MAGELANG - Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Jawa Tengah mulai memanaskan mesin menuju Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) IX 2027 di Palu, Sulawesi Tengah. Targetnya bisa menembus tiga besar nasional.
Berbagai langkah persiapan pun telah digulirkan sejak dini. Mulai dari penguatan jumlah peserta, peningkatan kualitas performa, hingga perluasan basis pegiat olahraga masyarakat di tingkat akar rumput.
Ketua Kormi Jawa Tengah Edi Purwanto menegaskan, strategi utama yang ditempuh saat ini adalah pemasalan secara masif melalui berbagai kegiatan berjenjang. "Persiapan sudah berjalan, baik dari sisi peserta maupun pemasalan. Kita dorong lewat Forda (Festival Olahraga Masyarakat Daerah), festival, hingga event mandiri dari teman-teman induk organisasi olahraga (inorga)," ujarnya di Lapangan Taruna Bhakti Akmil Magelang Minggu (26/4).
Baca Juga: Jaga Marwah Jurnalistik Kunci Kepercayaan Publik, Jalan Sehat Keluarga Wartawan Dilepas Ketua DPRD DIY, Kapolda, dan Wali Kota
Sebagai bagian dari roadmap menuju Fornas, kata dia, Kormi Jateng akan menggelar Forda pada akhir 2026. Agenda ini diproyeksikan menjadi ajang simulasi besar sebelum kontingen diberangkatkan ke tingkat nasional pada Agustus 2027.
Dia mengatakan, Forda tidak hanya menjadi wadah kompetisi. Tetapi juga sarana mengukur kesiapan masing-masing inorga. Baik dari sisi teknis maupun jumlah partisipasi.
Selain agenda resmi, sejumlah inorga juga mulai aktif menggelar event secara mandiri. Cabang-cabang seperti cheerleader hingga taekwondo turut menggelar kejuaraan dan festival untuk memperkuat pembinaan sekaligus memperluas jangkauan pegiat.
Baca Juga: Mayoritas Lansia, 354 Calon Jemaah Haji Gunungkidul Diminta Jaga Kebugaran
Dia menyadari, kunci utama meraih posisi puncak tidak hanya terletak pada kualitas atlet, tetapi juga pada besarnya jumlah kontingen yang diberangkatkan. Untuk itu, sekitar 50 Inorga disiapkan untuk ambil bagian dalam Fornas 2027. Namun, jumlah pasti peserta masih bergantung pada dukungan anggaran.
Edi mengungkapkan, pengalaman pada Fornas 2025 di Nusa Tenggara Barat menjadi pelajaran penting. Saat itu, Jawa Tengah menempati posisi lima besar dengan total 868 peserta. Namun hanya sekitar 200 orang yang dibiayai pemerintah.
Meski demikian, Edi tetap berharap adanya peningkatan dukungan dari pemerintah provinsi agar jumlah peserta yang diberangkatkan bisa lebih maksimal. "Selebihnya berangkat secara mandiri. Ini menunjukkan olahraga masyarakat tumbuh dari bawah, dari swadaya," katanya.
Baca Juga: Persipura Rebut Puncak Klasemen dari PSS Sleman Setelah Bantai Persipal Palu
Dari sisi potensi prestasi, Kormi Jateng masih mengandalkan cabang olahraga tradisional dan kebugaran sebagai tulang punggung. Beberapa inorga seperti Persatuan Olahraga Pernafasan Indonesia, komunitas jantung sehat, hingga tera dinilai memiliki basis massa besar dan konsisten menyumbang capaian.
Selain itu, daerah-daerah seperti Kota Semarang, Kota Magelang, Surakarta, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang masih menjadi penyumbang kontingen terbesar.
Momentum peringatan World Taiji & Qigong Day di Magelang juga dimanfaatkan sebagai sarana pemasalan. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai daerah, sekaligus memperkuat eksistensi olahraga berbasis kebugaran di Jawa Tengah.
Edi melihat, potensi besar pada Taiji untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya sebagai olahraga kesehatan tetapi juga sebagai kekuatan baru dalam kompetisi olahraga masyarakat. "Setiap pegiat harus jadi marketing. Sampaikan manfaatnya ke lingkungan masing-masing," bebernya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita