Sugeng Rawuh Super League!

Ananto Priyatno • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 22:10 WIB
Ananto Priyatno (Pengamat Sepak Bola, Direktur Radar Jogja)
Ananto Priyatno (Pengamat Sepak Bola, Direktur Radar Jogja)

JOGJA - Piala Dunia baru saja berakhir. Tapi gaungnya seperti tak terasa. Ya. Mungkin karena Timnas tak lolos, jadi pildun kemarin serasa biasa saja. Tapi, masuk Agustus, penggila bola Jogja mulai merasakan kenaikan suhu. Tentu, suhu sepak bola. Kalau suhu udara Jogjakarta sih, sejuk awal Agustus 2026. Maklum, musim bediding belum usai.

 Sayup-sayup istilah Derby DIJ kerap terlihat di media. Baik konvensional atau media sosial. Di medsos lebih kenceng lagi. Pemberitaan tentang derbi ini mulai naik ke meja redaksi, dan akun-akun medsos. Ini tak lepas dari dua tim asal provinsi ini akan tampil di BRI Super League musim 2026/2027. Kebetulan hari ini peluit kick-off kompetisi ini segera ditiup.

Ya, setelah 18 tahun, PSIM Jogja dan PSS Sleman kembali satu panggung di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kali terakhir keduanya tampil di Divisi Utama 2006. Sayang, saat itu musibah gempa Jogja terjadi. PSIM terpaksa mengundurkan diri dari kompetisi. PSS yang lanjut. Tapi terdampar di urutan 10 klasemen. Dan gagal naik ke Superliga.

Baca Juga: Dua Ribu Sleman Fans "Ngeluruk" ke Bali, Pieter Huistra Ingatkan Para Suporter Jaga Kelakuan

 Keduanya sempat ketemu lagi di musim 2018. Tapi level Liga 2. Saat itu, di leg pertama PSIM menang 1-0. Tapi di leg kedua kala PSS tuan rumah, PSIM kalah 0-4. Musim ini, keduanya ketemu lagi. Bedanya, PSS datang sebagai tim promosi. Sementara saudara tuanya sudah semusim di Super League.

 Sebagai orang Jogja (tepatnya yang tinggal di Jogja), pasti ikut seneng. Dua tim ini sukses menembus level tertinggi sepak bola tanah air. Dua-duanya punya basis pendukung yang superfanatik. Tentu dengan ciri khas sendiri-sendiri. Dari sudut pandang media, ini tentu menguntungkan. Karena ada dua sumber berita yang seksi di satu wilayah.

 Apalagi kedua pendukung tim ini punya aktivitas tinggi di media sosial. Gayeng tenan, jika kita mengikuti aktivitas mereka. Salah satunya, saat PSIM dapat jersei Adidas. Wah, traffic di medsos seperti meroket. Tentu akun-akun medsos yang menyorot sepak bola Jogja. Penggemar PSIM seperti kaget. Tahu-tahu timnya gandeng brand olahraga dari Jerman, bukan jejer Kauman. Rasane ki piye ngono...

 Bangga, seneng meski banyak juga pertanyaan. Kenapa gini, kenapa gitu. Harusnya gini, harusnya gitu. Atau mending ini, mending itu. Tapi kalau dilihat dari sebaran netizen yang komen atau respons, yang bener-bener pendukung PSIM seneng sih. Buktinya banyak juga netizen yang komen di Podcast Mainbola kalau mayoritas pendukung PSIM demen sama jersei barunya.

Baca Juga: Hadapi Tuan Rumah Bali United, PSS Sleman Bertekad Amankan Tiga Poin di Laga Pembuka Super League

 Sekarang memang unik. Saat teknologi digital merambah ke media massa, banyak hal-hal yang dulu dianggap remeh temeh sama koran ternyata juga punya nilai berita. Kebetulan saya belakangan mantengin terus medsos-nya Mainbola sehingga tahu apa yang dibicarakan pendukung PSIM maupun PSS.

Bahkan, derbi yang masih dalam hitungan beberapa bulan ke depan juga sudah mulai ramai dipergunjingkan. Tentu, publik penasaran bagaimana derbi itu. Meskipun, jujur saja banyak juga yang masih waswas. Sebab, rivalitas antara PSIM dan PSS di kalangan pendukung grassroot juga masih tinggi.

Kita berharap derbi menjadi sangat damai. Karena banyak pendukung kedua tim ini sebenarnya yang beririsan. Banyak yang demen PSS juga seneng PSIM. Bahkan banyak dari pendukung keduanya yang bertetangga rumah. Harapannya tentu derbi ini membuat sepak bola menjadi indah. Bukan sebaliknya menjadi resah.

Baca Juga: Piala Indonesia Bikin Skuad PSIM Makin Ramping, Pemain EPA U-20 Dipertimbangkan Masuk ke Senior

Jujur dari sekian topik, kabar derbi ini cukup kencang. Saya juga penasaran seperti apa nanti. Tentu banyak yang ingin melihat kedua suporter sama-sama bernyanyi di tribun. Apalagi jargon Mataram is Love masih terdengar kencang di telinga. Harapannya nanti bener-benar love yang ada. Tapi kalau ada love pasti juga ada hate. Itu normal. Moga-moga saja hate-nya jangan sampe ketinggian.

 Dua tim ini memang menjadi pusaran perhatian publik bola di Jogja. PSIM punya pendukung tradisional yang fanatik. Banyak, senior-senior fans bola lama yang fanatik dengan PSIM. Maklum, tim ini usianya sudah 97 tahun. Dan salah satu dari enam tim pendiri PSSI. Pastilah pendukungnya dari beberapa generasi. Generasi kolonial, orde lama, orde baru, bahkan milenial juga berjibun. Sementara pendukung PSS sangat fanatik juga. Kini banyak komunitas pendukung PSS selain Slemania yang sudah lebih dulu ada. Brigata Curva Sud, menjadi yang terdepan. Mereka mayoritas anak-anak muda yang sarat kreativitas. Fanatisme mereka luar biasa. BCS-singkatannya mungkin menjadi salah satu suporter terbaik di dunia.

 Mereka seperti tak berhenti bernyanyi selama 90 menit. Sudah banyak tulisan atau laporan jurnalistik maupun lainnya yang menggambarkan BCS ini. Nah, dua kutub suporter inilah yang meramaikan sepak bola DIJ.

Baca Juga: Ze Valente Ungkap Cara Pemain Asing Baru Cepat Akrab: Komunikasi Bahasa Spanyol Jadi Penunjang

 Tak heran begitu musim kompetisi akan dimulai, antusiasme sepak bola Jogja ikut menggeliat. Harapannya kini, antusiasme itu bisa menjadi lokomotif tumbuhnya simpul-simpul ekonomi baru. Tentu ini akan menjadi keuntungan sendiri bagi Jogjakarta. Saya sering bermimpi, industri sepak bola bisa tumbuh di Jogjakarta. Dan penggeraknya dua klub itu. Apalagi baik PSS dan PSIM bisa dikatakan sehat secara finansial.

 Kita tak lagi mendengar kedua tim ini kesulitan membayar gaji pemain dan pelatihnya. Bahkan PSS sudah mulai memikirkan untuk membangun training ground. Ini menyenangkan didengar. Semoga segera terbangun. PSIM pasti juga memikirkannya. Sayang saat ini mereka masih fokus pada pembenahan Stadion Sultan Agung, markas sementaranya.

 Harapan bagi pendukung PSIM, mereka bisa kembali bernyanyi di tribun Mandala Krida. Stadion legendaris PSIM. Sugeng Rawuh, Super League di Jogja! (laz)

Ananto Priyatno

(Pengamat Sepak Bola, Direktur Radar Jogja)    

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
BRI Super League musim 2026/2027 Superliga Divisi Utama 2006 PSIM Ananto Priyatno