JOGJA - Hampir satu tahun menangani tim PSIM Jogja sebagai pelatih dan berkelindan dengan kultur sepak bola Indonesia secara umum, Jean Paul van Gastel menyoroti persoalan mendasar dalam perkembangan sepak bola Indonesia.
Yakni keterlambatan pembinaan pemain sejak usia dini.
Van Gastel yang pernah berkarier sebagai pemain profesional di Belanda dan kini menangani PSIM itu menilai, banyak pemain lokal baru mulai serius bermain pada usia remaja, yang berdampak pada kemampuan memahami permainan di level tinggi.
"Saya pikir pembinaan pemain di Indonesia cukup terlambat, sekitar usia 15 atau 16 tahun. Itu sudah cukup terlambat," ujar Van Gastel kepada Radar Jogja, Jumat (15/5/2026).
Ia membandingkan kondisi itu dengan sistem di Belanda, tempat ia menghabiskan sebagian besar kariernya. Di mana anak-anak sudah mulai bermain sepak bola sejak usia sangat dini.
Baca Juga: PSS Sleman Berhasil Amankan Lisensi Super League, Lolos dan Berhak Sandang Status Granted
"Di Belanda, anak-anak mulai dari usia empat tahun. Mereka sudah bermain, berkompetisi, dan menghadapi berbagai situasi sejak kecil," jelasnya.
Mantan asisten Giovanni van Bronckhorst tersebut berujar, pengalaman itu membentuk kemampuan membaca permainan. Sebuah aspek yang dinilainya masih menjadi kelemahan pemain Indonesia.
"Sepak bola berubah setiap detik, jadi pemain harus terus membaca situasi. Itu terbentuk kalau sejak kecil sudah sering bermain," tambahnya.
Di tengah kritik itu, PSIM sendiri juga mulai membangun fondasi pembinaan usia muda dengan membentuk tim Elite Pro Academy (EPA) di kelompok usia U-16, U-18, dan U-20 pada musim ini.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya klub untuk mempercepat proses pembinaan pemain muda agar lebih siap menghadapi tuntutan sepak bola modern, meski secara usia awal pembinaan masih tertinggal dibandingkan standar di Eropa.
Van Gastel sendiri bukan sosok baru dalam pembinaan pemain. Ia pernah terlibat dalam pengembangan pemain muda di akademi Feyenoord, salah satu klub besar di Belanda, sebelum melanjutkan karier sebagai pelatih di level profesional.
Namun demikian, meski memberikan kritik, ia tetap mengapresiasi terhadap kualitas pemain lokal, terutama dalam hal sikap dan motivasi yang dinilainya sudah baik.
"Motivasi mereka sangat bagus. Sikap mereka juga bagus. Secara keseluruhan saya sangat senang dengan pemain lokal yang kami punya," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun