PSIM Jogja Berusia 97 Tahun, Honor the Legacy Jadi Pengingat Rawat Sejarah dan Budaya

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 21:10 WIB
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

JOGJA - PSIM Jogja memasuki usia ke-97 tahun, Sabtu (5/9/2026). Bertepatan dengan pertandingan perdana Laskar Mataram di BRI Super League 2026/2027, momentum itu menjadi pengingat bagi manajemen untuk kembali melihat perjalanan panjang klub sekaligus mempertahankan identitas yang melekat dengan Jogja.

Direktur Utama PSIM Yuliana Tasno menilai usia 97 tahun bukan sekadar angka bagi klub yang berdiri sejak 5 September 1929. Menurutnya, perjalanan panjang PSIM memiliki nilai historis yang kuat, terlebih klub ini merupakan salah satu pendiri PSSI.

"Makna usia ke-97 PSIM itu luar biasa karena nilai historisnya sangat kaya. Saya selalu mengatakan di mana pun saya sangat bangga dengan PSIM. Klub yang diamanahkan oleh Tuhan kepada saya ini punya nilai sejarah tinggi dan sangat membanggakan," tutur sosok yang akrab disapa Liana, Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Bek PSIM Jogja Franco Ramos Naik Status Jadi Kapten Utama Musim Ini, Nomor Punggung Juga Ikut Ganti

Liana mengatakan, identitas historis PSIM juga tidak bisa dilepaskan dari Jogja. Salah satu catatan pentingnya adalah keterkaitan klub dengan masa awal pembentukan PSSI, termasuk penggunaan kantor di Jogja ketika federasi sepak bola Indonesia itu menggelar kongres pertamanya.

"Selain nilai sejarah yang kuat, kami merupakan salah satu pendiri PSSI. Kantor kami di Jogja pun juga kantor yang digunakan PSSI saat menggelar kongres kali pertama. Oleh sebab itu, kami memiliki slogan bertajuk Honor the Legacy," jelasnya.

Slogan itu kemudian digunakan manajemen sebagai pijakan dalam membawa PSIM menuju usia satu abad. Bagi Liana, perjalanan menuju 100 tahun tidak cukup hanya berbicara mengenai pencapaian di lapangan, tetapi juga bagaimana klub tetap terhubung dengan sejarah dan kebudayaan daerah asalnya.

Baca Juga: Bulu Tangkis Piala Raja HB X ke-2 Siap Digelar di Yogyakarta, Dua GOR Disiapkan sebagai Venue

 "Perjalanan PSIM menuju usia ke-100 tahun diiringi slogan Honor the Legacy untuk mengingatkan kami agar senantiasa menjaga tradisi dan warisan kebudayaan Jogja. Bagaimana pun, PSIM adalah bagian dari DIJ yang kaya akan budaya," ungkap Liana.

Upaya menjaga keterhubungan itu salah satunya dilakukan melalui sejumlah tradisi yang tetap dijalankan menjelang musim kompetisi. Agenda seperti ziarah ke makam raja-raja Mataram di Imogiri dan Kotagede serta kunjungan ke Keraton Jogja menjadi bagian dari rangkaian yang dipertahankan manajemen.

 "Kami implementasikan Honor the Legacy lewat pelestarian tradisi sejak awal musim bergulir. Sejak dulu, kami tidak pernah melewatkan tradisi berziarah ke Imogiri serta berkunjung ke Keraton Jogja untuk memohon doa restu kepada Ngarsa Dalem," paparnya.

Baca Juga: Super League Dimulai, PSIM dan PSS di Satu Kasta, Fajar Junaedi: Jaga Marwah Sepak Bola DIY

Identitas Jogja juga coba dibawa ke sisi komersial klub. Selain melalui konten di media sosial, unsur budaya lokal turut dimasukkan ke dalam produk resmi PSIM, termasuk jersei yang menggunakan motif batik parang pada desain musim ini.

"Kami turut implementasikan unsur kebudayaan tersebut ke ranah komersial, baik melalui konten media sosial maupun desain produk resmi. Termasuk motif batik parang yang kami sematkan pada jersey tim,”  tambah Liana. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
BRI Super League 2026/2027 Honor the Legacy PSSI Laskar Mataram Yuliana Tasno