JOGJA - Di usia yang baru 16 tahun, Athaullah Daib Pratama sudah mendapat kesempatan berlatih, sekaligus promosi ke tim senior PSIM Jogja. Penjaga gawang muda itu kini harus membagi waktu antara bangku sekolah dan lapangan latihan.
Daib lahir 9 April 2010 dan kini tetap menjalani rutinitas sebagai pelajar kelas XI SMAN 2 Playen, Gunungkidul. Selepas sekolah, ia bergegas menuju tempat latihan PSIM di Jogja untuk berlatih bersama pemain-pemain yang usianya jauh lebih senior.
Di tengah rutinitas itu, ia juga menyimpan mimpi untuk terus berkembang hingga suatu saat bisa mengenakan seragam Timnas Indonesia.
"Pertama saya mengucapkan alhamdulillah bisa masuk tim senior di umur 16 tahun ini. Di samping itu ada kerja keras dari saya, dari seleksi EPA, lalu main di EPA, terus bisa masuk ke tim senior ini," ujar Daib, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Polres Gunungkidul Bantu 25 Tangki Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Pudak Tepus
Perjalanan itu tidak datang secara tiba-tiba. Sebelum bergabung dengan EPA PSIM, Daib telah menekuni sepak bola sejak usia belia. Salah satu pengalaman penting dalam proses pembentukannya ketika ia tergabung dengan tim Barati dan bertanding dalam Gothia Cup di Swedia. Saat itu usianya baru 13 tahun.
"Sempat ke Swedia juga ikut tim Barati. Tahun 2023, itu seleksinya di Bali. Terus alhamdulillah saya terpilih, terus berangkat ke Swedia," tuturnya.
Di PSIM, Daib juga tidak lepas dari peran pelatih yang sejak kecil ikut membentuk kemampuannya. Salah satu sosok yang disebut banyak memberikan masukan kepadanya adalah Oni Kurniawan.
Bukan hanya teknik penjagaan gawang, Daib mengaku mendapatkan pesan sederhana yang terus diingat ketika berada di lapangan. Ia diminta bermain dengan hati dan tidak terlalu terbebani. "Terutama saat bermain, dia bilang ke saya, bermainlah pakai hati. Bermain santai saja," katanya.
Berbagai teknik penjaga gawang juga terus diberikan selama proses pembinaan. Kini, ilmu itu harus diterapkannya ketika berlatih bersama pemain-pemain yang secara usia jauh lebih senior di skuad PSIM.
Baca Juga: Layak Sejahtera, Fraksi PDI Perjuangan Sleman Desak Upah PPPK Paruh Waktu Harus Setara UMK
Alih-alih merasa minder, Daib justru menikmati pengalaman tersebut. Setiap sesi latihan menjadi kesempatan baginya untuk belajar dari pemain yang sudah lebih dulu merasakan atmosfer sepak bola profesional. "Tidak ada beban dan rasanya sangat senang. Banyak belajar juga dari senior-senior," ujar Daib.
Menariknya, Daib juga langsung merasakan pengalaman dilatih pelatih asing. PSIM saat ini ditangani Jean Paul van Gastel, pelatih asal Belanda yang membawa pengalaman sepak bola Eropa ke dalam lingkungan tim.
Selain itu, ada juga Mario Capece yang saat ini menjadi pelatih kiper Laskar Mataram. Pelatih kiper asal Italia itu jadi salah satu orang yang turut merekomendasikan Daib untuk naik ke tim senior PSIM.
Secara pribadi, Daib mengaku senang mendapatkan kesempatan tersebut. Menurutnya, pengalaman dilatih pelatih asal Eropa menjadi bagian penting dari proses perkembangannya.
"Kalau bagi saya tentu senang bisa dilatih dengan pelatih asing yang notabene dari Eropa. Bisa membawa budaya Eropa ke Indonesia sini," katanya.
Meski sudah berstatus pemain tim senior, kehidupan Daib sebagai pelajar belum berhenti. Setiap pagi, ia tetap menjalani aktivitas sekolah di SMAN 2 Playen. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju tempat latihan PSIM pada sore hari.
Baca Juga: Jumlah 11 Pemain Asing PSIM Jogja Sudah Terpenuhi, Van Gastel Ungkap Proses Rekrutmennya Rumit
Rutinitas itu membuat Daib hampir setiap hari harus menempuh perjalanan pulang-pergi antara Gunungkidul dan tempat latihan PSIM di Kota Jogja. Untuk mobilitas, ia mengaku lebih sering menggunakan sepeda motor.
"Kalau latihannya sore, saya berangkat sekolah dulu. Habis itu saya izin di siang hari, terus langsung berangkat ke tempat latihan," ungkapnya.
Secara garis besar, tidak setiap hari ia harus meninggalkan sekolah dalam waktu lama. Namun, terdapat agenda tertentu bersama PSIM yang berlangsung pada pagi hari, sehingga membuatnya harus izin sepenuhnya dari kegiatan belajar.
"Ada momen tertentu saya harus izin dan nggak bisa datang ke sekolah," katanya. Di tengah tuntutan itu, orang tua menjadi pihak yang terus memberikannya dukungan.
Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Toko Sembako di Bantul Terbaka: Kerugian Ditaksir Rp 1,5 M
Daib mengatakan pesan yang diberikan orang tuanya sederhana, bahwa ia harus menjalani proses terlebih dahulu tanpa terlalu membebani diri dengan berbagai target. "Kalau orang tua pesannya, jalani dulu aja," ujarnya.
Dukungan itu membuat Daib bisa menikmati fase barunya sebagai pemain muda di tim senior. Ia mengaku tidak merasakan beban berlebihan ketika harus bersaing dan berlatih bersama para pemain yang lebih berpengalaman.
Targetnya pun tidak muluk untuk musim pertama. Ia ingin terus berkembang dan menjadi pemain yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Namun di balik target tersebut, Daib menyimpan ambisi yang lebih besar. Ia ingin suatu saat mendapatkan kesempatan memperkuat Timnas Indonesia.
Untuk saat ini, fokusnya tetap pada proses bersama PSIM. Kontraknya bersama tim senior berlangsung selama satu musim.
Ia juga masih memiliki ruang untuk terus berkembang melalui pertandingan EPA apabila mendapat kesempatan. "Semoga bisa menjadi lebih baik dari kemarin. Kalau target masuk timnas itu ada. Semoga bisa," ucapnya. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja