JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel melontarkan evaluasi cukup tajam dan gamblang terhadap performa timnya di putaran kedua kompetisi BRI Super League 2025/2026. Setelah sempat tampil impresif di awal musim, performa Laskar Mataram dinilai mengalami penurunan signifikan.
Van Gastel menilai persoalan utama timnya bukan semata aspek teknis, melainkan juga menyangkut karakter bermain para pemain di lapangan. Ia secara spesifik menyoroti sikap terlalu santai yang berdampak langsung pada hasil pertandingan.
"Menurut saya, salah satu masalah pemain kami adalah kurang urgensi dan terlalu santai. Itu terlihat dari keputusan-keputusan yang kami ambil terutama di sepertiga akhir lapangan," ujarnya, Jumat (17/4).
Baca Juga: Lagi-Lagi Kena Comeback, PSIM Jogja Tumbang 1-2 di Kandang Bhayangkara FC
Menurut pelatih asal Belanda ini, dalam sejumlah pertandingan di putaran kedua PSIM sebenarnya memiliki peluang untuk meraih hasil lebih baik. Namun kurangnya fokus dan ketegasan dalam momen krusial membuat peluang itu terbuang.
"Harusnya kami bisa menang lebih banyak atau setidaknya mendapatkan hasil imbang di beberapa laga. Tapi kami tidak melakukannya dengan baik" katanya.
Selain itu, Van Gastel juga menyoroti lemahnya pengambilan keputusan di sepertiga akhir serta masalah dalam situasi bola mati. Ia menyebut pendekatan man-marking yang diterapkan belum berjalan optimal karena pemain tidak menjalankannya dengan tingkat konsentrasi yang dibutuhkan.
Di tengah tren hasil yang kurang konsisten, Van Gastel menegaskan target utama PSIM musim ini tetap realistis, yakni bertahan di Liga 1. Ia mengingatkan posisi tim belum sepenuhnya aman jika melihat sisa pertandingan yang ada. "Masih ada beberapa pertandingan. Kami harus benar-benar fokus dan memaksimalkan itu," paparnya.
Ia pun menyampaikan dengan penegasan bahwa dirinya belum puas dengan capaian tim saat ini. Terutama jika dibandingkan dengan performa di putaran pertama.
"Saya tidak puas dengan kondisi sekarang, karena kami kehilangan terlalu banyak poin. Saya cukup ambisius untuk mengejar poin lagi," tuturnya.
Sementara itu dari sisi manajemen, Direktur Utama PSIM Yuliana Tasno mengungkapkan, klub saat ini tengah berada dalam fase transformasi besar sejak promosi ke BRI Super League musim ini.
Ia menggambarkan bagaimana perbedaan signifikan terjadi antara kondisi PSIM saat masih berkompetisi di Liga 2 atau Pegadaian Championship dengan situasi saat ini. Pada periode sebelumnya, struktur organisasi klub masih terbatas, sehingga banyak keputusan strategis harus diambil secara langsung olehnya.
"Dulu waktu di Liga 2 terus terang saya lumayan direct ya. Jadi kalau ada masalah yang sudah cukup krusial, saya turun langsung," ujar Yuliana.
Bahkan, perempuan yang kerap disapa Ci Liana itu mengaku tidak segan terlibat langsung dalam dinamika internal tim, termasuk melakukan evaluasi terhadap pemain secara personal. Proses itu dilakukan dengan pendekatan yang cukup detail, mulai mengumpulkan informasi internal hingga berdialog langsung dengan pemain dari berbagai level.
Baca Juga: Tren Negatif Menghantui selama Putaran Kedua, PSIM Jogja Diminta Segera Amankan Poin di Sisa 7 Pertandingan
"Saya panggil pemain, saya sortir dulu, saya tanya dari dokter, dari orang-orang yang dekat dengan tim. Bahkan pemain paling junior sampai pemain asing juga saya panggil," jelasnya.
Menurutnya, langkah itu diambil karena pada saat itu manajemen belum memiliki struktur yang kuat dan jumlah personel yang memadai. Ia bahkan harus merangkap berbagai fungsi, mulai dari urusan teknis sepak bola hingga komersial klub.
"Tapi kalau ke manajemen, dulu pas di Liga 2 itu manajernya belum terlalu banyak. Jadi banyak yang saya kerjakan sendiri. Football saya direct, komersial juga saya direct," ungkapnya.
Namun setelah PSIM promosi ke kasta tertinggi, situasi tersebut berubah secara signifikan. Liana menegaskan saat ini klub telah diperkuat oleh lebih banyak tenaga profesional di berbagai lini.
"Kalau sekarang saya lebih lepas, karena sudah hire coach dengan CV mentereng. Manajernya juga sudah banyak. Saya ngerasa sekarang PSIM jauh lebih profesional," katanya.
Meski demikian, perubahan di level manajemen diakui masih perlu diiringi peningkatan performa di lapangan. Konsistensi hasil menjadi tantangan berikutnya yang harus segera dijawab oleh PSIM agar dapat menutup musim dengan posisi yang lebih baik.
Ia menambahkan, transformasi ini tidak hanya terjadi di tim pelatih, tetapi juga mencakup aspek organisasi yang lebih luas. Termasuk keuangan, perpajakan, hingga operasional tim sehari-hari.
"Dari keuangan, perpajakan, sampai ke tim sekarang sudah lengkap. Ada chief, ada GM, ada tim komersial yang jauh lebih berkembang," tandasnya. (iza/laz)