RADAR JOGJA - Pep Guardiola mengatakan kepada para pemain Manchester City bahwa mereka tidak boleh menurunkan standar setelah kepergiannya, dalam sebuah perpisahan yang emosional di Etihad, Minggu (24/5) malam.
Guardiola berlinang air mata saat mengakhiri masa baktinya selama 10 tahun di klub dengan kekalahan 2-1 dari Aston Villa pada hari terakhir musim.
Manajer berusia 55 tahun itu, yang ayahnya yang berusia 95 tahun, Valenti, hadir di tribun penonton, berbicara kepada para pendukung di lapangan setelah pertandingan.
Dan selama pidatonya, mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munich itu memberikan peringatan kepada skuad yang ditinggalkannya setelah bercanda bahwa ia akan menonton dari tribun yang baru diberi nama Pep Guardiola.
"Para pemain tidak mengetahuinya, tetapi saya akan berada di sana (di tribun yang baru berganti nama) mengendalikan mereka," katanya.
"Para pemain memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan standar ini. Semoga mereka terus berjuang. Ini adalah rumah saya," imbuhnya.
Guardiola meninggalkan Manchester City setelah satu dekade kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk enam gelar Premier League dan Liga Champions.
Saat perpisahannya, ia disambut dengan nyanyian '10 tahun lagi' oleh para penggemar.
"Ini adalah kehormatan besar yang akan dirasakan keluarga saya seumur hidup," katanya.
"Selama beberapa tahun ke depan, di mana pun di dunia, jika Anda melihat saya di jalanan atau di sini di Etihad, jika Anda adalah penggemar Manchester City, datanglah kepada saya," lnajutnya.
"Merupakan kehormatan besar untuk mewakili klub ini. Setiap keputusan yang saya ambil, saya pikir adalah yang terbaik untuk klub ini. Saya sangat mencintai kalian. Ini menyenangkan," jelasnya.
Selain Guardiola, Manchester City juga mengucapkan selamat tinggal kepada Bernardo Silva dan John Stones, yang akan pergi musim panas ini.
Keduanya diberi penghormatan dari kedua kelompok pemain ketika mereka diganti pada babak kedua.
"Pep (Guardiola) adalah alasan kami memenangkan begitu banyak pertandingan," kata Silva. "Dia yang memegang kendali, membuat keputusan dan menciptakan tim monster ini yang tidak hanya sukses selama satu atau dua musim, tetapi untuk waktu yang sangat lama," lanjutnya.
"Secara pribadi, dia adalah ayah saya di dunia sepak bola," pungkasnya.
Editor : Satria Putra Sejati