JOGJA - PSIM Jogja kini tengah dihadapkan pada ketatnya jadwal kompetisi. Selain itu juga penyesuaian waktu bermain yang lebih malam, yakni pukul 20:30 selama bulan Ramadan.
Pada pekan 22 BRI Super League 2025/2026, PSIM bermain pada 23 Februari 2026 melawan Bali United, hanya berselang empat hari atau 27 Februari di pekan 23 kembali bermain melawan PSBS Biak. Tidak sampai seminggu kemudian kembali bermain di tanggal 4 Maret 2026 ke markas Semen Padang FC pada pekan 24.
Menyoroti situasi itu, Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel menekankan pentingnya menjaga stabilitas para pemain di tengah jadwal kompetisi yang padat. Bagi pelatih asal Belanda itu, soliditas di setiap sektor sangat penting untuk diperhatikan, bukan hanya ditentukan oleh komposisi pemain, tetapi juga manajemen kondisi fisik agar performa tetap konsisten sepanjang laga.
Salah satunya di sektor pertahanan. Van Gastel menyebut, membangun pertahanan yang stabil membutuhkan keseimbangan antara aspek taktik dan kesiapan fisik individu. Terlebih, beberapa pemain baru saja kembali dari cedera atau belum sepenuhnya mendapatkan menit bermain reguler selama 90 menit.
"Kami harus menjaga stabilitas. Bukan hanya soal siapa yang bermain, tetapi bagaimana mereka siap secara fisik dan bisa konsisten sepanjang pertandingan," ujar Van Gastel, Jumat (27/2).
Ia mengakui, memainkan pemain selama satu pertandingan penuh tetap memiliki risiko. Terutama bagi mereka yang baru kembali merumput setelah cukup lama absen.
"Kadang ada sedikit rasa sakit yang wajar setelah lama tidak bermain. Kami memang mengambil risiko saat memainkannya 90 menit, tapi itu bagian dari proses. Kami harus mengelolanya dengan hati-hati," jelasnya.
Menurutnya, keputusan memainkan seorang pemain sejak menit awal selalu melalui pertimbangan matang bersama tim medis dan staf pelatih. Evaluasi dilakukan tidak hanya sebelum laga, tetapi juga setelah pertandingan untuk memantau respons fisik pemain.
"Karena kami tidak bisa melakukan laga uji coba, ini agak sulit bagi pemain untuk langsung kembali ke ritme 90 menit. Jadi kami harus pintar mengatur beban dan melihat respons tubuh mereka setelah pertandingan," katanya.
Selain itu, Van Gastel menegaskan, musim yang masih panjang membuatnya tidak ingin mengambil risiko berlebihan hanya demi hasil jangka pendek. Ia menilai keberlanjutan performa tim lebih penting agar kompetisi dapat dilalui dengan konsisten.
Pendekatan itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga organisasi pertahanan tetap solid. Stabilitas, menurut Van Gastel, akan terbentuk jika pemain memiliki kondisi fisik prima, komunikasi yang baik, dan pemahaman taktik yang konsisten.
Dengan manajemen risiko yang terukur, ia berharap para pemain PSIM mampu tampil disiplin, sekaligus menjaga daya tahan pemain hingga akhir musim.
"Kami tidak ingin mengambil risiko yang tidak perlu. Musim masih berjalan dan kami butuh semua pemain dalam kondisi terbaik," tegasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun