JAKARTA - Nama Reidel Alfonso Toiran Sanet kini resmi terpatri dalam sejarah emas bola voli Indonesia.
Pelatih asal Kuba ini sukses menjadi arsitek di balik keberhasilan fenomenal Timnas Voli Putra Indonesia saat merajai Asia dan memboyong trofi AVC Men's Cup 2026 untuk pertama kalinya.
Namun, bagi publik voli tanah air, sosok Toiran sebenarnya bukanlah orang baru. Sebelum dikenal sebagai juru taktik yang dingin dan jenius di pinggir lapangan, ia adalah salah satu legenda pemain asing yang paling disegani di kompetisi Proliga.
Kisah cinta Toiran dengan bola voli Indonesia dimulai lebih dari satu dekade lalu. Pria kelahiran Kuba ini pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia sebagai pemain profesional. Memiliki postur tinggi besar khas Amerika Latin, Toiran berposisi sebagai Outside Hitter atau Opposite.
Sebagai pemain, Toiran menghabiskan sebagian besar kariernya di Indonesia bersama klub raksasa Surabaya Bhayangkara Samator (kini Surabaya Samator). Di bawah asuhan pelatih legendaris (Alm) Li Qiujiang, Toiran menjadi motor serangan utama.
Baca Juga: Anggaran Makan Bergizi Gratis Bakal Dipangkas Rp 40 Triliun, Ini 4 Strategi Efisiensinya
Bersama deretan pemain lokal seperti Rivan Nurmulki, Mahfud Nurcahyadi, hingga Nizar Julfikar, Toiran sukses mempersembahkan banyak gelar juara Proliga untuk Samator (di antaranya musim 2014, 2016, 2018, dan 2019).
Saat masih aktif bermain, Toiran dikenal sebagai pemain yang sangat disiplin, memiliki smesh menukik yang mematikan, serta mental bertanding yang sangat tenang di poin-poin kritis.
Setelah memutuskan pensiun sebagai pemain, Toiran tidak bisa jauh dari dunia yang membesarkan namanya. Ia memilih menetap di Indonesia dan memulai kariernya sebagai pelatih. Hebatnya, DNA juara yang ia miliki sebagai pemain langsung menular saat ia memegang papan strategi.
Ia mulai dipercaya menukangi tim-tim besar di Proliga, termasuk membawa Bhayangkara Presisi tampil kompetitif di level domestik maupun antarklub Asia (AVC Club Championship).
Gaya melatih Toiran dikenal sangat menekankan pada aspek fundamental:
Disiplin Blok dan Pertahanan: Memanfaatkan pengalamannya di Kuba, Toiran sangat jeli membangun sistem pertahanan atas net (blok) yang rapat.
Ketenangan Mental: Toiran jarang terlihat meledak-ledak di pinggir lapangan. Ketenangannya justru menjadi obat penenang bagi para pemain muda Indonesia saat berada di bawah tekanan lawan.
Puncak Karier: Membawa Garuda Merajai AVC Men's Cup 2026
Puncak pembuktian kualitas Reidel Toiran terjadi ketika Pengurus Pusat PBVSI mempercayakan kursi pelatih kepala Timnas Voli Putra Indonesia kepadanya untuk ajang AVC Men's Cup 2026 di India.
Baca Juga: Sejarah Baru Voli Indonesia! Skuad Garuda Juara AVC Men's Cup 2026 Usai Tumbangkan Korea Selatan
Di turnamen ini, Toiran menunjukkan kejeniusan taktiknya:
Memercayai Darah Muda: Toiran berani mengombinasikan pemain berpengalaman seperti Farhan Halim dengan talenta muda seperti Fauzan Nibras, Boy Arnez, dan Alfin Daniel.
Rotasi yang Menjadi Game Changer: Seperti yang terlihat pada laga final melawan Korea Selatan, Toiran sangat peka membaca penurunan performa pemain. Keputusannya melakukan rotasi kilat di set kedua dan ketiga terbukti merusak ritme permainan Korea Selatan dan mengunci kemenangan telak 3-0.
Dari seorang pemain asing yang merantau ke Indonesia, Reidel Toiran kini telah menjelma menjadi pahlawan taktik yang membawa bendera Merah Putih berkibar di podium tertinggi bola voli Asia.
Editor : Bahana.