JOGJA - Kondisi internal tim PSBS Biak di tengah bergulirnya kompetisi BRI Super League 2025/2026 berada dalam situasi memprihatinkan.
Permasalahan ini mencuat ke publik setelah para pemain secara kolektif mengunggah surat pernyataan terbuka melalui akun media sosial masing-masing pada Rabu (15/4/2026).
Sehari berselang, Kamis (16/4) Radar Jogja melakukan konfirmasi kepada sejumlah pemain.
Mereka pun mulai buka suara terkait kondisi yang dialami.
Persoalan utama yang dihadapi adalah keterlambatan pembayaran gaji yang sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Pemain PSBS Biak Nurhidayat Haris mengungkapkan, dirinya bahkan belum menerima gaji selama tiga bulan penuh.
Ia menyebut kondisi ini dirasakan hampir seluruh pemain, meski dengan nominal yang berbeda-beda.
"Kalau saya sendiri sudah tiga bulan belum dibayar.
Dan pemain lain ada beberapa yang sudah dibayar 50 persen, tapi saya sendiri belum mendapatkan sama sekali," ujarnya.
Situasi itu, menurutnya, telah dikomunikasikan kepada pihak manajemen.
Namun hingga kini belum ada kejelasan terkait waktu pembayaran.
Para pemain hanya diminta untuk bersabar sambil menunggu upaya dari pihak klub.
"Kalau komunikasi mungkin setiap hari saya bicara dengan manajer, dan katanya tunggu dulu, lagi diusahakan.
Jadi ya kita pemain cuma bisa nunggu," katanya.
Baca Juga: Yusaku Yamadera Menyesal Absen, PSIM Jogja Kehilangan Bek Kunci saat Hadapi Bhayangkara FC
Lebih lanjut Nurhidayat menjelaskan, para pemain tetap berusaha bersikap profesional di tengah situasi sulit ini.
"Sesi latihan tetap dijalani seperti biasa meskipun kondisi internal tim sedang tidak ideal," ulasnya.
Di sisi lain, Kapten Tim PSBS Biak Sandro Embaló menggambarkan situasi yang lebih kompleks.
Ia menyebut krisis tidak hanya menyangkut gaji, tetapi juga berdampak pada kebutuhan dasar pemain.
"Terkadang kami tidak punya dana untuk membayar lapangan latihan.
Baca Juga: Tak Bisa Pertanggung Jawabkan Uang Rp 21,4 M, Nany Widjaja Digugat Perusahaan Industrial Estate
Pemain lokal dalam keadaan kacau, mereka tidak punya makanan lagi," ungkapnya.
Selain itu, sejumlah fasilitas penunjang juga terdampak. Seperti kendaraan operasional para pemain yang berulang kali dilaporkan akan ditarik.
Ditambah pemain asing juga menghadapi persoalan tempat tinggal akibat kendala pembayaran akomodasi.
Sandro menegaskan, para pemain telah berulang kali mencoba berkomunikasi dengan manajemen, namun respons yang diterima tidak konsisten.
Ia berharap ada perhatian dari pihak terkait untuk membantu menyelesaikan persoalan ini.
Baca Juga: Pemkot Jogja Belum Dapat Kepastian Bantuan Mobil India Untuk Koperasi Merah Putih, Fokus Lakukan Ini
"Kami tidak ingin konflik. Kami haya ingin mendapat hak kami.
Kami bekerja setiap hari, jadi seharusnya kami mendapatkan apa yang menjadi hak kami," tegasnya.
Dalam upaya mencari solusi, para pemain juga telah melaporkan permasalahan ini kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk mendapatkan perlindungan sekaligus mendorong penyelesaian secara profesional.
Kondisi tim berjuluk Badai Pasifik itu semakin kompleks karena musim ini mereka berstatus sebagai tim musafir dengan bermarkas di Maguwoharjo International Stadium (MagIS), Sleman, tanpa kehadiran penonton.
Hal itu membuat klub kehilangan potensi pemasukan dari sektor penjualan tiket di tengah kebutuhan operasional yang tetap berjalan.
Dengan berbagai persoalan yang saling berkaitan, situasi PSBS Biak kini dinilai telah memasuki fase krisis.
Tim membutuhkan penanganan serius agar tidak berdampak lebih jauh terhadap keberlangsungan tim di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Menutup pernyataannya, Sandro berharap ada pihak yang sesegera mungkin bisa turun tangan untuk membantu kondisi timnya.
"Kami butuh pihak lain untuk melangkah maju dan membantu kami. Ini situasi yang sangat buruk, dan kami butuh bantuan sesegera mungkin," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun