JOGJA - Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno angkat bicara menyikapi pengunduran diri mendadak Manajer Dyaradzi Aufa Taruna (Razzi) di tengah kompetisi yang masih berlangsung.
Menurutnya, mundurnya Razzi terjadi dalam suasana baik dan juga berdasarkan kesepakatan seluruh pihak.
"Tidak ada persoalan di internal. Ini bukan tiba-tiba, tidak mendadak, namun sudah menjadi pertimbangan yang menyeluruh dari kami dan juga Razzi," kata wanita yang akrab disapa Liana ini, Jumat (1/5/2026).
Ia mengaku tetap terpukul atas kepergian Razzi dari posisi manajer tim.
Sebab, Razzi merupakan sosok penting yang telah membawa PSIM mengukir sejarah menjadi juara Liga 2 musim 2024/2025 lalu dan promosi setelah penantian panjang selama 18 tahun.
Baca Juga: Jogging Track Lapangan Paseban Dibangun, Target Rampung Akhir Juni
"Sampai kapan pun saya tetap anggap Razzi seperti adik saya sendiri," tegasnya. Meski begitu, Liana menyatakan bahwa dinamika dalam klub sepak bola merupakan hal yang biasa, termasuk pergantian peran di dalam tim.
Sehingga, ke depan manajemen PSIM tetap akan berpegang teguh pada prinsip disiplin, profesionalisme dan visi jangka panjang.
"Karena tidak akan ada nama yang lebih besar dari klub sampai kapan pun," lontarnya.
Liana menyatakan saat ini manajemen tetap akan memastikan bahwa program yang dibangun di dalam tim untuk musim ini sampai tahun-tahun ke depan tetap akan berjalan sesuai rencana.
Ia tetap ingin PSIM bertahan di Super League dan menjadi klub yang sehat.
"PSIM membangun sebuah sistem, yang bisa dijalankan oleh siapa pun yang ada di dalamnya," ujar perempuan 41 tahun ini.
Kabar pengunduran diri Razzi itu sendiri disampaikan melalui akun Instagram pribadinya.
Pengumuman diunggah sesaat setelah PSIM Jogja kalah 0-1 dari tamunya Persita Tangerang pada pekan ke-30 kompetisi BRI Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Kamis (30/4/2026) sore.
Keputusan ini terbilang mengejutkan, mengingat kompetisi masih menyisakan empat pertandingan penting di sisa musim.
Dalam pernyataan yang diunggah, Razzi mengungkapkan keputusannya diambil setelah melalui pertimbangan yang tidak mudah.
Ia juga menyinggung perjalanan hampir tiga tahun bersama Laskar Mataram yang diwarnai sejumlah pencapaian penting.
"Selama kurang lebih tiga tahun saya di sini, kita telah mencapai banyak momen bahagia bersama.
Mulai dari juara Liga 2, kembali promosi ke Liga 1 setelah 18 tahun penantian, dan sedikit lagi memastikan untuk bertahan di Super League di tahun pertama PSIM kembali di kasta tertinggi," tulis Razzi.
Razzi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen yang telah mendukungnya selama menjabat sebagai manajer tim. Termasuk suporter, pemain, hingga manajemen klub.
"Teruntuk Brajamusti, The Maident, dan seluruh pecinta PSIM, terima kasih banyak atas segalanya selama saya berada di sini.
Kalian sungguh luar biasa. Saya mohon maaf apabila selama saya di sini masih ada kekurangan dan kesalahan yang saya perbuat," lanjutnya.
Ia menegaskan, selama ini dirinya selalu mengutamakan kepentingan klub, meskipun menyadari tidak semua berjalan sempurna.
"Percayalah, di atas semua ketidaksempurnaan itu, saya selalu perjuangkan mati-matian dan kedepankan PSIM di atas segalanya," tutur Razzi.
Selain itu, manajer kelahiran Jakarta itu turut mengungkapkan rasa terima kasih kepada sosok yang memberinya kepercayaan di awal kariernya di sepak bola profesional. Yakni Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno.
"Saya ingin berterima kasih kepada Ibu Liana, yang merupakan orang pertama yang percaya kepada saya di saat usia saya masih 22 tahun.
Baca Juga: Forda II DIY 2026 Siap Digelar, Pendaftaran By Number 18-22 Mei
Kepercayaan itu membuka pintu untuk saya bisa berkarya di dunia sepak bola," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen internal klub yang pernah bekerja sama dengannya.
"Saya juga ingin berterima kasih kepada seluruh manajemen, pemain, pelatih, dan ofisial yang pernah bekerja sama dengan saya selama saya di PSIM.
Saya selalu mendoakan dan berharap kalian sukses di manapun berada," ungkapnya.
Dalam pesannya, Razzi turut menitipkan harapan besar terhadap masa depan PSIM, yang menurutnya telah memiliki fondasi kuat untuk berkembang lebih jauh.
"PSIM saat ini sudah jauh lebih baik dari sejak pertama saya datang dan sudah memiliki fondasi untuk lebih baik ke depannya," katanya.
Menutup pernyataannya, Razzi memberikan pesan emosional kepada seluruh elemen klub sekaligus menegaskan keputusan untuk mundur.
"Saya akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk PSIM," bebernya.
Mundurnya Razzi di tengah kompetisi jelas menjadi tantangan baru bagi PSIM, yang masih harus menyelesaikan empat laga tersisa musim ini dalam upaya mengamankan posisi di klasemen.
Sayangnya, dalam laga melawan Persita Tangerang tersebut, Razzi juga tidak hadir ke stadion.
Dan tidak ada ungkapan perpisahan langsung yang diberikan kepada para suporter di stadion.
"Jangan pernah sekalipun mengkhianati PSIM. Karena cinta mereka sangat besar dan mereka tidak akan pernah meninggalkan kebanggaannya. Sekian dari saya, saya pamit undur diri," sebutnya. (ayu/iza/laz)
Editor : Herpri Kartun