JOGJA - Di tengah perjalanan PSIM Jogja yang penuh dinamika sepanjang BRI Super League 2025/2026, sosok Cahya Supriadi justru tampil sebagai titik stabil yang jarang tergantikan.
Kiper muda ini menunjukkan konsistensi tinggi, baik dari segi penampilan maupun kontribusi langsung terhadap hasil pertandingan.
Dari total 29 laga yang telah dijalani PSIM musim ini, Cahya mencatatkan 27 penampilan.
Ia hanya dua kali absen karena mendapat panggilan Timnas Indonesia, sebuah catatan yang sekaligus menegaskan posisinya sebagai pilihan utama di bawah mistar Laskar Mataram.
Baca Juga: Pemain PSIM Jogja Kerap Diganjar Kartu Kuning, Van Gastel: Ada yang Salah, tapi Bukan dari Tim Saya
Kehadirannya tak sekadar mengisi posisi, tetapi juga menjadi faktor pembeda.
Sepanjang musim, Cahya telah mengoleksi sedikitnya lima penghargaan Man of The Match (MOTM), memperlihatkan betapa seringnya ia menjadi penentu dalam momen-momen krusial pertandingan.
Penampilan terbarunya saat menghadapi Persija Jakarta di pekan ke-29 menjadi refleksi nyata dari konsistensi itu.
Di laga yang berlangsung ketat, Cahya tampil sigap dengan menggagalkan sejumlah peluang berbahaya, termasuk satu tendangan penalti yang krusial untuk menjaga PSIM tetap mengamankan poin.
"Saya senang dengan performa tim, kerja keras sampai akhir.
Baca Juga: Kontras Performa PSIM Jogja; Dari 30 Poin ke 9 Poin, Van Gastel Singgung Ketimpangan Skuad
Dan perasaan saya senang juga bisa blok satu penalti karena kita tahu Persija juga perlu poin untuk berjuang di papan atas," ujar Cahya, Jumat (24/4/2026).
Situasi pertandingan sendiri tidak berjalan mudah bagi PSIM. Sempat unggul lebih dulu, mereka harus menghadapi tekanan setelah lawan mendapatkan dua peluang penalti.
Dalam kondisi itu, peran Cahya tak hanya sebagai penjaga gawang, tetapi juga sebagai pengangkat moral tim.
"Kita sempat leading 1-0, Persija dapat dua penalti. Saya menjaga asa tim agar semangat sampai akhir, dan alhamdulillah kita mendapat satu poin," lanjutnya.
Di balik performa solid itu, Cahya juga menyoroti aspek yang masih perlu diperbaiki, khususnya dalam koordinasi lini pertahanan.
Ia menilai komunikasi menjadi elemen penting yang mulai menunjukkan perkembangan dibandingkan laga-laga sebelumnya.
"Dari pertahanan, menurut saya, mungkin baik karena kita komunikasi satu sama lain.
Itu yang diperlukan karena sebelumnya kita kecolongan lewat set piece dan beberapa peluang lainnya," jelasnya.
Lebih jauh ia menegaskan perbaikan tersebut harus terus dijaga jika PSIM ingin menutup musim dengan hasil maksimal.
Dengan kompetisi yang memasuki fase krusial, setiap detail kecil dinilai bisa menjadi pembeda.
Memasuki lima pertandingan terakhir, Cahya memastikan dirinya dan seluruh tim tetap menjaga fokus dan komitmen.
Ia menegaskan peluang PSIM belum tertutup dan perjuangan akan terus dilakukan hingga akhir musim.
"Masih ada lima match lagi. Kita akan terus berjuang sampai akhir dan memberikan yang terbaik untuk Laskar Mataram," tegasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun