JOGJA - PSIM Jogja menghadapi situasi tidak sederhana. Di satu sisi kompetisi BRI Super League 2025/2026 masih berjalan dan telah memasuki pekan ke-27 dari total 34 pekan.
Di sisi lain, manajemen hingga Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM juga harus berpacu dengan waktu menyiapkan infrastruktur stadion untuk memenuhi standar BRI Super League musim 2026/2027.
Kondisi ini memaksa PSIM bekerja dalam dua fokus sekaligus. Yakni menjaga performa tim di lapangan, sekaligus mengejar pemenuhan regulasi club licensing hingga penyiapan homebase yang kian ketat.
Ketua Panpel PSIM Jogja Wendy Umar menegaskan, proses pembenahan homebase, konteks ini Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, tidak bisa menunggu musim berakhir.
Baca Juga: Hasil Indonesia vs Vietnam ASEAN Futsal Championship 2026: Skuad Garuda Terbang ke Final
Deadline pendaftaran homebase pada Juli membuat seluruh persiapan harus dilakukan sejak sekarang, bahkan ketika kompetisi masih berlangsung.
"Kompetisi musim depan, ILeague ini sangat ketat dalam hal club licensing. Semua homebase yang didaftarkan harus lolos. Ini PR untuk semua peserta Super League, termasuk PSIM," ujar Wendy, Jumat (10/4/2026).
Artinya, di tengah jadwal pertandingan yang padat dan tensi kompetisi yang masih tinggi, PSIM juga harus mengalokasikan energi, waktu, dan sumber daya untuk mempercepat pembenahan stadion.
Wendy mengungkapkan, saat ini SSA Bantul masih menjadi opsi utama homebase. Namun, tingkat kesiapan infrastrukturnya baru berada di angka sekitar 70 persen.
"Untuk infrastrukturnya kita dorong terus. Kesiapannya ada di 70 persen. Nanti persyaratan lain seperti lampu, single seat dan lain-lain segera kita lengkapi," jelasnya.
Baca Juga: Prediksi Skor Real Madrid vs Girona La Liga Sabtu 11 April 2026, Tekad Bangkit Los Blancos
Salah satu pekerjaan besar yang tengah dikejar adalah peningkatan kualitas pencahayaan stadion hingga minimal 1.600 lux.
Proses penggantian lampu di SSA sudah berjalan 50 persen, dengan capaian sementara di kisaran 1.300 lux.
"Lampu SSA sudah kita ganti 50 persen dengan yang baru. Lux-nya di 1.300-an. Semoga kalau semua selesai diganti, bisa di atas 1.600 sesuai regulasi musim depan," kata Wendy.
Selain itu, pemenuhan kapasitas kursi tunggal (single seat) juga menjadi tantangan tersendiri. Dari kebutuhan minimal 5.000 kursi, saat ini baru tersedia 420 kursi di SSA.
Manajemen pun bergerak cepat menyiapkan tambahan hingga total sekitar 4.580 kursi. "Untuk single seat, manajemen siapkan sekitar 4.580.
Kekurangannya akan kita pasang sebelum Juli, sebelum asesmen dan verifikasi dari operator," ungkapnya.
Baca Juga: Buku Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Ala Guru Kulon Progo, Usung Lokalitas dan Budaya
Di tengah proses itu, Wendy menyampaikan manajemen PSIM tetap membuka opsi Stadion Mandala Krida sebagai alternatif.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi jika salah satu stadion belum sepenuhnya memenuhi standar saat verifikasi.
"Sampai saat ini kita masih buka opsi SSA dan juga Stadion Mandala Krida. Kita lihat nanti status Mandala Krida seperti apa," ujarnya.
Dengan sisa kompetisi yang masih menyisakan tujuh pekan, PSIM kini bukan hanya dituntut konsisten di lapangan, tetapi juga efektif dalam manajemen waktu dan eksekusi proyek.
Sebab, keberhasilan musim depan tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan, tetapi juga kesiapan klub memenuhi standar profesional yang ditetapkan liga.
Menariknya, seluruh elemen utama seperti lampu dan single seat merupakan aset milik PSIM.
Hal ini memberi fleksibilitas bagi klub untuk memindahkan infrastruktur jika nantinya memutuskan berpindah homebase.
"Semua itu materinya PSIM. Jadi kalau Mandala Krida sudah layak, kita bisa pindahkan dan kita akan pindah secepatnya," tegas Wendy. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun