RADAR JOGJA - Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko adalah tiga negara yang bersama-sama akan menjadi tuan rumah dalam kompetisi paling bergengsi di sepak bola, yakni FIFA World Cup yang akan digelar bulan Juni-Juli 2026 mendatang.
Tetapi, akhir-akhir ini banyak pihak yang mulai menyuarakan keresahannya tentang Amerika Serikat yang seharusnya tidak pantas untuk menjadi tuan rumah dalam kompetisi sebesar FIFA World Cup ini.
Dilansir dari The Guardian, berbagai situasi kekerasan aparat federal yang sedang terjadi di Amerika Serikat saat ini mengancam keamanan, keadilan, dan kebebasan sipil ini menimbulkan keraguan banyak pihak dalam penyelenggaraan FIFA World Cup 2026 di Amerika Serikat.
Kebrutalan aparat federal Immigration and Customs Enforcement (ICE) semakin memburuk dengan catatan 32 kematian warga sipil dalam penahanan sepanjang 2025.
penahanan massal warga sipil tanpa catatan kriminal ini menargetkan wilayah metropolitan yang ironisnya mencakup 10 dari 11 kota tuan rumah FIFA World Cup 2026.
Belum lagi konflik politik internasional yang tak berkesudahan, dimana Amerika Serikat terus melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi melanggar hukum internasional, seperti menculik pemimpin negara lain hingga mengancam negara sekutu dengan ancaman militer karena merebutkan suatu wilayah.
Hal ini menjadi perhatian serius banyak pihak yang mulai memboikot status tuan rumah Amerika Serikat dalam gelaran FIFA World Cup 2026 ini.
Namun, pencabutan status Amerika Serikat sebagai tuan rumah justru dipandang akan memicu berbagai macam masalah kerugian dari sisi keuangan, logistik, hingga politik dalam skala internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dunia olahraga.
Seruan Boikot dari Tokoh Sepak Bola Dunia
Dukungan untuk memboikot turnamen ini datang dari figur berpengaruh dalam sepak bola.
Dilansir dari ESPN, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter secara terbuka mendukung seruan agar para fans sepak bola "menjauh" dari setiap pertandingan Piala Dunia di Amerika Serikat.
Sepp Blatter mendukung peringatan yang dikeluarkan oleh Mark Pieth, seorang pengacara anti korupsi asal Swiss.
Melalui akun media sosial X, Sepp Blatter setuju dengan pernyataan dari Mark Pieth.
“Saya pikir Mark Pieth benar untuk mempertanyakan Piala Dunia ini,” tulis Sepp Blatter, dikutip dari ESPN.com, Rabu (28/1/2026).
Sebelumnya, Mark Pieth memberikan saran tegas kepada para fans sepak bola terkait risiko menonton FIFA World Cup 2026 di Amerika Serikat.
"Jika mempertimbangkan semua yang telah kita bahas, hanya ada satu saran untuk para penggemar: Jauhi Amerika Serikat! Anda akan melihatnya lebih baik di TV," ujar Mark Pieth.
Mark Pieth menambahkan tentang kritiknya pada keamanan dan perlakuan aparat di Amerika Serikat.
“Dan setibanya di sana, penggemar harus bersiap bahwa jika mereka tidak menyenangkan petugas, mereka akan langsung dipulangkan dengan penerbangan berikutnya. Itu pun jika mereka beruntung,” kata Mark Pieth.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Oke Göttlich, Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman.
Menurutnya, sudah saatnya mempertimbangkan aksi boikot karena situasi yang terjadi di Amerika Serikat
Ia membandingkan situasi Amerika Serikat saat ini dengan boikot event Olimpiade tahun 1980 di era Perang Dingin dan menyebut bahwa ancaman di Amerika Serikat saat ini justru lebih besar daripada tahun 1980-an.
"Apa pembenaran untuk boikot Olimpiade pada tahun 1980-an? Menurut perhitungan saya, potensi ancamannya lebih besar sekarang daripada saat itu. Kita perlu mendiskusikan ini," ujar Oke Göttlich.
Dampak Finansial dan Risiko Kebangkrutan FIFA
Jika boikot benar-benar terjadi, dampaknya terhadap ekonomi sepak bola akan sangat fatal.
Melansir laporan Sport Bible, pakar keuangan sepak bola, Rob Wilson menganalisis bahwa boikot dari negara besar, terutama negara dari Amerika Selatan akan menimbulkan kerugian tak terhingga.
Jika negara seperti Brasil dan juara bertahan Argentina mundur, negara lain di benua tersebut kemungkinan besar akan mengikuti langkah mereka.
Hilangnya tim-tim besar ini akan menjadi pukulan telak bagi kompetisi FIFA World Cup 2026.
Rob Wilson memperkirakan potensi kerugian pendapatan bisa mencapai $2 miliar (sekitar Rp30 triliun).
Dari sisi penyiaran, kerugian diperkirakan antara $700 juta hingga $1 miliar, belum termasuk kerugian dari sisi pemasaran.
Lebih lanjut, Rob Wilson memperingatkan bahwa upaya memindahkan lokasi event FIFA World Cup 2026 saat ini hampir mustahil dilakukan karena alasan kontrak dan logistik.
Biaya untuk memindahkan turnamen secara paksa diprediksi bisa melebihi $7 miliar (sekitar Rp117 Triliun).
Langkah relokasi atau pembatalan berisiko membangkrutkan FIFA karena potensi tuntutan hukum dari penyiar, sponsor, serta fans.
Rob Wilson menyebut skenario jika benar-benar dibatalkan, ini bisa memicu gugatan class action terbesar dalam sejarah.
Situasi ini menempatkan FIFA dalam posisi yang sangat sulit, dimana memaksakan berjalannya turnamen FIFA World Cup 2026 di Amerika Serikat tetap berjalan berisiko pada keselamatan pemain dan fans, sementara memindahkannya berpotensi menghancurkan fondasi finansial badan sepak bola dunia tersebut. (Aqbil Faza Maulana)
Editor : Meitika Candra Lantiva