JOGJA - Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno membeberkan pendekatan kepemimpinan yang ia terapkan dalam mengelola klub. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan peran antara manajemen dan tim pelatih demi menciptakan ekosistem yang harmonis.
Perempuan yang kerap disapa Ci Liana itu mengungkapkan, komunikasi dan pendekatan yang ia gunakan tidak bersifat tunggal. Ia secara tegas membedakan cara berinteraksi dengan manajemen dan dengan first team atau jajaran tim senior PSIM Jogja.
"Harus diakui beda banget, beda. Aku kalau komunikasi ke manajemen malah lebih galak dan tegas," ujarnya, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Tidak Bergantung Duet, Franco Ramos Mingo Sebut Sistem Jadi Kunci Solidnya Lini Belakang PSIM Jogja
Sebaliknya, ketika berhadapan dengan tim utama, ia memilih pendekatan yang lebih adaptif dan tidak terlalu langsung. Hal ini karena ia menyadari adanya struktur hierarki yang harus dihormati, terutama peran pelatih kepala sebagai pemegang otoritas teknis tertinggi dalam tim.
"Kalau first team justru aku enggak terlalu frontal atau konfrontatif, enggak direct galak. Karena menurutku first team itu bos-nya head coach," jelasnya.
Dalam struktur kerja di PSIM, Liana menempatkan peran manajer tim sebagai penghubung antara pelatih dan manajemen. Ia menilai, segala urusan teknis, termasuk performa pemain hingga dinamika di ruang ganti, merupakan tanggung jawab pelatih kepala.
"Manajer atau dalam hal ini Razzi, itu menjembatani antara head coach dengan manajemen. Jadi bosnya di sana head coach. Kalau ada yang performanya kurang, atau ada masalah pribadi pemain, itu ranah pelatih," tambahnya.
Lebih jauh Liana juga mengungkapkan bagaimana pandangannya terkait gaya kepemimpinan di dunia sepak bola. Termasuk perbandingan pendekatan yang kerap ia lihat dan pelajari dari pemimpin lain.
Ia mengakui tidak memilih gaya yang terlalu frontal atau terlibat langsung dalam aspek teknis tim. Baginya, intervensi berlebihan justru berpotensi merusak sistem yang sudah dibangun oleh pelatih.
"Saya enggak terlalu berani frontal. Saya lihat Presdir lain itu involved, berani nyebur. Mungkin karena laki-laki ya mereka lebih berani direct," ungkapnya.
Ia pun mengibaratkan peran pelatih sebagai seorang koki yang telah memiliki resep dan takaran sendiri dalam meracik tim. Dalam konteks tersebut, ia memilih untuk tidak mengganggu proses yang sudah berjalan.
Pendekatan itu, menurutnya, merupakan bagian dari upaya menjaga ekosistem klub agar tetap harmonis, dengan setiap elemen menjalankan perannya masing-masing secara optimal dan saling mendukung.
"Ini kan sudah ada chef-nya. Dia sudah tahu takaran tepung, gula, semuanya. Kalau saya masuk lalu marah-marah dan ubah, saya takut malah jadi berantakan," ujarnya, menganalogikan. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun