Didirikan pada tahun 1700-an oleh Kiai Kafiludin Jamal, masjid ini tak pernah kebanjiran meskipun berada di bantaran Sungai Lusi.
Misteri lainnya adalah keberadaan rangka kayu kuno di dalam tembok masjid.
Konon, upaya menutupi rangka kayu ini dilakukan untuk mengurangi nilai mistis yang ada.
Masjid ini juga jarang direnovasi untuk merawat masjid ini hanya dilakukan pengecatan ulang saja.
Konon katanya bahkan banyak yang tidak berani merenovasi karena takut merusak nilai mistisnya.
Dilansir dari Radar Kudus, Kiai Kafiludin Jamal, pendiri masjid, dahulu disebut sebagai wali mastur yang ingin mengasingkan diri dari pihak luar.
Beliau membangun masjid di tepi sungai untuk mewujudkan keinginannya tersebut.
Masjid Baiturrohman tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dipergunakan sebagai tempat kegiatan masyarakat.
Di atas masjid terdapat Pondok Pesantren Salafiyyah Al Marom, dan banyak orang yang datang dari luar daerah untuk meminta air dari masjid ini.
Keunikan lain dari masjid ini adalah tradisi haul yang hanya bisa diisi oleh habib atau keturunan nabi.
Hal ini menunjukkan penghormatan besar pendiri masjid terhadap keturunan Nabi Muhammad.
Masjid Baiturrohman di Grobogan menyimpan banyak misteri dan keunikan, seperti tidak pernah kebanjiran, rangka kayu kuno di dalam tembok, dan tradisi haul yang hanya bisa diisi oleh habib.
Masjid ini menjadi tempat ibadah dan simpul kegiatan masyarakat, serta bukti sejarah dan budaya Islam di Grobogan.