Dari Medan ke Sharjah, Kini Menanam Ilmu di Jogja, Kisah Hans Christian, Atlet Tembak Inspiratif

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 07:18 WIB
Kisah Inspiratif Atlet Menembak Jogja: Hans Christian Pernah Jadi Kepala Pelatih Regu Tembak Polisi Uni Emirat Arab . (ilustrasi AI Image Generator)
Kisah Inspiratif Atlet Menembak Jogja: Hans Christian Pernah Jadi Kepala Pelatih Regu Tembak Polisi Uni Emirat Arab . (ilustrasi AI Image Generator)

RADAR JOGJA - Ada nama yang jarang muncul di layar televisi, tapi jejaknya terasa di dua benua. Hans Christian Pratama Tioparta Manihuruk memulai olahraga menembak pada 2015. Sejak itu, fokus, napas, dan ketelitian menjadi ritme hidupnya.

Pria kelahiran Medan itu kini bermukim di Yogyakarta. Kota ini bukan sekadar tempat tinggal. Di sini ia menemukan ruang untuk terus bertanding, mengajar, dan merawat generasi atlet yang lebih muda.

Reputasinya tidak dibangun semalam. Prestasi di kejuaraan internasional membuat namanya sampai ke Uni Emirat Arab. Pada 2018 dan 2019, Hans dipercaya menjadi kepala pelatih regu tembak polisi Kota Sharjah.

Tugas itu bukan pekerjaan ringan. Ia menangani persiapan lomba menembak antarkota. Yang dibutuhkan bukan hanya teknik menembak, tetapi juga kedisiplinan, mental, dan cara membaca tekanan pertandingan.

Dalam dua periode itu, performa tim merangkak naik. Hans tidak hanya memperbaiki angka di papan skor. Ia membantu para penembak memahami bahwa ketenangan bisa dilatih, sama seperti posisi kaki dan cara menahan napas.

Baca Juga: Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Berkomitmen Perjuangkan Kesejahteraan dan Perlindungan Kader Posyandu

Pengalaman di luar negeri itu tidak ia simpan sendiri. Setelah kembali, Hans memilih menularkan ilmu di tanah air, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia masuk ke Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) DIY.

Di organisasi itu, ia menjabat Kepala Bidang Tembak Reaksi. Cabang ini menuntut kecepatan menilai sasaran dan mengambil keputusan dalam waktu singkat. Bukan soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling siap.

Hans ikut merancang program latihan dan pendampingan atlet. Latihan bukan hanya soal peluru dan target. Ada pembinaan karakter, manajemen emosi, dan kebiasaan latihan yang konsisten dari minggu ke minggu.

Yogyakarta menjadi laboratorium kecil baginya. Di kota pelajar ini, ia melihat potensi atlet yang sering terlewat karena olahraga menembak belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis. Ia tetap merawat ruang itu.

Baca Juga: RAPBD 2027 Kulon Progo Mode Pesimis, Pendapatan Transfer Diprediksi Turun

Kisah Hans terasa dekat karena tidak dibungkus keajaiban. Ada kerja panjang sejak 2015, ada kepercayaan dari institusi asing, lalu ada pilihan pulang untuk membangun rumah sendiri. Prestasi luar negeri tidak membuatnya menjauh dari lapangan latihan di DIY.

Bagi pembaca di Jogja, Medan, atau siapa pun yang sedang mencari arah, ceritanya sederhana: keahlian yang diasah dengan sabar bisa membuka pintu ke tempat yang tak terduga. Pintu itu tidak selalu berupa medali. Kadang berupa kesempatan mengajar orang lain.

Kini jejaknya ada di dua sisi: sebagai atlet yang pernah dipercaya di Sharjah, dan sebagai pembina yang merawat tembak reaksi di Yogyakarta. Nama Hans Christian menjadi pengingat bahwa olahraga yang sunyi pun bisa membawa seseorang menyeberangi negara, lalu pulang untuk menanam ilmu.

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
atlet menembak Yogyakarta Perbakin DIY tembak reaksi Jogja pelatih tembak Sharjah Hans Christian Pratama