JOGJA - Keputusan memindahkan laga PSIM Jogja kontra Persija Jakarta ke Bali menuai sorotan, tak hanya dari sisi teknis tim, tetapi juga dampaknya terhadap ekonomi lokal. Pertandingan pekan ke-29 BRI Super League 2025/2026 yang semula dijadwalkan di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul pada Rabu (22/4), dipastikan digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, tanpa kehadiran penonton.
Manajemen PSIM menyebut keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek keamanan serta keterbatasan fasilitas stadion. Tidak keluarnya rekomendasi dari pihak kepolisian menjadi faktor utama di balik pemindahan venue tersebut.
Pengamat sepak bola Ananto Priyatno menilai situasi ini mencerminkan problem klasik dalam tata kelola sepak bola nasional. Khususnya terkait perizinan pertandingan yang hingga kini masih kerap menjadi kendala.
Baca Juga: Masalah PSIM Jogja Menurut Van Gastel; Bukan pada Skill, tapi Karakter Tim
"Keamanan dan tidak ada rekomendasi dari kepolisian. Padahal dulu sempat ada kesepakatan perizinan itu sudah terpusat dan tidak ada lagi perubahan-perubahan seperti ini. Tapi ini terjadi lagi," ujar Ananto, Senin (20/4).
Menurutnya, dinamika seperti ini bukan hal baru bagi publik sepak bola Indonesia. Ia menyebut, pengalaman panjang penonton dalam mengikuti kompetisi membuat mereka cukup peka terhadap pola-pola yang berulang.
"Penikmat sepak bola Indonesia ini bukan anak kemarin sore. Mereka sudah puluhan tahun mengikuti liga, jadi tahu bagaimana dinamikanya. Wajar kalau kemudian muncul berbagai pertanyaan ketika hal seperti ini terjadi lagi," katanya.
Lebih jauh Ananto menyoroti dampak finansial yang tidak kecil akibat pemindahan venue, terutama bagi tim tamu. Persija, kata dia, berpotensi menanggung biaya akomodasi yang membengkak setelah lebih dulu tiba di Jogja sebelum keputusan pemindahan diumumkan.
"Mereka sudah di sini dari Sabtu. Biaya hotel itu bukan satu-dua juta. Satu tim bisa 30 orang, minimal 15 kamar. Itu belum termasuk makan tiga kali sehari. Ini jelas kerugian bagi tim tamu," ucapnya.
Tak hanya itu, pemindahan lokasi pertandingan ke Bali justru dinilai berpotensi menimbulkan biaya yang lebih besar dibandingkan risiko sanksi yang sebelumnya dikhawatirkan. "Kalau alasannya takut denda, memindahkan pertandingan ke Bali itu cost-nya bisa jadi lebih tinggi. Jadi ini memang keputusan yang perlu dilihat secara menyeluruh," tambahnya.
Di sisi lain dampak signifikan juga dikhawatirkan akan dirasakan oleh pelaku ekonomi lokal di Jogja, khususnya di sekitar kawasan Bantul. Laga besar seperti PSIM kontra Persija sebelumnya diprediksi akan mendatangkan lonjakan aktivitas ekonomi, mulai dari sektor perhotelan hingga pelaku UMKM.
"Harusnya ada pergerakan ekonomi besar, bukan cuma di area stadion tapi juga di kota secara umum. Hotel, transportasi, UMKM itu semua terdampak positif kalau pertandingan tetap digelar di Jogja," kata Ananto.
Ia juga menambahkan, antusiasme suporter yang tinggi biasanya menjadi motor utama perputaran ekonomi di sekitar pertandingan. Namun dengan pemindahan venue sekaligus tanpa penonton, potensi tersebut praktis hilang.
"Geliat UMKM di sekitar stadion pasti meningkat kalau laga tetap digelar. Tapi dengan kondisi sekarang, ya peluang itu hilang," ujarnya.
Selain aspek ekonomi, Ananto juga menyoroti dampak teknis dari perubahan venue yang dinilai lebih kompleks dibanding sekadar perubahan jadwal. "Sepak bola itu bukan hanya soal jadwal. Kalau venue berubah, dampaknya banyak. Kesiapan tim, logistik, semuanya ikut berubah," tuturnya.
Baca Juga: Masalah PSIM Jogja Menurut Van Gastel; Bukan pada Skill, tapi Karakter Tim
Kekecewaan juga datang dari kalangan suporter PSIM, salah satunya Anang Indra. Ia mengaku kesal dengan keputusan yang dinilai mendadak dan merugikan banyak pihak, termasuk kedua pihak suporter.
"Kecewa pasti. Ini bukan cuma soal kita enggak bisa nonton di kandang sendiri. Tapi juga kasihan teman-teman suporter Persija yang sudah terlanjur pesan tiket kereta, hotel, bahkan ada yang sudah ambil cuti kerja," ujarnya.
Ia menilai, situasi ini menunjukkan kurang matangnya perencanaan dalam penyelenggaraan pertandingan, sehingga berdampak luas hingga ke level suporter.
"Mereka datang jauh-jauh, sudah keluar biaya, tapi akhirnya enggak jadi nonton. Kita sebagai suporter juga bisa merasakan itu. Harusnya hal-hal ini bisa diantisipasi dari awal, jangan sampai merugikan banyak pihak," katanya.
Anang juga menyoroti hilangnya atmosfer pertandingan yang selama ini menjadi bagian penting dari sepak bola, terutama dalam laga besar seperti PSIM kontra Persija.
"Atmosfer pertandingan itu hilang. Harusnya ini jadi momen besar di Jogja, tapi malah dipindah dan tanpa penonton. Rasanya hambar," ucapnya. (iza/laz)