Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Direktur Teknik EPA PSIM Jogja Andhika Mulia Pratama Kunjungi Spanyol, Ungkap Pentingnya Struktur Akademi yang Rapi dan Terarah 

Fahmi Fahriza • Selasa, 9 Desember 2025 | 04:40 WIB

BANYAK PELAJARAN: Direktur Teknik EPA PSIM Jogja Andhika Mulia Pratama  saat melakukan kunjungan ke Spanyol.
BANYAK PELAJARAN: Direktur Teknik EPA PSIM Jogja Andhika Mulia Pratama  saat melakukan kunjungan ke Spanyol.
JOGJA - Operator kompetisi ILeague kembali membuka ruang pembelajaran bagi klub Elite Pro Academy (EPA) dengan menggelar program kunjungan intensif ke Barcelona, Spanyol.

Selama dua pekan, para direktur akademi diberi kesempatan menimba pengetahuan langsung di klub-klub yang telah lama dikenal memiliki kultur pembinaan kuat.

Direktur Teknik EPA PSIM Jogja Andhika Mulia Pratama menjadi salah satu peserta yang turut serta. Dalam agenda itu, ia mendalami dua model pembinaan berbeda.

Mulai akademi sederhana CF Can Vidalet hingga klub mapan penghuni kompetisi elite Spanyol, Villarreal CF.

Andhika menyebut pengalaman itu membuka pandangannya tentang bagaimana sebuah klub dapat bertahan dan tumbuh bukan hanya dari fasilitas megah, tetapi dari manajemen manusia yang tertata.

Di Barcelona, Andhika justru dibuat kagum oleh CF Can Vidalet, klub akar rumput yang terletak di wilayah dengan tingkat ekonomi paling rendah di kota itu.

Meski hidup dalam keterbatasan, akademi ini mampu bersaing berkat struktur organisasi yang rapi dan filosofi pembinaan yang jelas.

"Kami berkunjung ke akademi Can Vidalet, akademi di Barcelona yang tingkat ekonominya paling rendah. Namun mereka memiliki struktur organisasi yang sangat rapi," ungkap Andhika, Senin (8/12/2025).

Baginya, pelajaran paling penting yang dibawa pulang adalah orientasi pembinaan Spanyol yang menempatkan pelatih sebagai pondasi utama.

Evaluasi performa bukan hanya diarahkan kepada pemain, tetapi justru lebih banyak ditujukan kepada para pelatih untuk memastikan kualitas pendidikan sepak bola terus meningkat.

"Di Can Vidalet, pengembangannya tidak ke pemain, tapi ke staf pelatih. Misal dalam pertandingan ada kekurangan, ya kita (pemain) langsung tanya jawab dan evaluasi ke pelatihnya," lanjutnya.

Pendekatan itu menciptakan ekosistem yang sehat, di mana kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemahaman sepak bola yang benar ditempatkan sebagai prioritas utama, baik bagi pelatih maupun pemain.

Baca Juga: Persiba Bantul Keok dengan 10 Pemain Gresik United

"Prinsip mereka, kalau pelatihnya bagus dan paham, otomatis pemainnya pasti bagus. Tapi kalau hanya pemainnya yang bagus, tetapi diberi pelatih yang kurang kompeten, ya tidak mungkin timnya menjadi bagus," tegas Andhika.

Selanjutnya, ketika berpindah ke Villarreal, Andhika mendapatkan perspektif berbeda tentang bagaimana sebuah klub modern dapat bertahan hidup di tengah kompetisi ketat.

Kota Villarreal sendiri hanya dihuni sekitar 50 ribu jiwa, sebuah kondisi yang membuat klub tidak memiliki kekuatan finansial besar sebagaimana klub-klub raksasa La Liga lainnya.

"Mereka mengakui timnya tidak punya banyak uang karena kota mereka itu kota kecil. Makanya sempat dibilang kota ini sebagai kota sunyi," ujar Andhika.

Meski demikian, Villarreal mampu bertahan konsisten di level tertinggi karena menjadikan akademi sebagai jantung klub. Mereka fokus mencetak pemain dengan nilai jual tinggi untuk menjaga stabilitas finansial.

"Jawabannya realistis. Selama masih bisa menjual pemain hasil binaan akademi, tim ini tidak akan degradasi," kata Andhika menirukan prinsip pengelola akademi Villarreal.

Dari dua karakter berbeda yang ia temui, Andhika menyimpulkan penerapan teknologi canggih mungkin membutuhkan investasi besar.

Namun peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama pelatih, adalah hal yang dapat dilakukan segera.

"Hal pertama yang mungkin bisa saya terapkan di sini adalah develop pelatih. Karena kunci utamanya ada di pelatih," tuturnya.

Ia berharap pengalaman yang ia bawa dari Spanyol ini menjadi pijakan bagi perkembangan Laskar Mataram Muda dalam membangun ekosistem pembinaan yang lebih kuat, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan sepak bola modern. (iza/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Can Vidalet #Laskar Mataram Muda #organisasi #villarreal #Villarreal CF #EPA #elite pro academy #elite #EPA PSIM #barcelona #Andhika Mulia Pratama