JOGJA - Kondisi Stadion Mandala Krida yang tak kunjung bisa digunakan secara maksimal menjadi ganjalan besar bagi PSIM Jogja. Alih-alih menjadi rumah yang megah bagi sepak bola DIJ, stadion bersejarah itu justru menyisakan pilu akibat kasus korupsi yang menimpa pembangunannya.
Direktur Utama PSIM Yuliana Tasno mengaku sangat kecewa dengan kasus korupsi yang terjadi di Stadion Mandala Krida itu. Wanita yang akrab disapa Liana ini menyayangkan mengapa fasilitas publik yang sangat dinantikan masyarakat dan klub sebesar PSIM harus menjadi objek culas para koruptor.
Bagi Liana, dampak dari korupsi bukan sekadar perkara anggaran yang hilang, melainkan rusaknya tatanan dan mimpi banyak orang. "Korupsi itu sangat merusak olahraga, merusak institusi apa pun, merusak organisasi. Itu sangat merusak dan benar-benar korup itu parah banget, kanker yang mematikan," tegasnya, Senin (29/6).
Oleh karena itu, saking geramnya dengan kasus korupsi tersebut, Liana selalu memberikan edukasi kepada para anak-anak muda agar jangan sampai ke depan menjadi seorang koruptor.
"Makanya saya ke mana-mana, ke universitas sekarang, saya mengedukasi adik-adik mahasiswa. Mereka harus mempunyai integritas, itu di atas segalanya," lontarnya.
Bukan tanpa alasan Liana melakukan hal itu. Kekecewaannya kian menebal saat melihat daerah lain berlomba-lomba mempercantik diri dengan fasilitas olahraga yang representatif. Di saat kota-kota lain sudah memiliki stadion yang layak dan modern, Kota Jogja justru harus tertatih-tatih akibat ulah segelintir oknum.
Padahal, jika proyek Stadion Mandala Krida digarap dengan jujur, lanjut Liana, kualitasnya dipastikan bakal jempolan dan mampu menampung gairah sepak bola Jogjakarta. "Padahal kalau misalnya dibangun dengan benar, seharusnya itu menjadi rumah sepak bola untuk Jogjakarta," bebernya.
Baca Juga: Van Gastel Percaya Kolaborasi Dengan Staf Lokal, Komposisi Tim Kepelatihan PSIM Jogja Dipertahankan
Maka dari itu, akibat situasi pelik tersebut Liana membeberkan bahwa manajemen Laskar Mataram tidak akan tinggal diam dan meratapi keadaan. Sebuah gerakan internal dideklarasikan untuk menyelamatkan napas klub secara finansial dan prestasi.
Manajemen PSIM kini mulai realistis dan dipaksa memutar otak jika dalam satu hingga dua musim ke depan masih belum bisa pulang ke Mandala Krida. Opsi mengungsi ke Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul yang sudah dijalani dalam beberapa waktu terakhir, kini mulai dikalkulasi secara mendalam.
"Di manajemen itu sudah coba untuk berhitung, misalkan ini kalau kita gak main di Mandala Krida lagi dalam satu atau dua musim terakhir. Dengan satu musim ini hanya kita di SSA, secara operasional dan sebagainya akan gimana gitu. Pasti, pasti (berhitung)," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun