Pertandingan Junior DBL 2026 Jogja mempertemukan dua sosok yang memiliki cerita panjang dalam perkembangan basket pelajar Yogyakarta. Hillery Bernassa Suryo Saputro atau Coach Hillary harus berhadapan dengan Johan Palagan, sosok yang pernah membimbingnya ketika masih aktif sebagai pemain.
Pertemuan tersebut terjadi Sabtu (26/9/2026), saat Hagios School of Life Yogyakarta berhadapan dengan SMPN 5 Yogyakarta. Laga itu terasa spesial bagi Hillary karena menjadi kali pertama ia berhadapan langsung dengan Coach Johan dalam kapasitas sebagai pelatih di ajang Junior DBL Jogja.
Hubungan keduanya telah terjalin jauh sebelum Hillary menjadi pelatih. Saat masih memperkuat SMAN 4 Yogyakarta atau Patbhe, ia menjadi salah satu pemain penting dalam skuad tersebut.
Hillary tampil di DBL D.I. Yogyakarta pada 2013 dan 2014. Dalam dua musim tersebut, Patbhe berhasil meraih gelar juara. Di balik keberhasilan itu terdapat Coach Johan yang saat itu menangani tim.
Baca Juga: KPH AKSI Laporkan SPPG di Kota Jogja yang Sebabkan Keracunan MBG ke Polresta Jogja
Bimbingan Johan menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan Hillary sebagai pemain. Ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran selama berada di bawah arahan sang mentor.
“Saya banyak belajar dari Coach Johan saat masih menjadi pemain,” ujar Hillary.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Hillary meraih sejumlah pencapaian. Pada 2013, ia mendapat kesempatan mengikuti DBL Camp. Setahun berselang, ia kembali terpilih mengikuti program tersebut dan berhasil meraih penghargaan MVP DBL D.I. Yogyakarta.
Pencapaian Hillary berlanjut pada 2015. Ia terpilih masuk DBL Selection Team dan mendapat kesempatan terbang ke Perth, Australia, bersama sejumlah pemain terbaik Indonesia untuk bertanding sekaligus menambah pengalaman di level internasional.
Menurut Hillary, sederet pencapaian tersebut tidak lepas dari kontribusi Johan dalam perjalanan kariernya.
“Semua itu juga berkat bimbingan dari Coach Johan,” tegasnya.
Dari Pemain Beralih Menjadi Pelatih
Setelah menuntaskan pendidikan SMA, Hillary melanjutkan perjalanan basketnya bersama Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ia juga memperkuat tim basket Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kota Yogyakarta dalam berbagai ajang, baik tingkat regional maupun nasional.
Ketika akhirnya memutuskan mengakhiri karier sebagai pemain, Hillary tidak benar-benar meninggalkan dunia basket. Ia justru memilih jalur kepelatihan.
Keputusan tersebut turut dipengaruhi latar belakang keluarganya. Ayah Hillary juga merupakan pelatih basket. Ia kemudian mulai membantu sang ayah menangani anak-anak yang berlatih.
Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya terhadap dunia kepelatihan semakin tumbuh.
Baca Juga: Lolos Babak Fantastic Four Junior DBL 2026 DIY, Pelatih Tim Basket SMP Hagios of Life: Disiplin!
“Dulu Papa saya pelatih basket juga. Kemudian saya coba bantu-bantu melatih anak-anak kecil. Ternyata saya suka bertemu dan berinteraksi dengan mereka,” jelasnya.
Karier Hillary sebagai pelatih kemudian berkembang. Pada 2022 hingga 2025, ia dipercaya menjadi Head Coach SMA Stella Duce 2 Yogyakarta di ajang DBL D.I. Yogyakarta.
Sejak 2025, ia mulai menangani Hagios School of Life Yogyakarta. Sempat tidak menangani tim untuk sementara waktu, Hillary kembali dipercaya melatih Hagios pada semester ini.
Bertemu Mentor di Sisi Lapangan
Pertemuan dengan Coach Johan kali ini tidak membuat Hillary terbebani. Sebaliknya, laga tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan panjangnya di dunia basket.
Kini posisi mereka telah berubah. Hillary yang dahulu menjadi pemain yang menerima instruksi Johan, kini berada di sisi lapangan sebagai pelatih yang harus menentukan strategi untuk timnya.
Laga tersebut pun berakhir manis bagi Hillary. Hagios School of Life Yogyakarta berhasil mengalahkan SMPN 5 Yogyakarta dengan skor 42-25.
Meski membawa pulang kemenangan, Hillary menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi dari permainan anak asuhnya.
Ia meminta para pemain lebih fokus dan meningkatkan komunikasi ketika menghadapi pertandingan berikutnya.
“Tingkatkan fokus dan komunikasi antar pemain. Mungkin karena tadi gim pertama jadi anak-anak masih banyak yang ragu untuk ambil keputusan di lapangan. Semoga di gim kedua semakin baik lagi,” pungkasnya.
Baca Juga: 10 Mahasiswa Fakultas Teknik UGM Dinonaktifkan Buntut Dugaan Kekerasan Seksual Berbasis Gender/KBGO
Pertemuan Hillary dan Johan akhirnya menjadi gambaran sebuah perjalanan yang lengkap. Seorang pemain yang dahulu belajar dari sang mentor kini berdiri di sisi lapangan sebagai pelatih dan berhadapan dengan sosok yang pernah membentuk perjalanan kariernya.
Dari menerima arahan hingga kini menyusun strategi sendiri, perjalanan Hillary menunjukkan bahwa dunia basket tidak hanya mewariskan prestasi, tetapi juga pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Editor : Bahana.