SLEMAN - Agenda Yogyakarta Open Tournament (YOT) VI di GOR UNY selama tiga hari (28-30/8) tidak hanya sekadar menjadi arena adu ketangkasan karate. Kejuaraan rutin tahunan itu menjelma sebagai kawah candradimuka bagi pembinaan atlet karate sejak usia dini.
Wakil Ketua Panitia YOT VI Hanung Prajarta mengungkapkan, dari total peserta yang berpartisipasi, lebih dari 3.000 atlet kategori festival merupakan karateka pemula. Mayoritas dari anak-anak usia dini yang baru merintis jalan di dunia bela diri asal Jepang itu.
Menurut Hanung, kategori festival disiapkan khusus sebagai ruang pembelajaran awal. Peserta tak cuma dituntut menguasai teknik dasar kata maupun kumite, tetapi juga dilatih mentalitasnya saat menginjakkan kaki di atas tatami.
"Tujuannya untuk mendidik bagaimana caranya bertanding karate, cara masuk lapangan, dan memahami situasi di arena pertandingan," katanya, Senin (31/8).
Baca Juga: Semangat, Pede dan Pantang Menyerah, 204 Atlet Purworejo Bakal Tampil di Popda Jawa Tengah
Secara statistik, antusiasme peserta YOT terus meroket. Jika edisi sebelumnya menyedot 4.800 peserta, YOT VI berhasil menembus angka 5.200 karateka. "Antusiasmenya semakin tinggi. Anak-anak SD sekarang banyak yang giat latihan karate," jelasnya.
Dari total peserta sekitar 2.000 atlet, bersaing di kategori Open. Hanung menegaskan, persaingan di level ini terbilang sangat kompetitif karena dihuni oleh jawara-jawara daerah.
"Kalau juara di sini, itu bukan juara kaleng-kaleng karena persaingannya ketat dan pool-nya banyak. Kalau bukan atlet matang, sulit menembus tiga besar," tegasnya.
Pada hari terakhir, kejuaraan ditutup dengan persaingan bergengsi di kelas Best of the Best (BOB) yang mempertemukan para kampiun dari tiap nomor. Pemenang berhak memboyong medali khusus serta dana pembinaan.
Kendati secara kuantitas menunjukkan grafik positif, Hanung menggarisbawahi pentingnya menjaga kualitas secara berjenjang. Menurutnya, karateka terbagi dalam tiga orientasi, yakni sekadar ikut teman, rekreasi, atau benar-benar mengejar prestasi.
"Kalau untuk orientasi prestasi, latihan seminggu satu dua kali jelas tidak cukup. Minimal harus empat kali," bebernya.
Baca Juga: 461 Atlet Disabilitas Ramaikan Kejurda III NPCI DIY 2026
Bahkan ketika memasuki pelatda atau pemusatan latihan, intensitas meningkat hingga enam hari sepekan. Dari proses itulah bakat alami dan keseriusan atlet akan tersaring.
Sementara, Ketua Panitia YOT VI Suparmadi menambahkan edisi kali ini terasa kian spesial berkat kehadiran kontingen mancanegara seperti India, Filipina, dan Malaysia. Ajang ini mempertandingkan nomor kata dan kumite dari kelompok pra-usia dini hingga senior.
"Harapannya seluruh atlet lokal bisa memacu potensi sekaligus memetik pengalaman berharga bertanding melawan karateka tingkat internasional," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja