SLEMAN - Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola DIJ. Mantan pemain PSS Sleman dan PSIM Jogja Markus Fajar Listiyantara meninggal dunia, Sabtu (25/7) pukul 00.08 di RS PKU Muhammadiyah Kota Jogja, setelah berjuang melawan penyakit gagal ginjal. Almarhum berpulang di usia 45 tahun.
Fajar dikenal sebagai salah satu pemain yang pernah membela dua klub besar DIJ. Semasa aktif bermain, ia memiliki ciri khas lemparan ke dalam jarak jauh yang kerap menjadi senjata saat membangun serangan.
Kakak kandung Fajar sekaligus legenda PSS dan PSIM Seto Nurdiantara mengungkapkan, kondisi adiknya terus mengalami pasang surut dalam beberapa pekan terakhir. Sekitar satu pekan hingga 10 hari sebelum meninggal, Fajar juga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
"Perkembangannya naik turun. Artinya kondisinya memang tidak stabil, terus beliau juga susah makan. Sekitar 10 hari terakhir sempat opname di RS Bhayangkara, kemudian dirujuk ke PKU," ujar Seto saat ditemui di rumah duka, Glondong RT 001/RW 001, Tirtomartani, Kalasan, Sleman.
Baca Juga: Innalillahiwainnailaihirojiun, Legenda PSS Sleman dan PSIM Jogja Fajar Listyantara Meninggal Dunia
Menurutnya, dokter sempat menyarankan pemasangan alat bantu pernapasan. Namun tindakan tersebut memiliki risiko tinggi mengingat kondisi Fajar yang sudah sangat lemah.
"Tiga hari terakhir dokter menyarankan alat bantu pernapasan, tapi dengan risiko yang mungkin lebih parah juga. Jadi keputusan kami hanya menyerahkan sama Gusti Allah," katanya.
Seto menjelaskan, gagal ginjal menjadi penyakit utama yang diderita Fajar. Menjelang akhir hayatnya, kondisi almarhum semakin menurun setelah tekanan darah dan gula darahnya yang tidak stabil.
"Memang awalnya gagal ginjal. Kemarin dokter sampaikan kondisinya tidak stabil, tekanan darah turun, gula darah turun. Kami keluarga hanya bisa terus memberi dukungan semaksimal yang kami mampu," ungkapnya.
Mewakili keluarga, Seto juga menyampaikan permohonan maaf apabila semasa hidup sang adik memiliki kesalahan. "Kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila semasa hidup Fajar ada kesalahan dan kekhilafan. Semoga Fajar bisa tenang," ucapnya.
Duka cita juga disampaikan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Beberapa pekan sebelum Fajar meninggal, Danang sempat mengunjungi kediamannya untuk menyerahkan bantuan kursi roda sekaligus memberikan semangat menjalani pengobatan.
"Beliau minta doa restu dan support supaya semangat menjalani pengobatan. Dia juga tidak mengira sakitnya bisa separah ini. Setelah sekitar bulan Maret, kondisinya terus menurun," kata Danang.
Danang mengatakan, saat itu Fajar masih menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam sepekan. Meski kondisi fisiknya yang terus melemah, semangatnya untuk sembuh masih terlihat.
"Dia masih semangat, masih mau bercerita. Yang paling saya ingat, dia berkali-kali bilang tidak menyangka bisa sakit seperti ini. Padahal sebelumnya merasa sehat-sehat saja," ujarnya.
Ia juga mengenang sosok Fajar sebagai pemain yang memiliki kemampuan lemparan ke dalam jarak jauh yang menjadi ciri khasnya ketika membela PSS Sleman.
"Saya ingat waktu beliau bermain di PSS. Yang paling khas tentu lemparan ke dalamnya yang sangat jauh. Itu menjadi kelebihan yang tidak dimiliki banyak pemain lain," kenangnya.
Secara pribadi, Danang berharap almarhum bisa mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. "Kami hanya bisa doakan semoga beliau diampuni segala dosanya, diterima segala amal kebaikannya, dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan," tandasnya.
Kepergian Fajar Listiyantara ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Tetapi juga rekan-rekan seperjuangan hingga para suporter yang pernah menyaksikan kiprahnya di lapangan hijau.
Sosok Fajar dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, mudah bergaul, sekaligus pemain dengan kemampuan lemparan ke dalam yang sulit ditandingi pada masanya.
Mantan rekan setim Fajar di PSS Muhammad Anshori atau yang akrab disapa Bagong, mengaku telah mengenal Fajar sejak akhir 1990-an. Keduanya sempat bermain bersama sejak level usia muda hingga memperkuat tim senior PSS Sleman selama sekitar lima hingga enam musim.
Menurut Bagong, di luar lapangan Fajar merupakan sosok yang ceria dan sangat mudah akrab dengan siapa saja. "Yang jelas dia orangnya periang. Sama teman juga suka bercanda. Orangnya enak diajak bercanda, diajak main, apalagi diajak jalan-jalan, paling enak," kenangnya saat ditemui di rumah duka.
Meski sama-sama telah pensiun sebagai pesepak bola profesional, komunikasi di antara para pemain generasi tersebut tetap terjalin. Mereka kerap bertemu dalam laga fun football maupun pertandingan veteran.
Secara pribadi, Bagong mengaku baru mengetahui kondisi kesehatan Fajar setelah rekan-rekannya menggelar laga amal untuk membantu biaya pengobatan akibat gagal ginjal yang diderita mantan bek itu. Ia pun sempat menjenguk Fajar sekitar sebulan lalu ketika hendak mengikuti turnamen di Taji.
Saat itu, kondisi Fajar memang sudah terlihat melemah, namun masih bisa berkomunikasi dengan baik. "Waktu itu memang sudah sakit dan kelihatan lemas. Tapi masih bisa diajak bicara, masih tahu siapa saja yang datang menjenguk," ujarnya.
Ia menuturkan, kabar meninggalnya Fajar justru baru ia ketahui pada Sabtu pagi setelah diberitahu sang istri. "Tahunya malah pagi tadi dari istri. Habis itu kami langsung memutuskan datang ke sini untuk takziah," ungkapnya.
Senada, mantan pemain PSS lainnya, M. Eksan mengenang Fajar sebagai pribadi yang juga memiliki sikap baik terhadap siapa pun. Menurutnya, karakter itu membuat Fajar mudah diterima di lingkungan tim.
"Mas Fajar orangnya baik dan supel. Kalau sama yang senior juga sangat menghormati, attitude-nya baik," ujar Eksan yang pernah bermain bersama Fajar di PSS pada periode 2002 hingga 2005.
Di atas lapangan, Eksan menilai Fajar memiliki kualitas teknis yang menonjol. Terutama kemampuan melakukan lemparan ke dalam jarak jauh yang menjadi ciri khasnya. "Sebagai pemain, Mas Fajar punya kelebihan di lemparan ke dalam yang jauh. Selain itu teknik dan skill-nya juga bagus," tambahnya.
Kenangan serupa juga datang dari kalangan suporter. Andreas Rah Aji, pengelola media komunitas Ayo Dukung PSIM, mengaku Fajar menjadi salah satu pemain yang membekas dalam ingatannya.
"Kalau saya ingatnya di PSIM itu jelas lemparan ke dalam Mas Fajar. Menurut saya, sebelum era sepak bola modern seperti sekarang, kemampuan itu belum dimiliki banyak pemain. Lemparannya memang khas," ujarnya.
Salah satu momen yang paling diingatnya adalah saat PSIM menghadapi PSIS Semarang di Stadion Mandala Krida Jogja. Meski PSIM kalah, Andreas masih mengingat proses gol yang diawali lemparan jauh Fajar.
"Gol itu berawal dari lemparan dalam Mas Fajar, diteruskan Jaime Sandoval, lalu diselesaikan Mas Seto dengan salto. Sampai sekarang saya masih ingat momen itu," kenangnya.
Secara pribadi Andreas mengaku sempat merancang penggalangan dana melalui penjualan poster bertandatangan Fajar untuk membantu biaya pengobatan sang legenda. Namun, rencana itu belum sempat diwujudkan hingga Fajar berpulang.
"Sebenarnya kami sudah menyiapkan konsep open donasi lewat penjualan poster bertandatangan Mas Fajar. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saya merasa punya utang karena belum sempat mewujudkan itu," tuturnya.
Tak hanya itu, Andreas juga mengaku menyesal belum sempat memenuhi ajakan Fajar untuk kembali menonton pertandingan PSIM bersama. "Saya pernah diajak Mas Fajar nonton PSIM bareng, tapi waktu itu saya sedang bekerja. Sampai sekarang itu menjadi penyesalan saya, karena ternyata kesempatan tersebut tidak datang lagi," tuturnya lirih. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja