RADAR JOGJA - Kabupaten Bantul selalu memiliki sisi keunikannya tersendiri. Seperti misalnya nama-nama padukuhan yang terdapat di dalamnya. Satu di antaranya ada Padukuhan Piring namanya yang sekilas sangat akrab sebagai tempat makan.
Piring bagi sebagian banyak orang pasti akan dikenal sebagai wadah untuk menaruh makanan. Tetapi di Bantul, nama Piring dijadikan sebagai nama suatu dusun yang sudah berpuluh-puluh tahun dijadikan tempat tinggal oleh banyak warganya. Padukuhan Piring terletak di Kalurahan Murtigading, Kapanewon Sanden, Bantul.
Lokasinya berada di bagian Selatan Bantul yang dekat dengan Kawasan Pantai Samas. Padukuhan Piring terbagi menjadi dua yakni Dusun Piring I dan Piring II. Masyarakat di kedua wilayah tersebut sudah bertahun-tahun hidup rukun tanpa adanya selisih paham yang menimbulkan pertikaian. Dukuh Piring I Yani Sunanto menuturkan, wilayahnya diberikan nama Piring karena dahulu ketika hendak babat alas banyak pecahan piring yang ditemukan.
“Kalau dari simbah-simbah dahulu, sini sebelumnya Kademangan Genggong lantas menjadi Piring,” katanya, Jumat (14/6/2024). Menurutnya, Mbah Genggong merupakan sosok pertama yang melakukan babat alas di Piring. Kala itu dia menemukan banyak piring sehingga dinamakannya daerah tersebut dengan Padukuhan Piring.
Di Padukuhan Piring I sendiri warganya berjumlah sekitar 269 yang terdiri dari empat RT. Yani merupakan dukuh ketiga yang menjabat sejak 2015. Menurutnya, dibagi duanya Piring tidak karena konflik antar masyarakatnya. Pembagian wilayahnya itu agar dapat mengurus kepentingan masyarakatnya menjadi lebih enak. “Dipisah jadi dua karena luas dan menghindarkan konflik horizontal,” ucapnya.
Pria 47 tahun itu, menuturkan, ketika awal-awal memimpin Padukuhan Piring I masih banyak warganya yang menjadi buruh tani. Lambat laun sejumlah profesi warganya beralih karena adanya pelatihan dari Pemerintah Kabupaten Bantul pada 2018 silam.
Pelatihan yang diberikan menjadikan sebagian warganya menjadi memiliki UMKM untuk menghidupinya. Selain itu, ada juga hadir kelompok wanita tani (KWT) yang menghasilkan berbagai produk olahan baik minuman dan makanan ringan.
Seperti misalnya susu kedelai, abon sapi dan ayam, aneka snack, rempeyek, dan kacang telur.
Sementara itu untuk industri UMKM sendiri Padukuhan Piring I memiliki yang khas yakni Bakpia Cemani 111. Yani mengungkapkan, dengan adanya pelatihan itu warganya menjadi memiliki pendapatan yang lebih baik dari sebelumnya.
“Jadi buruh tani pendapatan sebulan tidak mesti ada, sekarang sudah pasti perbulan dapat tetapi jumlahnya saya tidak tahu,” ujarnya.
UMKM Bakpia Cemani 111 sekarang diurus oleh seorang perempuan bernama Parjiyem. Dia juga dahulu merupakan seorang buruh tani. Tetapi karena sekarang sudah mengurus pembuatan dan penjualan bakpia pekerjaan tersebut ditinggalkannya.
Dia menuturkan, dalam sehari bisa memiliki pendapatan Rp 100 ribu bersih yang masuk ke kantongnya. Sementara itu pendapatan kotornya selama sebulan bisa mencapai Rp 5 juta kalau sedang sepi. Sebaliknya ketika pesanannya meningkat, keuntungan kotornya bisa mencapai Rp 13 juta perbulan.
“Alhamdulilah dari sini bisa biayain anak saya hingga sekolah,” lontarnya. Dalam prosesnya Parjiyem terkadang dibantu oleh lima orang rekannya yang juga warga Piring I. Bantuan produksi ada ketika sudah sangat kewalahan dalam membuat bakpia. (rul/pra)