SLEMAN - Penetapan pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 12 Desember 2019 menuntut langkah nyata dalam menjaga kelestariannya. Tidak sekadar mempertahankan eksistensi gerakan bela diri, penjagaan nilai, filosofi, dan sejarah yang melekat di dalamnya menjadi tantangan utama di era modern.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Laksmi Pratiwi mengatakan, arus globalisasi dan pola hidup cepat berpotensi mengikis makna mendalam dari pencak silat. Kondisi itu dikhawatirkan mereduksi pencak silat hanya sebatas olah fisik tanpa penjiwaan.
"Zaman yang instan dan bergerak cepat ini memunculkan kekhawatiran pengetahuan yang melekat di pencak silat justru terdegradasi. Jangan sampai hanya tersisa gerakan tanpa makna. Ini yang benar-benar harus kita jaga," ucapnya di sela Sarasehan Pencak Silat bertajuk "Di Persimpangan Jalan" di GIK UGM, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga: Unik! 11 Pasangan Nikah di Atas Tangki Air, Jadikan sebagai Mahar untuk Warga Terdampak Kekeringan
Dian menegaskan, DIY yang menjadi salah satu daerah pengusul pencak silat ke UNESCO memiliki komitmen kuat sejak 2023 untuk terus merawat warisan tersebut. Oleh karena itu pihaknya ingin para generasi muda bisa mendapatkan transfer keilmuan terkait hal tersebut.
"Pencak silat bukan sekadar gerak fisik, ada behind the scene berupa nilai kesabaran, kedisiplinan, penghormatan kepada senior, hingga kebersamaan. Nilai-nilai ini yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk karakter positif," tuturnya.
Dukungan terhadap pelestarian pencak silat juga datang dari kalangan akademisi. Universitas Gadjah Mada (UGM) memastikan komitmennya dalam memberikan ruang luas bagi perkembangan berbagai aliran pencak silat di lingkungan kampus.
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Wening Udasmoro menyampaikan, pendekatan terhadap pencak silat di UGM kini makin inklusif. Batasan sekat antar-perguruan yang dulu terkesan kaku kini mulai mencair.
Baca Juga: CJIBF 2026 Buka Peluang Investasi Rp19,07 Triliun Mengalir ke Jateng
"Sekarang sudah tidak ada lagi barrier atau sekat antar-perguruan. Kita berikan ruang seluas-luasnya, termasuk melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan untuk tampil di agenda-agenda resmi UGM," katanya.
Selain penyediaan ruang berekspresi, lanjut Wening, UGM juga turut mengambil peran dari sisi kajian ilmiah. Penelitian yang dilakukan menitikberatkan pada sudut pandang sosiologis dan antropologis, guna membedah dinamika sosial serta keragaman karakter tiap aliran.
"Riset kami lebih ke aspek sosiologis dan antropologis. Misalnya melihat posisi laki-laki dan perempuan, di mana ada jurus yang berkarakter maskulin maupun feminin," tuturnya.
Tak hanya itu, bagi Wening peran vital perguruan-perguruan kecil yang konsisten bergerak secara mandiri tanpa bergantung pada pendanaan pemerintah maupun korporasi. Menurutnya, keberlanjutan pencak silat di Indonesia merupakan hasil perjuangan kolektif dari seluruh lini, baik perguruan historis besar maupun kelompok-kelompok kecil di masyarakat. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja