JOGJA - Kepastian promosinya PSS Sleman ke Super League musim 2026/2027 menjadi kabar menggembirakan bagi para pecinta sepak bola di DIY.
Sebab, keberhasilan itu sekaligus memastikan tersajinya Derby DIY yang bakal mempertemukan Laskar Sembada dengan rival sekotanya, PSIM Jogja.
Kedua tim tentu saja bakal berpotensi bertemu dalam kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.
Potensi bertemunya PSS dan PSIM di kompetisi mendatang diprediksi akan menghadirkan atmosfer besar bagi sepak bola Jogjakarta.
Baca Juga: Ingin Pemain Top Namun Van Gastel Akui Terbentur Anggaran, Rekrutmen PSIM Musim Depan Jadi Tantangan
Oleh karena itu, menjelang duel panas tersebut, kedua petinggi tim sama-sama menggelorakan semangat persaudaraan melalui slogan "Mataram is Love" dan "Mataram Islah".
Direktur PSS Sleman Yoni Arseto mengatakan, sejauh ini hubungan kedua tim berjalan sangat baik dan tanpa persoalan.
Sehingga, harapannya di laga berjuluk Derby DIY nanti bisa mempererat tali persaudaraan antarsuporter, baik suporter Super Elja maupun Laskar Mataram.
"Yang saya harapkan adalah masyarakat, terutama suporter dari PSS dan PSIM itu untuk saling berkolaborasi dan Mataram Islah," katanya, Senin (18/5/2026).
Bukan tanpa alasan Yoni menginginkan hal itu. Sebab, menurutnya, Mataram Islah merupakan suatu wujud persaudaraan antarsuporter di DIY.
"Wong ini hanya olahraga. Kalau bisa ya semua bisa menjaga kondusivitas masyarakat di DIY," tegasnya.
Baca Juga: Dolar Menguat, Pesanan Gerabah Kasongan Bantul dari Buyer Asing Meningkat
Senada dengan Yoni, Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno juga berharap keberadaan dua klub besar DIY di kasta tertinggi sepak bola Indonesia nanti dapat menjadi contoh positif bagi perkembangan sepak bola nasional.
"Selamat untuk PSS yang kembali promosi ke Super League musim depan. Kita sama-sama di Jogja, mari bareng-bareng menjadi benchmark sepak bola Indonesia," lontarnya.
Tak berhenti sampai di situ, wanita yang akrab disapa Liana ini juga meminta seluruh suporter bisa menjaga solidaritas.
Mengingat ada momen kebersamaan suporter Jogjakarta dan Solo yang sudah terjadi dalam aksi kemanusiaan tragedi Kanjuruhan di Stadion Mandala Krida beberapa waktu lalu.
"Jangan sampai dilupakan. Itu harus benar-benar menjadi momen persaudaraan sebagai sesama bangsa Indonesia. Tidak menjadikan sepak bola sebagai pemecah belah," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun