JOGJA - PSIM Jogja kembali harus menerima hasil pahit usai kalah 0-1 dari Persita Tangerang dalam lanjutan kompetisi BRI Super League musim 2025/2026 di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Kamis (30/4/2026) sore.
Gol cepat Persita melalui Aleksa Andrejic di awal laga menjadi pembeda dalam pertandingan yang sempat dikuasai tuan rumah.
Persita langsung menekan sejak menit awal dan mampu mencetak gol hanya dalam lima menit pertama.
Situasi ini membuat jalannya pertandingan berubah, karena setelah unggul, tim tamu memilih bermain lebih bertahan dengan skema low block.
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel menyoroti momen awal yang langsung merugikan timnya.
Ia menilai kebobolan dengan cepat di menit-menit awal membuat pertandingan menjadi jauh lebih sulit.
"Kami kebobolan di menit awal dan itu dari peluang pertama Persita di awal pertandingan," ujar Van Gastel.
Setelah itu, menurut Van Gastel, Persita bermain sangat disiplin dalam bertahan, sehingga menyulitkan PSIM untuk menemukan ruang kreasi di sepertiga akhir pertahanan Persita.
"Mereka bermain dengan pertahanan yang dalam dan blok rendah, dan itu sangat sulit ditembus," tuturnya.
Meski mampu mengontrol permainan dan menciptakan sejumlah peluang, PSIM kembali gagal memaksimalkan kesempatan yang ada.
Van Gastel mengakui persoalan ini bukan hal baru bagi timnya.
"Kami sebenarnya bisa menciptakan peluang, tapi seperti sepanjang musim ini, kami butuh terlalu banyak peluang untuk mencetak gol," bebernya.
Di sisi lain, Persita tampil efektif dan mampu menjalankan strategi dengan baik.
Pelatih Persita Carlos Pena menilai timnya tampil sesuai rencana yang diinginkan sejak awal pertandingan.
"Kami memulai laga dengan sangat baik dan akhirnya bisa mencetak gol lebih dulu di menit awal," ulasnya.
Setelah berhasil unggul, Pena mengakui Persita fokus menjaga organisasi pertahanan, terutama di area krusial sepertiga akhir.
"Kami mengubah cara bermain di babak kedua dan bertahan dengan disiplin, terutama di area kotak penalti," sebutnya.
Di pertandingan itu, Persita bahkan sempat memiliki peluang untuk menggandakan keunggulan melalui penalti di babak kedua.
Namun kesempatan itu berhasil digagalkan oleh kiper PSIM Cahya Supriadi.
Cahya mengakui situasi pertandingan memang tidak mudah sejak awal, terutama setelah kebobolan cepat.
Baca Juga: 600 Personel Polisi Dikerahkan untuk Pengamanan Hari Buruh di Kebumen
"Menurut saya pertandingan ini cukup sulit karena kami kebobolan di awal. Dan itu mengubah situasi," terangnya.
Dari kubu Persita, perwakilan pemain Esal Sahrul menyebut kemenangan ini menjadi momentum kebangkitan tim setelah sebelumnya mengalami tren negatif.
"Kami bisa mendapatkan tiga poin setelah di laga sebelumnya mengalami hasil yang kurang baik. Kemenangan ini sangat penting," ujarnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun