JOGJA - Kompetisi BRI Super League musim 2026/2027 resmi bergulir mulai Jumat (4/9/2026). PSIM Jogja akan mengawali kiprahnya dengan menghadapi Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Sabtu (5/9/2026).
Di sisi lain, kembalinya PSS Sleman ke kasta tertinggi membuat sepak bola DIY kini memiliki dua wakil di Super League musim ini. Kondisi itu sekaligus membuka kembali peluang hadirnya Derby DIY dengan intensitas rivalitas yang tinggi, baik di dalam maupun luar lapangan.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengamat sepak bola Fajar Junaedi mengingatkan agar rivalitas antara PSIM dan PSS tetap berada dalam koridor yang semestinya. Menurutnya, rivalitas dalam sepak bola merupakan sesuatu yang tidak perlu dihilangkan, tetapi harus diarahkan menjadi persaingan yang sehat.
Baca Juga: Gelandang PSS Sleman Frederic Injai Masih Butuh Waktu untuk Pulih usai Jalani Operasi
"Menurut saya, kita harus menjaga marwah sepak bola di DIY . Bahwa suporter itu terlibat kekerasan, itu adalah realitas di masa lalu," kata Fajar, Jumat (4/9/2026).
Penulis buku Komunikasi Olahraga di Era Digital itu menilai, fenomena rivalitas dan hooliganisme memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Karena itu, tantangannya bukan menghapus rivalitas, melainkan mengarahkanya agar tetap berada pada tempat yang tepat.
"Rivalitas itu kan di mana pun ada, tetapi kita juga perlu paham rivalitas yang pada tempatnya," ujarnya.
Menurut Fajar, tempat utama untuk mempertontonkan rivalitas tersebut adalah di dalam pertandingan. Sementara di luar lapangan, energi suporter seharusnya dapat diarahkan ke aktivitas yang lebih produktif.
Baca Juga: Tak Kunjung Pulang, Penjaring Ikan Hilang di Pantai Entak Kebumen
Ia bahkan membayangkan kelompok suporter di DIY dapat saling berkompetisi dalam hal literasi dan aktivasi sepak bola. Persaingan semacam itu dinilai justru dapat meningkatkan citra sepak bola DIY .
"Saya membayangkan misal teman-teman suporter di DIY dari semua klub saling berkompetisi membangun literasi, membangun aktivasi, itu kan jauh lebih bermartabat. Orang akan menjadi respek kepada sepak bola di DIY ini," jelasnya.
Dalam konteks PSIM, Fajar sendiri melihat suporter Laskar Mataram memiliki modal sosial yang kuat. Ia mencontohkan berbagai aktivitas yang dilakukan suporter ketika PSIM berada di kasta kedua, mulai dari membuat live YouTube, match program, zine, hingga statistik pertandingan.
Baca Juga: Modus Cuci Gamelan, Guru Karawitan di Kulon Progo Cabuli Remaja Laki-Laki
Aktivitas itu, menurut Fajar, menunjukkan suporter tidak hanya hadir untuk memberikan dukungan di stadion, tetapi juga mampu menghidupkan ekosistem klub secara sukarela. "Suporter PSIM ini kan enggak hanya protes aja, tapi mereka melakukan aktivasi," katanya.
Karena itu, Fajar berharap rivalitas antarklub di DIY pada musim ini tidak berhenti pada persaingan di lapangan, tetapi juga berkembang menjadi kompetisi positif dalam membangun ekosistem sepak bola. "Ekosistemnya harus kolaborasi dengan sehat, secara kolektif," tegasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja