JOGJA - Jogjakarta kembali menjadi magnet bagi klub-klub sepak bola profesional untuk menjalani pemusatan latihan atau training camp (TC) menjelang kompetisi musim 2026/2027. Fenomena ini terlihat dari sejumlah klub Super League dan Championship yang memilih DIY sebagai lokasi persiapan sepanjang pramusim.
Per 5 Agustus 2026, diketahui ada beberapa klub yang sedang menjalani TC di wilayah DIY. Dari kasta Super League, ada PSIM Jogja dan PSS Sleman yang memang klub asal DIY. Di sisi lain, juga ada Borneo FC Samarinda, Java United yang sebelumnya bernama Malut United, dan Persita Tangerang. Sementara dari Championship terdapat Semen Padang FC.
Borneo FC dijadwalkan menjalani TC di Jogja selama sekitar satu bulan sejak awal Agustus. Sementara Persita memilih Jogja sebagai lokasi TC selama dua pekan pada awal Agustus. Sementara Semen Padang FC juga telah bertolak ke Jogja pada 2 Agustus lalu dan dijadwalkan menjalani rangkaian uji coba hingga 18 Agustus 2026.
Fenomena itu jadi bagian dari arus TC klub profesional di DIYsepanjang pramusim. Sebelumnya, PSIS Semarang juga sempat menjadikan Jogja sebagai lokasi pemusatan latihan sebelum menyelesaikan agenda itu pada 2 Agustus 2026. Setelah itu, giliran PSM Makassar yang dijadwalkan menyusul. Juku Eja akan menjalani TC di Jogja pada 7-21 Agustus 2026.
Baca Juga: Gubernur DIY HB X Lantik Sembilan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Ini Daftar Namanya yang Dilantik!
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengamat sepak bola dan penulis buku Komunikasi Olahraga di Era Digital Fajar Junaedi menilai, banyaknya klub yang memilih melakukan TC di DIY bukan sekadar kebetulan. Menurutnya, ada kombinasi faktor yang membuat DIY menjadi pilihan praktis bagi klub profesional. Mulai dari kualitas lapangan, biaya operasional, akses transportasi, hingga kemudahan mendapatkan lawan uji coba.
"Faktor utamanya cukup jelas kualitas lapangan yang banyak berstandar bagus, biaya hidup yang relatif terjangkau untuk penginapan, makan, dan kebutuhan tim. Serta kemudahan transportasi karena posisi geografisnya strategis," kata Fajar kepada Radar Jogja, Rabu (5/8/2026).
Menurut Fajar, akses menuju DIY juga menjadi salah satu pertimbangan penting. Klub dari luar daerah relatif mudah menuju DIY melalui jalur udara maupun darat, dengan berbagai pilihan moda transportasi. Kondisi ini membuat mobilisasi pemain, staf pelatih, dan kebutuhan tim menjadi lebih efisien.
Di sisi lain, keberadaan banyak fasilitas latihan membuat klub memiliki pilihan venue yang lebih beragam. Tidak hanya fasilitas milik pemerintah atau klub, sejumlah perguruan tinggi di DIY juga memiliki lapangan sepak bola yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan latihan.
Baca Juga: Dinkes Kota Jogja Ungkap Masih Ada Orang Tua Tolak Anaknya Diimunisasi, Orang Tua Diimbau Tidak Ragu
Beberapa perguruan tinggi disebutnya juga memiliki fasilitas olahraga yang dapat menjadi bagian dari ekosistem latihan di DIY. Kondisi itu memberikan fleksibilitas bagi klub yang butuh lapangan berkualitas dalam periode ketika sejumlah tim lain juga sedang menjalani TC.
"Ada fasilitas latihan yang relatif banyak, baik milik pemerintah atau swasta. Juga termasuk lapangan milik kampus seperti UNY, UMY, UII, dan UGM, memang jadi salah satu keunggulan nyata dibanding daerah lain," ujar Fajar.
Menurutnya, banyaknya pilihan itu membuat klub tidak harus bergantung pada satu atau dua lapangan. Fleksibilitas itu semakin terasa ketika beberapa klub datang dalam waktu yang berdekatan.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah ekosistem sepak bola di DIY. Keberadaan PSIM Jogja, PSS Sleman, dan Persiba Bantul membuat klub yang menjalani TC di Jogja memiliki lebih banyak opsi untuk mencari lawan uji coba.
"Selain fasilitas, ekosistem klub sepak bola di DIY yang cukup hidup juga ikut menarik perhatian. Keberadaan PSIM, PSS, dan Persiba Bantul menciptakan atmosfer yang mendukung,” katanya.
Jarak antarkota dan kabupaten yang relatif dekat juga memudahkan klub mengatur agenda pertandingan uji coba. Bahkan, ketika sejumlah klub dari luar daerah datang bersamaan untuk TC, mereka dapat saling menjadi lawan latih tanding.
Baca Juga: Kirim 42 Anggota Pramuka ke Jambore Nasional, Pemkot Magelang Siapkan Duta Karakter Generasi Muda
"Klub juga mudah mencari lawan uji coba karena banyak tim lain yang sama-sama TC di sini. Suasana yang nyaman dan hemat operasional membuat banyak manajemen klub merasa Jogja jadi pilihan praktis," tutur Fajar.
Kondisi ini membuat DIY menawarkan paket yang cukup lengkap bagi klub profesional. Mereka tidak hanya mendapatkan tempat latihan, tetapi juga akses transportasi yang relatif mudah, pilihan akomodasi yang beragam, biaya operasional yang kompetitif, serta lingkungan sepak bola yang memungkinkan agenda uji coba lebih mudah disusun.
Meski demikian, Fajar menilai fenomena ini belum cukup untuk menjadikan DIY sebagai pusat TC sepak bola utama. Menurutnya, DIY saat ini lebih tepat disebut sebagai salah satu hub favorit yang sedang berkembang.
"Sudah pantas disebut salah satu hub favorit, terutama bagi klub yang mencari kombinasi efisiensi biaya, opsi lapangan, dan kemudahan mencari lawan. Namun masih terlalu dini menyebutnya sebagai training hub utama yang setara dengan destinasi kelas dunia," ungkapnya. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja