Pelatih asal Belanda ini mengaku sangat terkesan dengan kedalaman skuad Tim Matador sepanjang turnamen. Keberhasilan Spanyol di panggung tertinggi sepak bola dunia itu dinilainya bukan karena faktor individu semata, melainkan buah dari soliditas kolektif yang luar biasa.
Huistra pun tak ragu menjadikan permainan impresif Spanyol sebagai pelecut motivasi bagi anak-asuhnya di skuad Laskar Sembada. Pelatih berusia 59 tahun itu ingin Dominikus Dion dan kawan-kawan meniru etos kerja pasang surut yang ditunjukkan oleh Timnas Spanyol itu.
"Mereka bermain sebagai sebuah tim. Jadi itu juga merupakan contoh yang sangat baik bagi Sleman," bebernya, Senin (20/7/2026) siang.
Mantan pelatih Borneo FC itu juga menekankan sepak bola modern menuntut kekompakan yang presisi di setiap lini. Baginya, menyamakan visi bermain di atas lapangan adalah kunci utama jika PSS ingin merangsek ke papan atas dan bersaing memperebutkan prestasi tertinggi di kompetisi Super League musim 2026/2027.
"Sleman juga harus bermain sebagai sebuah tim dan dengan begitu, Anda bisa meraih target yang tinggi," tegasnya.
Lebih lanjut Huistra juga memberikan wanti-wanti keras kepada anak asuhnya. Ia menilai, bakat individu yang melimpah di dalam tim tidak akan berbicara banyak jika ego-ego sentris masih mendominasi di dalam lapangan. Kolektivitas tim adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. "Jika Anda tidak bermain sebagai sebuah tim, itu akan sulit dilakukan," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja