Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jeda Kompetisi Cukup Panjang, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Sesalkan Tidak Ada Kompetisi Domestik

Fahmi Fahriza • Selasa, 2 Desember 2025 | 04:59 WIB

 

LIBUR LAMA: Suasana Stadion Sultan Agung saat pertandingan PSIM Jogja menjamu Persik Kediri, Bantul, Jumat (31/10/202) . Lamanya jeda kompetisi disesalkan karena tidak dibarengi adanya kompetisi.
LIBUR LAMA: Suasana Stadion Sultan Agung saat pertandingan PSIM Jogja menjamu Persik Kediri, Bantul, Jumat (31/10/202) . Lamanya jeda kompetisi disesalkan karena tidak dibarengi adanya kompetisi.

JOGJA - Kompetisi BRI Super League 2025/2026 kini tengah memasuki masa jeda, transisi dari pekan 14 ke pekan 15.

Pekan 15 sendiri baru dijadwalkan berlangsung pada minggu ketiga Desember mendatang. Jeda ini sengaja dilakukan menyusul gelaran SEA Games 2025 di Thailand yang digelar 9-20 Desember 2025.

Dengan tidak adanya kompetisi domestik lain di Indonesia selama jeda tersebut, para tim dan pemain praktis mendapatkan waktu istirahat hampir satu bulan penuh.

Namun bagi Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel, jeda panjang tanpa turnamen seperti ini justru menunjukkan kelemahan struktur kompetisi domestik saat ini.

Menurut Van Gastel, tidak adanya piala atau kompetisi domestik, menjadi kerugian besar bagi perkembangan sepak bola nasional.

Menurutnya, format turnamen, dibanding sekadar liga reguler, bisa memberikan dinamika berbeda dan membuka peluang bagi tim-tim kecil dari kasta bawah untuk menantang klub-klub besar.

"Bermain untuk turnamen itu menyenangkan. Kompetisi turnamen juga bisa memberi hadiah tambahan di luar liga,"  ujarnya (1/12/2025).

Van Gastel menambahkan, pertandingan lintas divisi sering kali menghadirkan kejutan tak terduga sekaligus pengalaman berharga. Terutama bagi klub kecil yang berkesempatan menjamu tim besar.

"Kalau ada turnamen yang melibatkan tim Liga 2 dan Liga 3, itu bisa menjadi sesuatu yang menarik. Terkadang itu bisa menciptakan hasil yang mengejutkan," lanjutnya.

Ia mencontohkan skenario di mana klub sebesar Persib Bandung bisa bertandang ke markas tim Liga 3. Situasi seperti itu tidak hanya memberi tantangan olahraga, tetapi juga memberi semangat dan antusiasme bagi komunitas sepak bola lokal.

Bagi Van Gastel, keberadaan turnamen domestik seperti itu bukan sekadar soal memberi padat jadwal. Melainkan soal menjaga keragaman kompetisi, memberi ruang bagi klub kecil, dan menjaga semangat sepak bola di seluruh pelosok Indonesia.

Turnamen piala nasional di Indonesia yang paling signifikan adalah Piala Indonesia. Turnamen yang mempertemukan klub dari semua kasta, yakni Liga 1, Liga 2, serta Liga 3.

Piala Indonesia pertama kali digelar pada 2005 (saat itu dikenal dengan nama “Copa Dji Sam Soe Indonesia” karena alasan sponsor), dan sempat rutin berjalan sampai awal 2010-an.

Namun karena berbagai masalah, termasuk dualisme organisasi dan sanksi internasional terhadap federasi nasional, Piala Indonesia sempat vakum selama beberapa tahun.

Setelah vakum, Piala Indonesia sempat kembali digelar pada musim 2018–2019. Juara edisi terakhir itu (2018/2019) adalah PSM Makassar, yang mengalahkan Persija Jakarta dengan agregat 2–1. Sejak itu, turnamen piala domestik seperti Piala Indonesia belum lagi dilakukan. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#BRI Super League 2025 #SEA Games 2025 Thailand #Van Gastel #PSIM #Sport #SEA Games 2025 #Olahraga