JOGJA - Klub kebanggaan publik Sleman, PSS kembali menuai badai sanksi disiplin dari operator Pegadaian Championship 2025/2026. Hukuman dijatuhkan menyusul insiden panas dalam pertandingan tandang melawan Barito Putera FC di Stadion Demang Lehman, Banjarmasin, Sabtu (8/11) lalu.
Dalam kasus kali ini, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bergerak cepat dengan menargetkan dua figur penting di PSS yang saat ini duduk di bangku cadangan. Kedua sosok itu adalah Pelatih Fisik Demerson Bruno Costa dan Direktur Teknis Pieter Huistra. Keduanya resmi dinyatakan terbukti melakukan tindakan tidak sportif terhadap perangkat pertandingan.
Keputusan yang diberikan Komdis PSSI kepada PSS itu terbilang sangat tegas. Sebab kedua ofisial tersebut dijatuhi hukuman ganda. Pertama, kedua ofisial baik Demerson maupun Pieter Huistra dilarang berada di bench selama empat pertandingan ke depan setelah melawan Barito Putera FC lalu itu.
Selain itu, masing-masing juga dikenai denda Rp 25 juta. Dengan demikian, PSS Sleman harus menanggung kerugian finansial total Rp 50 juta.
Sanksi itu jelas menjadi pukulan telak bagi PSS, terutama karena menambah panjang daftar hukuman yang diterima tim kebanggaan masyarakat Sleman di musim ini, khususnya dari pertandingan tandang.
Executive Representative PSS Sleman Vita Subiyakti membenarkan kedua sosok penting itu telah mendapatkan hukuman dari Komdis PSSI. Namun pihak manajemen tetap tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.
Pihak manajemen juga memilih bersikap meredam dan meminta dukungan positif dari suporter. Mengingat banyak sekali suporter PSS yang mempertanyakan masalah itu.
"PSS Sleman Fans kami sangat menghargai kepedulian teman-teman yang begitu besar. Mari bersama menghormati keputusan Komdis PSSI," katanya Senin (1/12).
Tak hanya itu, Vita juga meminta para suporter agar tetap fokus dalam mendukung timnya saat berlaga nanti. Sehingga harapannya PSS bisa terus memenangkan pertandingan.
"Fokus pada perjalanan penting ke depan. Dukungan positif teman-teman menjadi bagian terpenting dalam perjuangan ini," cetusnya. (ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita