JOGJA - Keputusan manajemen PSIM Jogja untuk mempensiunkan nomor punggung 91 yang sebelumnya dikenakan Rafael de Sa Rodrigues atau Rafinha menuai beragam reaksi.
Kebijakan itu memicu pro dan kontra, termasuk bagi suporter Laskar Mataram, terutama karena Rafinha sendiri belum pensiun sebagai pemain profesional dan saat ini masih aktif membela PSIS Semarang dengan nomor punggung yang sama.
Sebagian pendukung menilai Rafinha memang layak mendapatkan penghormatan khusus. Penyerang asal Brasil itu menjadi figur sentral dalam keberhasilan PSIM Jogja promosi dari Pegadaian Liga 2 2024/2025 ke BRI Super League 2025/2026.
Musim lalu, Rafinha tampil impresif dengan mencetak 20 gol dan dinobatkan sebagai pemain terbaik kompetisi.
Namun, tak sedikit pula yang mempertanyakan urgensi mempensiunkan nomor punggung pemain yang masih aktif, terlebih setelah Rafinha resmi dilepas PSIM pada paruh musim Super League dan bergabung dengan PSIS.
Menanggapi polemik itu, manajemen PSIM akhirnya angkat bicara. Manajer PSIM Razzi Taruna mengungkapkan, klub memang belum sempat memberi penjelasan secara terbuka kepada publik saat pengumuman perpisahan dengan Rafinha.
Ia menyebut, padatnya agenda klub kala itu membuat penjelasan terkait kebijakan pensiunnya nomor punggung 91 belum tersampaikan secara menyeluruh.
Razzi menegaskan, keputusan itu bukan diambil tanpa pertimbangan. Ia mencontohkan praktik serupa yang pernah terjadi di sepak bola internasional, salah satunya dilakukan Birmingham City saat mempensiunkan nomor punggung Jude Bellingham.
Birmingham City mempensiunkan nomor punggung 22 yang dikenakan Jude Bellingham setelah sang pemain pindah ke Borussia Dortmund di musim 2020.
Kebijakan itu diambil sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi dan perjalanan Bellingham yang merupakan produk akademi klub, debutan termuda, sekaligus nilai transfernya yang berdampak signifikan bagi Birmingham City, meski saat itu sang pemain masih aktif berkarier.
"Secara kasus atau konteks mungkin tidak sama, tapi impact-nya terhadap klub kurang lebih menurut saya sama pentingnya," kata Razzi, Minggu (18/1/2026).
Baca Juga: Persiba Bantul Gagal Maksimalkan Momentum, Berbagi Angka tanpa Gol Melawan Gresik United
Menurutnya, kontribusi Rafinha bagi PSIM tidak hanya besar tetapi juga sangat menentukan. Setelah 18 tahun berkutat di kasta kedua sepak bola nasional, PSIM akhirnya kembali promosi ke Liga 1 berkat peran vital Rafinha di lini depan.
"Tanpa peran Rafinha, mungkin kita tidak akan ada di situasi dan kondisi seperti sekarang ini," ungkapnya.
Secara gamblang, Razzi juga mengungkapkan PSIM ke depannya tidak akan lagi menemukan pemain seperti Rafinha lagi.
"Saya sendiri yakin 1.000 persen tidak akan menemukan Rafinha kedua. Kita tidak bicara soal kualitas semata, tapi juga sosok, peran, dan termasuk hal-hal yang dilakukan dengan suporter," bebernya.
Kedekatan Rafinha dengan suporter juga menjadi salah satu pertimbangan utama. Sejumlah aksi ikoniknya, mulai dari selebrasi gol, interaksi langsung dengan pendukung, hingga kemampuannya membangun atmosfer positif di ruang publik, membuat Rafinha dinilai sebagai figur yang melekat kuat di hati suporter Laskar Mataram.
"Jadi mempensiunkan nomor punggung ini salah satu bentuk dari rasa terima kasih ke Rafinha juga," jelas Razzi. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun