JOGJA - Manajemen PSIM Jogja secara progresif cukup menaruh perhatian serius pada keseimbangan antara performa tim dan keberlanjutan finansial setelah berhasil promosi dari Liga 2 menuju Liga 1 atau BRI Super League musim 2025/2026 ini.
Direktur Utama PSIM Yuliana Tasno menegaskan, bagaimana pun prestasi di lapangan tetap menjadi prioritas utama.
Namun di sisi lain, ia mengakui biaya operasional klub tidak bisa terus dibiarkan membengkak tanpa strategi jangka panjang.
"Kalau performa tetap nomor satu. Tujuannya PSIM memang untuk berprestasi dan membanggakan DIY, juga membuat happy masyarakat," ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan, ambisi itu harus bisa berjalan beriringan dengan kondisi finansial klub. Diakui, hal tersebut tidak benar-benar mudah untuk dilakukan.
Baca Juga: Van Gastel Soroti Standar PSIM Jogja, Performa Kurang Ideal di Putaran Kedua Turut Jadi Alarm
"Performa ini harus diseimbangkan dengan cost. Karena cost-nya yang dikeluarkan itu lama-lama bisa nggak bertahan kalau tidak diimbangi performa yang bagus," katanya.
Perempuan yang kerap disapa Ci Liana itu menuturkan, selama ini ia menilai tren klub masih bergantung pada aktivitas transfer pemain untuk menjaga daya saing.
Pola itu dinilai tidak sehat jika terus dilakukan dalam jangka panjang.
"Mau tidak mau harus ada youth development. Karena itu yang akan menyuplai ke first team. Jadi kita nggak jual beli mulu, selama ini trennya beli, beli, beli," tegasnya.
Namun upaya membangun fondasi pembinaan usia muda juga bukan tanpa tantangan. Liana mengakui persoalan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi klub.
"Ngomong itu gampang, tapi implementasinya berat. Nyari lapangan saja susah dan kita masih nyewa," ungkapnya.
Meski begitu, ia memastikan manajemen tetap berupaya membangun sistem yang lebih berkelanjutan, meski secara progres tidak banyak diekspos ke publik.
"Saya tidak suka banyak bicara. Kalau sudah jadi, baru kita akan sampaikan," tambahnya.
Di tengah proses itu, PSIM juga memilih memasang target yang lebih realistis di BRI Super League musim ini.
Alih-alih memasang ambisi tinggi, manajemen menekankan pentingnya stabilitas sebagai fondasi awal.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem di DIY Diprediksi Terjadi hingga Mei, Waspadai Panas hingga Hujan Lebat
Menurutnya, capaian menembus papan tengah setelah promosi sudah menjadi hal yang patut disyukuri.
Mengingat banyak tim promosi lain masih kesulitan beradaptasi di kompetisi tertinggi.
Dengan pendekatan itu, PSIM kini mencoba menyeimbangkan antara ambisi prestasi, efisiensi biaya, dan pembangunan jangka panjang.
Sebuah fase transisi yang akan menentukan arah klub dalam beberapa musim ke depan.
"Seperti yang sudah disampaikan di awal musim, saya ingin bertahan dengan nyaman dulu.
Tidak usah muluk-muluk, yang penting kita bisa nikmati proses ini," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun