JOGJA - Suasana pagi di Yogyakarta, Minggu 18 Oktober 2026, mendadak riuh dan penuh warna oleh ribuan langkah kaki yang bersemangat. Ribuan peserta tampak memadati jalanan kota dengan wajah berseri, memancarkan energi kebersamaan yang hangat. Gelaran akbar dalam rangka Hari Ayam dan Telur Nasional ini menjadi panggung nyata gerakan hidup sehat masyarakat.
Tercatat hampir 3.000 peserta antusias membanjiri ajang tahunan bertajuk Chicken and Egg Run 2026 tersebut. Para pelari dari berbagai usia menempuh rute pilihan mulai dari 2,5 kilometer, 5 kilometer, hingga 10 kilometer. Deretan hadiah menarik, termasuk satu unit mobil listrik Wuling Air EV, semakin membakar semangat para peserta di garis start.
Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia), Singgih Januratmoko, tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya atas respons luar biasa dari publik. "Alhamdulillah hari ini kita melakukan kegiatan rangkaian Hari Ayam dan Telur. Setiap tahun PINSAR mengadakan acara ini terutama untuk promosi meningkatkan konsumsi ayam dan telur," tutur Singgih.
Di balik kemeriahan acara lari maraton ini, tersimpan pesan mendalam mengenai kondisi gizi bangsa kita. Daging ayam dan telur sejatinya merupakan sumber protein hewani yang paling terjangkau bagi masyarakat. Sayangnya, angka konsumsi kedua bahan pangan kaya gizi ini di Indonesia ternyata masih tertinggal jauh.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia masih cukup memprihatinkan. Saat ini, konsumsi daging ayam di Tanah Air baru berkisar antara 14 hingga 15 kilogram per kapita per tahun. Angka ini kalah jauh jika disandingkan dengan Malaysia yang sudah menembus 25 hingga 30 kilogram per kapita per tahun.
Baca Juga: Dari Balas Dendam Jadi Tren Kuliner, Cerita Ayam Nashville Hingga Begitu Digemari di Indonesia
Kondisi yang tak jauh berbeda juga terlihat jelas pada angka konsumsi telur nasional. Rata-rata masyarakat Indonesia baru mengonsumsi sekitar 23 kilogram atau sekitar 200 hingga 300 butir telur per kapita per tahun. Sementara itu, negara tetangga lainnya sudah mampu mencatatkan tingkat konsumsi telur hingga mencapai 35 kilogram per kapita per tahun.
"Tujuan utama kita adalah memberikan pembelajaran dan pengetahuan kepada masyarakat. Ayam dan telur adalah protein termurah di Indonesia. Protein ini sangat dibutuhkan masyarakat, terutama untuk anak-anak sebagai generasi penerus agar memiliki kualitas kecerdasan yang baik," ujar Singgih dengan nada penuh harapan.
Lewat ajang olahraga berskala besar ini, para peternak membuktikan kemandirian serta kepedulian sosial mereka yang sangat tinggi. Mereka bergerak bersama secara swadaya tanpa bergantung penuh pada bantuan anggaran pemerintah. Inisiatif mandiri ini murni lahir dari niat tulus peternak untuk menyehatkan dan mencerdaskan generasi muda bangsa.
Namun, di balik semangat membara para peternak, sektor perunggasan nasional sebenarnya masih dihadapkan pada tantangan ekonomi yang cukup berat. Biaya Pokok Produksi (HPP) peternak saat ini tergolong tinggi. Pemicu utamanya terletak pada melejitnya harga pakan ternak akibat melambungnya harga jagung sebagai komponen dasarnya.
Baca Juga: Temukan Anomali Harga Ayam dan Telur, Amran Siapkan Pemeriksaan
"Tantangan kita hari ini adalah HPP kita mahal karena masalah pakan, pakannya mahal karena jagungnya mahal. Harapan kita pemerintah bisa segera menyelesaikan masalah di bidang jagung ini. Kalau HPP murah, harga ayam dan telur bisa makin terjangkau oleh lebih banyak masyarakat," tegas Singgih.
Keberadaan industri peternakan rakyat memiliki kontribusi yang sangat vital bagi keberlanjutan roda ekonomi lokal. Di Daerah Istimewa Yogyakarta saja, ekosistem perunggasan tercatat menopang penghidupan lebih dari 10.000 orang. Ekosistem besar ini mencakup peternak broiler, peternak layer, hingga para pekerja kandang yang menggantungkan nasibnya dari sektor ini.
Langkah mandiri yang ditunjukkan oleh para peternak ini pun mendapat apresiasi hangat dari jajaran pemerintah pusat. Kementerian Koperasi menilai aksi nyata PINSAR Indonesia dalam mengampanyekan pentingnya asupan protein hewani sangat krusial. Keberadaan koperasi dianggap sebagai fondasi utama untuk memperkuat posisi tawar para peternak rakyat.
Staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Koperasi, Koko Haryono, menegaskan komitmen pemerintah untuk mendampingi perjuangan para peternak. "Kami mengapresiasi sekali kegiatan hari ini. Kami berharap PINSAR bisa menguatkan organisasinya melalui koperasi. Koperasi akan menjadi ekosistem yang membantu peternak dari hulu sampai hilir," jelas Koko di lokasi.
Baca Juga: 20 Ribu Ayam Umur Sepekan Mati Terbakar, Kandang di Gedangsari Gunungkidul Rugi Rp 2 Miliar
Kementerian Koperasi siap mendorong perbaikan tata kelola, penguatan kelembagaan, serta membukakan akses pembiayaan yang lebih luas bagi peternak. Sinergi ini nantinya juga akan diselaraskan dengan berbagai program strategis nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), demi mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja