patut untuk dikenang.
Editor : Winda Atika Ira Puspita