JOGJA - Di balik gemuruh tribun dan sorotan pertandingan, ada satu ruang sunyi yang jarang terlihat; bangku cadangan.
Dari sanalah, Gilang Ardha Pradipta Purnama belajar memahami arti sabar, proses, dan kesiapan.
Kiper muda PSIM Jogja itu lahir pada 14 Maret 2006. Di usianya yang baru 20 tahun, ia sudah menapaki fase penting dalam kariernya.
Ia berhasil menembus tim senior Laskar Mataram di tengah kompetisi yang berjalan ketat.
Baca Juga: Diduga Terhimpit Masalah Ekonomi, Warga Seyegan Sleman Nekat Akhiri Hidup
Musim ini, penjaga gawang yang juga berkuliah di jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja ini memang belum mencatatkan debut.
Namun, ia sempat tiga kali masuk dalam daftar susunan pemain, termasuk saat menghadapi tim legendaris Persija Jakarta, sebuah momen yang nyaris mengubah perjalanannya lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Saat itu, peluang sempat terbuka. Dalam laga melawan Persija di Gelora Bung Karno (GBK) 28 November 2025 silam, PSIM memang hanya membawa dua kiper.
Saat itu kiper utama Cahya Supriadi harus absen karena membela Timnas Indonesia U-23. Sementara kiper kedua, Harlan Suardi juga mengalami cedera beberapa hari sebelum pertandingan.
Praktis hanya tersisa dua kiper yang tersisa, yakni kiper ketiga Khairul Fikri dan Gilang Ardha yang berstatus kiper keempat.
Di tengah pertandingan melawan Persija, Khairul Fikri sempat mengalami kondisi yang membuat kemungkinan pergantian muncul.
Dari bangku cadangan, Gilang bersiap. Situasi yang selama ini hanya ia bayangkan dalam latihan, tiba-tiba terasa begitu dekat.
"Kalau masuk ya alhamdulillah. Walaupun cuma sedikit, itu kesempatan buat nunjukin diri. Yang penting harus siap," ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Namun seperti banyak momen dalam sepak bola, kesempatan itu datang dan pergi dalam hitungan detik. Gilang tetap di bangku cadangan. Tidak ada debut hari itu.
Baca Juga: Meriahkan Hari Jadi Ke-1120 Kota Magelang; Ribuan Warga Serbu Gerebek Getuk, Gunungan Ludes Sekejap
Alih-alih larut dalam kekecewaan, ia justru menemukan pelajaran yang lebih penting.
Ia menyadari kesiapan bukan soal kapan dimainkan, tapi bagaimana menyambut momen yang bisa datang kapan saja.
"Saya belajar pokoknya harus siap apa pun yang dihadapi, dan kapan pun waktunya," ucapnya.
Di tengah situasi itu, Gilang tidak berjalan sendirian. Ia tumbuh di lingkungan yang memberinya ruang belajar, terutama dari para pemain senior.
Sosok kiper utama PSIM Cahya Supriadi, diakuinya menjadi figur yang paling berpengaruh dalam perjalanannya sejauh ini.
Baca Juga: Kalah dari Barito Putera FC, PSS Sleman Langsung Lakukan Evaluasi
"Mas Cahya sering kasih motivasi. Bikin saya tambah semangat latihan dan kerja keras," katanya.
Bagi Gilang, keberadaan pemain senior bukan sekadar kompetitor, melainkan sumber pembelajaran.
Ia menyerap banyak hal, mulai dari cara menjaga fokus, membaca permainan, hingga membangun mental sebagai penjaga gawang.
Hal itu pula yang membuatnya terus bertumbuh nan realitas, termasuk tidak terburu-buru memasang target besar secara pribadi.
Sebagai kiper keempat, ia sadar jalannya tidak akan instan. Kesempatan tampil di posisi penjaga gawang cenderung terbatas, dan rotasi jarang terjadi.
Namun, alih-alih memaksakan ambisi, Gilang memilih membangun fondasi.
Baca Juga: Embarkasi Haji Berbasis Hotel Siap; YIA Pastikan Penerbangan 2026 Langsung ke Jeddah atau Madinah
"Jujur saya belum kepikiran target debut musim ini. Saya masih cari pengalaman dulu. Step by step saja," ujarnya.
Pengalaman berada di dalam skuad pertandingan pun sudah memberinya gambaran tentang kerasnya atmosfer kompetisi.
Sorakan ribuan suporter, tekanan pertandingan, hingga tuntutan konsentrasi tinggi menjadi bagian dari proses yang kini ia jalani.
Di luar lapangan, ia tetap menyimpan sosok panutan yang membentuk gaya bermainnya.
Baca Juga: Van Gastel Soroti Standar PSIM Jogja, Performa Kurang Ideal di Putaran Kedua Turut Jadi Alarm
Ia mengidolakan mantan kiper Manchester United sekaligus Timnas Spanyol David de Gea. Figur yang ia lihat sebagai gambaran refleks cepat dan ketenangan di bawah mistar.
Kini, di tengah persaingan ketat bersama nama-nama seperti Cahya Supriadi, Harlan Suardi, dan Khairul Fikri, Gilang memilih tetap berada di jalurnya.
Tidak tergesa, tidak berisik, tetapi terus bergerak.
Bagi seorang kiper muda, panggung itu mungkin belum datang hari ini. Namun ketika waktunya tiba, tidak ada ruang untuk ragu, hanya kesiapan yang akan berbicara.
"Saya fokus latihan dan berproses. Tugas saya cuma siap dan terus kerja keras," tuturnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun