Super League Bukan Sekadar soal Prestasi, Liana Tasno Prioritaskan PSIM Jogja Jadi Klub Sehat

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 21:31 WIB
Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno (Foto: Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 JOGJA - PSIM Jogja tidak ingin perjalanan di BRI Super League atau kasta tertinggi sepak bola Indonesia hanya berhenti pada keberhasilan untuk bertahan selama beberapa tahun. Manajemen mulai menyiapkan fondasi jangka panjang dengan menjadikan pengembangan pemain muda atau youth development sebagai salah satu prioritas dan pondasi klub.

Direktur Utama PSIM Liana Tasno mengatakan, keberhasilan menembus kasta tertinggi setelah penantian 18 tahun dan kini memasuki tahun kedua, harus juga diikuti langkah yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, performa tim tetap menjadi prioritas, tetapi harus berjalan beriringan dengan kemampuan finansial klub.

"Performa ini tetap harus diseimbangkan dengan cost. Karena cost yang dikeluarkan itu lama-lama bisa nggak bertahan juga," kata Liana, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: PSIM Jogja Uji Lampu Baru di Stadion Sultan Agung, Siap Sambut Super League 2026/2027

Karena itu, PSIM tidak ingin terus mengandalkan pembelian pemain setiap musim. Investasi terhadap pemain muda dinilai juga penting agar klub memiliki sumber daya dari dalam yang nantinya dapat memperkuat tim utama.

"Mau tidak mau kan harus tercipta youth development. Karena youth development ini yang akan menyuplai ke first team, sehingga kita nggak beli pemain terus," ujarnya.

Liana mengakui, membangun sistem pengembangan pemain muda bukan perkara mudah. Salah satu kebutuhan yang masih diupayakan PSIM adalah keberadaan fasilitas latihan yang representatif. Saat ini klub masih menggunakan lapangan dengan sistem sewa sembari melakukan pemetaan lokasi untuk memproyeksikan pembangunan training ground.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Belajar Pengelolaan Sampah ke Kota Jogja

Namun, Liana memastikan proses tersebut tetap berjalan meski manajemen memilih tidak banyak mengumbar rencana sebelum terealisasi.

Bagi Liana, pembangunan akademi bukan hanya ditujukan untuk kebutuhan sepak bola PSIM. Ada misi yang lebih luas, yakni memberikan ruang bagi anak-anak muda di DIY untuk berkembang melalui sepak bola sekaligus membangun lingkungan yang positif.

Di sisi lain, manajemen tidak ingin terburu-buru membebani tim utama dengan target tinggi. Liana menyebut PSIM saat ini lebih membutuhkan fondasi yang kuat agar bisa menikmati perjalanan di Super League secara berkelanjutan. "Saya ingin tim bertahan dan stabil. Tidak ada target muluk-muluk," ujarnya.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Belajar Pengelolaan Sampah ke Kota Jogja

Menurutnya, mimpi membawa PSIM ke level Asia tetap ada. Namun, target tersebut belum menjadi prioritas dalam waktu dekat. Manajemen ingin membangun klub secara bertahap, dimulai dari menjaga keberadaan PSIM di Super League sekaligus memperkuat jalur pembinaan pemain muda.

Dengan pendekatan itu, PSIM diharapkan tidak hanya memiliki tim yang kompetitif, tetapi juga ekosistem sepak bola yang mampu menghasilkan pemain sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap aktivitas belanja pemain. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Youth Development PSIM training ground first team Liana Tasno