RADAR JOGJA - Menyambut Derby DIJ yang bakal tersaji di kompetisi Super League musim 2026/2027 mendatang, para mantan penggawa legendaris PSS Sleman dan PSIM Jogja menggelar laga tanding. Tajuknya: Laga Amal Tiga Penjuru, Nostalgia, Sepak Bola, dan Kemanusiaan, di Stadion Tridadi, Sleman, Jumat (12/6) sore.
Pertandingan eksibisi yang baru kali pertama digelar ini mempertemukan PSS Legend dan PSIM Legend, dengan kehadiran tamu kehormatan jauh dari Kalimantan Tengah, Sampit Football Legend. Agenda ini seolah menjadi pesan sejuk bagi kedua basis suporter, bahwa di atas rivalitas 90 menit ada kemanusiaan dan persaudaraan yang abadi.
Selain untuk menyongsong Derby DIJ yang mempertemukaan PSIM Jogja PSS Sleman di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan, misi utama bertemunya para legenda bola di Joghakarta ini adalah menggalang donasi untuk meringankan beban para mantan pesepak bola Jogjakarta yang tengah berjuang melawan sakit keras. Hasilnya, dana segar sebesar Rp 9 juta itu berhasil dikumpulkan dari para penggawa dan donatur.
Baca Juga: Batasi Penggunaan Gawai Saja Tak Cukup, KPAID Kota Jogja Dorong Ruang Kreatif untuk Remaja
"Alhamdulillah banyak yang support juga. Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut, menjadi sesuatu hal yang baik dan positif untuk sepak bola di DIJ," ucap Ketua Pelaksana Kegiatan Agus Purwoko saat ditemui usai pertandingan.
Ia mengatakan, dana sosial yang terkumpul itu langsung didistribusikan secara rata untuk empat sosok yang sedang tertimpa musibah kesehatan. Dua di antaranya adalah Fajar Listyantoro dan Diki Fajar penggawa, andalan Super Elja angkatan 2005 yang keduanya kini tengah berjuang melawan penyakit gagal ginjal.
Sementara dari kubu Laskar Mataram, uluran tangan diberikan kepada Prasetyo Sugiyanto serta Mbah Suyatno, sosok lawas keluarga besar PSIM yang kini sedang berjuang pulih dari serangan stroke.
Baca Juga: Dilema Ojol di Tengah Melambungnya Harga BBM, Pakai Pertamax Rugi, Antre Pertalite Boros Waktu
Oleh karena itu, Agus mengatakan laga amal ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang nostalgia melepas rindu. Tetapi juga menjadi fondasi kultural yang sehat bagi iklim sepak bola DIJ yang akan segera menyambut tensi tinggi Derby DIJ di liga resmi musim depan.
Persaudaraan antarmantan pemain diharapkan menular ke tribun penonton. "Tujuan kami sepenuhnya adalah sosial. Jadi biar persaudaraan kita sesama mantan pemain ini tetap berjalan dengan baik," tegasnya.
Sementara Executive Representative PSS Sleman Vita Subiyakti yang mewakili menajemen menyatakan, manajemen Super Elang Jawa mengapresiasi terselenggaranya laga amal yang mempertemukan PSS Legend, PSIM Legend, dan Sampit Football Legend dalam semangat kebersamaan dan kepedulian sosial ini.
"Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya menghadirkan kompetisi di atas lapangan, tetapi juga mampu menjadi ruang untuk berbagi," lontarnya.
Tak hanya itu saja, Vita juga berharap di atas segala rivalitas yang pernah ada, nilai kemanusiaan dan persaudaraan selalu menjadi fondasi yang menyatukan keluarga besar sepak bola.
Baca Juga: PSS Sleman Sayangkan Penghapusan Regulasi Pemain Muda U-22 di Super League Musim 2026/2027
"Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat baik di Jogjakarta maupun di berbagai daerah di Indonesia," tandas Vita. (ayu/laz)