JOGJA – Bagi seorang atlet, dukungan orang tua sering kali menjadi kekuatan yang tidak terlihat di dalam pertandingan. Hal itu pula yang dirasakan Muhammad Rizky Ibrahim.
Di balik perjalanan panjangnya menekuni basket, ada sosok sang ibu, Halimah, yang selalu berusaha hadir dan memahami dunia yang dipilih putranya.
Menariknya, Halimah bukan seorang pemain basket. Bahkan, pada awalnya ia tidak memahami berbagai aturan maupun istilah yang digunakan dalam olahraga tersebut. Namun, kecintaan terhadap sang anak membuatnya perlahan belajar.
Setiap kali mendampingi Rizky, Halimah berusaha memahami apa yang terjadi di lapangan. Ia bahkan mulai mengenal istilah-istilah basket dari putranya.
“Dari Kiki (panggilan Rizky) saya belajar istilah-istilah basket. Saya jadi tahu kalau misalnya anak ini kurang lay-up-nya, kurang ini, kurang itu,” ujar Halimah.
Rizky sendiri mulai mengenal dunia olahraga sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat berusia lima tahun, ia lebih dahulu menekuni renang. Bakatnya di cabang tersebut bahkan membawanya mengikuti berbagai pertandingan hingga tingkat provinsi.
Baca Juga: De Britto Bidik Final DBL Yogyakarta 2026, Kekompakan Jadi Senjata Utama
Namun, pandemi Covid-19 membuat aktivitas renang Rizky terhenti. Ia kemudian mencoba cabang olahraga lain hingga akhirnya bergabung dengan DBL Academy pada 2020 ketika duduk di kelas VI SD.
Dari sinilah perjalanan Rizky sebagai pebasket dimulai.
Keputusan memilih basket datang sepenuhnya dari Rizky. Keluarga tidak pernah memaksanya untuk mengikuti cabang olahraga tertentu. Sang ayah yang telah meninggal dunia merupakan pemain bulu tangkis, sedangkan kakaknya menekuni karate.
Sang ayah bahkan sempat berharap Rizky mengikuti olahraga bela diri. Namun, Rizky memiliki pilihan sendiri. Ia memilih basket dan terus menekuninya hingga sekarang.
Pilihan tersebut kemudian mendapat dukungan penuh dari Halimah. Sebagai anak bungsu, Rizky selalu mendapat perhatian dari sang ibu.
Halimah kerap hadir saat Rizky berlatih bersama DBL Academy maupun ketika mengikuti pertandingan uji coba antarsekolah. Ketika sang anak bertanding, keluarga juga berusaha memberikan dukungan langsung dari pinggir lapangan.
Semakin sering mendampingi, semakin besar pula keinginan Halimah untuk memahami basket. Ia menyadari dirinya belum menguasai aspek teknis permainan. Karena itu, ia banyak belajar dari anggota keluarga maupun orang-orang di sekitar Rizky yang lebih memahami olahraga tersebut.
Bagi Halimah, mempelajari basket bukan berarti harus bisa memberikan instruksi seperti seorang pelatih. Ia hanya ingin memahami apa yang sedang dijalani putranya sehingga dapat memberikan dukungan secara lebih tepat.
Baca Juga: Menghidupkan Cerita di Setiap Sudut Rumah, Rahasia Sederhana Ciptakan Hunian Rapi dan Penuh Hangat
Perhatian Halimah semakin besar setelah Rizky mengalami cedera ketika duduk di kelas VIII SMP. Cedera tersebut terjadi saat Rizky mengikuti pertandingan di Kediri.
Seusai pertandingan, pergelangan kaki Rizky mengalami cedera setelah terdorong pemain lawan. Beruntung, kondisinya tidak membutuhkan penanganan serius dan dapat dipulihkan melalui terapi.
Meski demikian, kejadian tersebut meninggalkan kekhawatiran tersendiri bagi Halimah. Ia semakin menyadari bahwa aktivitas olahraga yang ditekuni putranya juga memiliki risiko cedera.
“Karena pernah dia cedera dan saya tidak mau lagi hal itu terjadi. Jadi saya selalu menemani dan mendukung dia,” ungkapnya.
Sejak saat itu, perhatian Halimah tidak hanya tertuju pada aktivitas Rizky di lapangan. Kondisinya di luar basket juga ikut menjadi perhatian.
Ia berusaha menjaga pola makan, kesehatan, hingga waktu istirahat Rizky. Semua dilakukan agar sang anak tetap berada dalam kondisi prima untuk menjalani latihan maupun pertandingan.
Di rumah, Rizky dikenal sebagai sosok yang cenderung pendiam. Karakter tersebut justru berbeda ketika ia berada di lapangan.
Saat bertanding, Rizky terlihat lebih bersemangat dan penuh energi. Halimah pun tidak memaksanya untuk selalu bercerita mengenai apa yang sedang dirasakan.
Ia memilih memberikan ruang dan menunggu sampai Rizky merasa nyaman untuk berbicara.
Bertahun-tahun mendampingi membuat Halimah semakin memahami keseriusan putranya dalam menekuni basket. Rizky tidak pernah menunjukkan keinginan untuk berhenti.
Sebaliknya, ia terus berusaha mengembangkan kemampuannya. Ketika menemukan kekurangan dalam permainan, Rizky juga tidak sungkan bertanya kepada orang lain untuk mendapatkan masukan.
Baca Juga: Sempat Jadi Target Manchester United, Lewis Hall: Bertahan di Newcastle adalah Keputusan yang Tepat
Kini, Rizky telah duduk di kelas XII dan menjalani musim terakhirnya bersama SMAN 2 Sidoarjo. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia masih memiliki keinginan untuk melanjutkan perjalanan di dunia basket.
Sejumlah peluang untuk meneruskan karier tersebut pun mulai terbuka. Namun, bagi Halimah, prestasi bukan satu-satunya hal yang harus dikejar.
Ia ingin Rizky tetap memiliki karakter yang baik, rendah hati, serta mampu membagikan ilmu yang telah diperolehnya selama bertahun-tahun kepada pemain-pemain muda lainnya.
“Kamu harus mulai mandiri. Sekarang kamu sudah punya nama, dalam artian orang sudah mengenal kamu. Kamu harus menjaga nama itu dengan baik, menjaga nama orang tua, jangan terlalu sombong, jangan egois,” pesan Halimah.
Halimah juga berharap perjalanan Rizky dapat memberikan manfaat bagi pemain-pemain muda di SMAN 2 Sidoarjo. Baginya, pengetahuan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun akan jauh lebih bermakna jika bisa diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Kalau kamu hanya menjadi atlet tetapi sombong, kamu tidak akan menjadi panutan orang. Tapi kalau ilmumu kamu berikan kepada orang lain, kamu bisa menjadi panutan,” pungkas Halimah.
Perjalanan Rizky dan dukungan sang ibu menjadi salah satu cerita di balik semarak Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027. Musim ini, kompetisi tersebut kembali berlangsung di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi di Indonesia.
Selain menjadi panggung kompetisi basket pelajar, DBL juga menjadi bagian dari proses pencarian student-athlete terbaik untuk mendapatkan kesempatan mengikuti DBL Camp dan berpeluang masuk dalam skuad DBL Indonesia All-Star.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Bawa Edukasi Berkendara Melalui Seminar Kolaborasi
Musim ini turut menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 yang mengusung tema “100% Indonesia”.
Pertandingan dapat disaksikan melalui kanal YouTube DBL Play. Sementara laga final juga tersedia melalui kanal YouTube Good Day ID.
Editor : Bahana.